KISAH DI BALIK PRODUKSI AYAT-AYAT CINTA (bag.Akhir)
Shooting di Jakarta sudah selesai. Aku puas dengan kerja tim AAC yang
solid. Sekalipun berat, tetap commit untuk menyelesaikan film ini
apapun hambatannya. Padahal secara legal, kontrak crew sudah
habis 1 bulan sebelumnya. Artinya, mereka bekerja tanpa ikatan kontrak
lagi. Ini yang membuat aku terharu atas commitment mereka. Terlebih
lagi, banyak diantara mereka non-muslim. Tapi tidak satupun dari
mereka yang mengkaitkan keyakinan itu dengan kualitas kerja mereka.
Sebagaimana sudah direncanakan sebelumnya, meski Allan bisa menyulap
Semarang dan Jakarta jadi kairo. Secara geografis, tidak akan tergambar
jika tidak ada shooting di Kairo. Awalnya producer sudah puas dengan
hasil shooting di Indonesia tanpa perlu shooting di Kairo. Saya sangat
keberatan.
Sebenarnya, dari hasil sisa adegan yang belum
diambil, hanya membutuhkan waktu 5 hari saja shooting di kairo.
Akhirnya producer mengerti dan menjalin hubungan dengan local
production lain di kairo. Local producer itu sering menangani film-film
asing yang shooting di Cairo. Sebuah perusahaan yang juga berpengalaman
d bidang produksi film. Setelah melihat konsep film AAC, dia menawarkan
harga untuk shooting disana selama 5 hari. Jumlah yang diajukan sebesar
3 Milyar untuk shooting 5 hari. Nilai yang bahkan di Indonesia bisa
membuat satu film.
‘Angka yang tidak masuk akal’ kata producerku.
Aku
sepakat dengan producerku, meski aku tahu konsekwensi membuat film
sesuai dengan novel Kang Abik memang berbujet besar. Tapi aku tetap
tidak percaya degan penawaran itu. Setelah kita cek quote yang
diajukan, aku melihat item-item yang tidak rasional. Misalnya, makan
per orang dia budjet kan 100 US$ sehari. Padahal pada saat riset di
sana, aku bisa makan dengan 25 ribu sehari. Bujet penawaran itu tidak
bisa ditawar kecuali kita mengurangi jumlah hari dan kru. Negosiasi
tertutup.
Kemudian muncul gagasan shooting di India dari salah
seorang staf perusahaan MD yang orang India. Dia berjanji bisa
menyediakan lokasi yang kita butuhkan mirip Cairo. Semula aku ragu,
tapi setelah ditunjukkan foto-foto lokasi di India, saya jadi yakin.
Dalam foto itu tergambat Sungai Nil, sudut kota kairo, Taman Al azhar
University, Padang Pasir lengkap dengan unta-unta dan kafilah. Hanya
pyramid saja yang tidak ada. Tapi itu bisa dibuat di studio menggunakan
Computer Graphics Imagery (CGI) yang lebih dikenal dengan special effect.
Disaat persiapan menuju India, tercetus ide untuk tetap bisa shooting
di Kairo dengan dibarengi workshop film buat mahasiswa Indonesia-Al
Azhar. Lalu aku menghubungi PCIM (Pimpinan Cabang Islam Muhammadiyah).
Mereka setuju dengan ideku. Kita bahkan dibantu KBRI. Di Kairo, aku dan
PCIM berencana menggelar workshop dengan peserta anggota PCIM (mereka
adalah mahasiswa Indonesia yang sekolah di Azhar Univ yang menjadi
anggota Muhammadiyah) dan akan Shooting mengambil suasana kota dengan
kamera kecil bersama dengan mahasiswa peserta workshop tersebut.
Biasanya, kegiatan yang mengatasnamakan mahasiswa tidak perlu ijin
berbelit-belit. Maka segala sesuatu dipersiapkan. Dari Jakarta, tim
yang berangkat ke India 20 orang termasuk pemain, tetapi 6 diantaranya
berangkat duluan ke Kairo selama 4 hari. 6 orang tersebut adalah, Fedi
Nuril, Faozan Rizal (Kamera), Kasnan (Asisten Kamera), seorang pengawal
alat, Adi molana (tata suara) dan aku.
Producer setuju dengan
rencana tersebut. Tapi ditengah persiapan itu, muncul kendala di
pengurusan Visa. Karena hari shooting di India dan Kairo berurutan,
membuat pengurusan visa tarik-tarikan antara keduanya. Waktu kita hanya
1 minggu sebelum keberangkatan shooting, sementara mengurus Visa di
India membutuhkan waktu 4 sampai 5 hari karena jumlah orang yang akan
berangkat banyak. Begitupun mengurus Visa Kairo. Akhirnya aku minta
tolong pihak PCIM dengan bantuan KBRI menguruskan visa on arrival.
KBRI setuju dan sudah menghubungi pihak emigrasi cairo bahwa akan
datang tim dari Indonesia berjumlah 6 orang untuk workshop. Kamipun
senang dengan kabar tersebut. Terbayang eksotisnya kota kairo,
kios-kiosnya, menara-menara masjid yang menjulang, jalan raya yang
macet, kampung- el giza. Bahkan pihak KBRI bisa menyediakan fasilitas
khusus masuk kawasan pyramid dengan bebas. Rasa optimisku bangkit lagi.
Akhirnya … aku bisa shooting di Kairo …
Tapi, lagi-lagi semua
itu cuma mimpi. Sesampainya di bagian Check In Bandara Sukarno-Hatta,
aku dan 5 kru lainnya tidak boleh berangkat. Waktu itu kami berencana
terbang ke Kairo dengan Sinagpore Airlines (SQ). Pihak SQ tidak bisa
memberangkatkan kami dengan alasan tidak ada visa. Aku menjelaskan,
bahwa kita dapat fasilitas Visa on Arrival
dari KBRI Cairo. Mereka minta bukti tertulis dari pihak KBRI sebagai
pegangan. Aku tunjukkan undangan dari PCIM untuk workshop atas nama
Muhammadiyah ke pihak SQ. Mereka tidak mau terima. Yang mereka minta
adalah surat tertulis yang menjamin 6 orang yang diterbangkan SQ bisa
diterima di Kairo. Itu tanggungjawab Airlines atas keselamatan
penumpang. Aku segera telpon pihak PCIM untuk menghubungi KBRI.
Ternyata hari itu kantor KBRI libur. Sekalipun bisa terhubung secara
pribadi dengan bagian konsulat KBRI, tapi untuk urusan administrasi
harus melalui kantor. Akhirnya, kami tidak jadi berangkat. Kamera yang
sudah kita sewa, tiket yang sudah kita beli dan segala harapan untuk
bisa shooting di Kairo buyar … Dada ini terasa sakit sekali. Dalam
perjalanan meninggalkan bandara Soekarno-Hatta, tanpa sadar, air mataku
meleleh lagi. Ya Alloh, Apakah aku terlalu kotor memproduksi film ini, maka kau berikan hambatan buatku untuk yang terbaik?
Tidak ada harapan lagi kecuali shooting ke India saja. Untuk saat ini,
sebuah kemewahan bisa membayangkan film ini sesuai dengan harapan Kang
Abik dan pembaca fanatik AAC. Yang bisa aku lakukan hanyalah
menyelesaikan film ini semaksimal yang aku bisa.
Pesawat
Malaysia Airlines take off dari Jakarta membawa 20 Kru dan pemain AAC
beserta dua kopor berisi Kostum pemain, 3 kopor berisi property
keperluan Artistik dan dua kopor lain berisi bahan baku film 35mm serta
kabel-kabel. Kira-kira 8 jam perjalanan, kami mendarat di Banglore
untuk transit. Saat itu malam hari. Udara agak dingin. Pesawat yang
membawa kita ke Bombay baru besok pagi sekitar jam 10 take off dari
bandara. Menurut travel agent di Jakarta, di Banglore kita disediakan
penginapan. Tetapi kenyataannya bukan penginapan sebagaimana layaknya
sebuah hotel transit di bandara international. Kita disediakan satu
apartement dengan 6 kamar. Padahal kami berjumlah 20 orang dimana tidak
semuanya laki-laki. Kopor kami juga banyak. Tidak layak buat kami untuk
menempati satu apartement. Malam itu sudah jam 12 malam. Pihak
administrasi apartement sudah tutup untuk meminta tambahan satu
apartement lagi. Kami kebingungan sendiri. Setelah beberapa lama
terkatung-katung, salah seorang pembantu apartement lain menawari bisa
memakai apartementnya kalau cuma buat semalam, karena pemiliknya sedang
keluar kota. Akhirnya kami patungan menyewanya. Apartement itu untuk
crew dan pemain perempuan. Aku bersama crew laki-laki lainnya saling
tumpang tindih di apartement satunya. Aku dan Rajish (Make up artist)
tidur di sofa depan. Faozan Rizal dan tim kamera tumpuk-tumpukan satu
kamar. Fedi, Oka dan Iqbal tidur satu ranjang bertiga. Lainnya tidur
sekenanya.
Tepat jam 11 siang kami meninggalkan Banglore
menuju Bombay. Kami sudah dijemput sebuah bis yang akan membawa kami 15
jam menuju Jodhpur. Bayangan kami, Jodhpur adalah kota kecil yang tidak
ada bandaranya disana. Tapi ternyata Jodhpur adalah kota wisata. Banyak
turis eropa-Amerika datang kesana menggunakan pesawat, apalagi di
bulan-bulan November. Bandaranya-pun lebih bagus dari Halim
Perdanakusuma. Jadi penggunaan bis semata-mata buat ngirit bujet
produksi, mengingat harga tiket Bombay-Jodhpur di bulan-bulan libur
naik. Kami cuma menghela nafas. 15 jam perjalanan, bayangan kami,
seperti perjalanan Jakarta Surabaya. Tidak apalah, aku bisa istirahat
di bis, pikirku.
Setelah keluar dari bandara Bombay dengan
tumpukan kopor-kopor, kami melihat bis yang disediakan kami kecil.
Warnanya kuning. Bis tersebut bukan selayaknya kendaraan tempuh
Jakarta-Surabaya. Bis itu seperti bis Jakarta-Sukabumi yang diberi AC.
Tempat duduknya sempit hanya memuat 20 orang saja. Sedangkan
kopor-kopor kami banyak. Aku komplain dengan orang india (staff MD)
yang mengurusi kami disana. Dia bilang, bis ini disediakan berdasarkan
bujet dari producer. Kami tetap tidak mau naik. Aku melihat wajah
teman-teman kusut. Tika (line producer AAC) marah dan meminta local
unit menyediakan tiket pesawat. Sayangnya, tiket pesawat ke jodhpur
habis sampai 3 hari kedepan. Setelah berdebat lama, akhirnya kami
disediakan satu mobil kijang khusus untuk kopor-kopor. Allan menyertai
kopor-kopor itu di mobil Kijang. Yang lainnya naik bis. Fedi yang
berkaki panjang menduduki bagian belakang tepat di selasar tengah bis
diapit Rianti, Prita (Pencatat Script), dan Clarissa. Ditengah diisi
Oka, Pao, Tarmiji, Kasnan (tim kamera), Adi molana dan pak Rajish. Di
depan ada Aku, Retno Damayanti (kostum), mbak Tia (asisten Retno) dan
Tika. Seorang supir bernama Ganesh membawa kami membelah negeri India
melintasi Gujarat. Sebuah perjalanan panjang dan melelahkan terbayang …
Perjalanan Bombay-Jodhpur mirip seperti perjalanan Jakarta-Surabaya.
Padang Ilalang terbentang di kiri kanan. Rumah-rumah gubuk,
warung-warung tempat mangkal bis dan Container berderetan sepanjang
jalan seperti di film Iran Café Transit,
jajaran rumah-rumah pedesaan diselingi pohon-pohon besar dan
sawah-sawah tandus berseliweran. Pemandangan luar biasa buatku.
Eksotis. Bis kami melaju bersama dengan puluhan bahkan ratusan
truk-truk. Kadang bis kami berhenti sekedar minum teh hangat India yang
dicampur susu bersama sopir-sopir berkulit hitam. Di perbatasan
Gujarat. Kami mendapat persoalan. Bis kami dilarang melintasi
perbatasan karena dokumen tidak lengkap. Selama 2 jam kami dicuekin,
sementara Ganesh mondar-mandir dari post satu ke post lainnya yang
jaraknya 1 km untuk menyelesaikan administrasi. Terlihat dia begitu
stress, dia meminjam Hp Tika untuk menghubungi seseorang. Terlihat dari
cara bicaranya, Ganesh sedang bertengkar. Mungkin orang itu yang
menyebabkan Ganesh mendapat persoalan. Kami nyaris balik ke Bombay
karena tidak ada ijin melintas. Ditengah situasi panik itu Rianti,
Clarrisa, Oka dan Fedi didatangi militer bersenapan karena mereka
foto-foto.
‘Ini bukan tempat wisata!’ kata Militer itu.
Terlihat wajah Rianti pucat karena takut. Akhirnya Ganesh menjelaskan
ketidaktahuan kami. Merekapun mengerti. Setelah 2 jam lewat dengan
perasaan tidak menentu, kami bisa melintasi perbatasan, melanjutkan
perjalanan atas perjuangan Ganesh. Malam yang panjang terasa. Sekalipun
sulit buat kami tidur di tempat sempit seperti itu, kami tidak bisa
melewatkan rasa ngantuk. Pagi berikutnya kami berhenti di sebuah kota
kecil. Kami menyewa losmen kecil buat mandi dan sarapan. Kami istirahat
selama 4 jam memberikan kesempatan Ganesh tidur. Di tempat itu kami
diliatin penduduk sekitar. Apalagi Rianti dan Clarissa. Orang-orang
India memiliki keramahan berbeda dengan Indonesia. Apalagi bukan di
kota besar seperti Bombay, Delhi atau Madrass. Suara mereka yang keras
membuat kami mengira mereka marah. Tetapi sebenarnya tidak. Di tempat
itu kami baru sadar bahwa kami sudah menempuh 15 jam perjalanan. Tetapi
kami masih berada setengah perjalanan menuju Jodhpur. Setelah membuka
peta baru kami sadar berapa jarak sebenarnya dan berapa waktu tempuh
sebenarnya antara Bombay-Jodhpur. Bombay-Jodhpur berjarak 850km,
Kira-kira 24 jam waktu perjalanan darat jika ditempuh secara non-stop.
Kami merasa ditipu. Fedi yang biasanya diam, kini marah-marah, dia
protes ke producer atas perlakuan ini. Jawab producerku, pihak MD tidak
tahu menau soal ini. Mereka juga minta maaf. Pak Rajish, salah satu
karyawan MD dari India bagian make up artis banyak membantu kami.
Setidaknya membantu kami berkomunikasi. Ternyata, dibalik semua itu ada
yang tidak jujur, memanfaatkan situasi ini untuk mengambil keuntungan.
Aku marah, tetapi aku tahu itu tidak ada gunanya. Akibat dari
kesalahpahaman ini kami kehilangan waktu dan tenaga yang seharusnya
bisa dimanfaatkan buat Shooting. Kami cuma bisa pasrah …
Jam 8 malam, tepat 30 jam perjalanan dari Bombay, kami masuk Hotel. Alhamdulillah,
akhirnya kami bisa merebahkan diri di tempat yang layak. Diatas tempat
tidur aku melepaskan pikiran. Sepanjang hidupku, tidak pernah aku
membayangkan melintasi negeri Gujarat naik bis. Tanpa asuransi, tanpa
perlindungan apapun. Untung tidak ada teroris menghadang kami. Sungguh,
aku sudah tidak kuat. Aku ingin lari saja dari produksi. Toh, tidak ada
jaminan apapun buatku untuk menyelesaikan film ini? Uang? Demi Alloh,
gajiku tidak sebanding dengan persoalan yang aku hadapi. Kalau orang
mengira aku melakukan ini semua demi uang? Demi jualan? Kehormatan? Wallohi,
orang itu benar-benar picik. Tidak ada keuntungan materi yang aku dapat
di film ini. Semata-mata hanya idealismeku saja yang berharap Film
Indonesia tidak hanya diisi oleh Horor dan percintaan remaja Kota. Tapi
apa itu idealisme? Apakah Kang Abik dan jutaan pembaca AAC mengerti
soal idealisme ini? Apa yang mereka bisa berikan buat mengganti
segudang persoalan kami disini? Mereka tidak lebih dari sekedar
penonton yang menuntut hiburan atau membanding-bandingkan Film dengan
Novelnya. Lantas jika tidak sama dengan Novelnya terus mencaci maki,
menganggap bodoh dan kafir sutradara yang membuat. Karena hal-hal
islami dalam Novel tidak tampak, tidak terasa.
Lagi-lagi dadaku
sesak. Tapi aku tidak bisa lari. Aku sudah berjanji kepada diriku,
anakku dan ibuku untuk memberikan yang terbaik.
‘Kalau kamu sudah bisa membuat film. Buatlah film tentang agamamu.’ Kata ibuku yang terus menerus terngiang.
Pagi harinya aku mulai shooting. Dan persoalan seperti tidak selesai.
Dari mulai peralatan yang kami pakai sudah ditinggalkan industri India
5 tahun yang lalu alias butut: Lampu-lampu yang fliker (menghasilkan
cahaya kelap-kelip seperti neon yang habis watt nya), Kamera tua yang
ketika dipakai mengeluarkan bunyi berisik, generator kami yang lebih
layak dipakai buat menyalakan mesin pemarut kelapa dibanding buat
shooting. Lalu kru-kru India yang disediakan untuk membantu kami bukan
kru profesional. Di bagian akomodasi makanan kami selalu datang telat
sehingga banyak yang protes. Tidak hanya kru Jakarta saja yang protes,
kru India juga begitu. Suatu kali pernah mereka mogok kerja tidak
shooting karena hanya di kasih makan sekali sehari. Padahal shooting
sampai jam 12 malam. Di lokasi gurun, kami harus mendaki gunung pasir
dengan jalan kaki sebelum menuju lokasi utama. Kami menggunakan Unta
buat mengangkat Kamera dan perlengkapannya. Kaki-kaki kami sakit
tertusuk tanaman duri. Bibir kami banyak yang pecah karena panas
matahari. Sebelum mencapai tempat lokasi, kami istirahat mirip
kafilah-kafilah yang kehausan ditengah sahara.
Tapi dari
semua kesulitan itu, Alhamdulillah aku bisa menyelesaikannya dengan
baik. Lokasi yang aku dapatkan luar biasa. Kecuali lokasi Gurun, lokasi
Nil, Taman, Rumah Sakit berada di satu hotel peninggalan Kasultanan
Pakistan. Lokasi gurun Pasir kami tempuh 4 jam perjalanan dari Jodhpur.
Melelahkan tapi juga menyenangkan.
3 hari kami melakukan
shooting dan 2 hari sisanya adalah perjalanan. Di hari ketiga,
rombongan kembali ke Jakarta. Aku bersama 20 cann film hasil shooting
di Jodhpur terbang menuju Madras untuk editing dan processing lab.
Sastha Sunu, editor Ayat-Ayat Cinta sudah menungguku disana. Sampai
tulisan ini dikirim, aku masih menyelesaikan proses film Ayat-Ayat
Cinta yang semakin lama semakin rumit secara teknis. Sehingga
mengakibatkan jadwal Tayang Ayat-Ayat Cinta mundur di bulan Januari.
Aku tidak berani menjelaskan kerumitan itu, karena sifatnya technical
sekali. Pendeknya, produksi Ayat-Ayat Cinta adalah produksi yang penuh
dengan cobaan dibandingkan 6 filmku sebelumnya.
Semoga Cobaan ini membuktikan Cinta Alloh masih bersama Kami semua …
December 15th, 2007 at 3:18 am
Mas Hanung, dulu saya juga termasuk salah seorang yang pesimis bila novel yang bagus difilmkan oleh orang indonesia, tapi setelah mendengar kisah yang anda ceritakan hati saya turut tersentuh, betapa sulitnya sebuah idealisme diwujudkan apalagi menyangkut syiar islam.andai saja saya kaya raya, maka anda tak perlu bersusah payah begini….
“Ya Alloh, Apakah aku terlalu kotor memproduksi film ini, maka kau berikan hambatan buatku untuk yang terbaik?”
buat anda saya harapkan anda banyak bersabar, memang jalan untuk berbuat baik selalu berliku,yakinlah semoga film ini nantinya akan menjadi salah satu masterpiece anda, saya tunggu filmnya di bioskop..!
December 15th, 2007 at 4:51 am
mas hanung…assalamu’alaik..
sy uda baca dari awal mpe akhir..saya salut sama anda…tidak banyak sutradara seperti anda..
saya berharap tulisan ini dibaca oleh semua fanatik AAC, karena menurut sy sukses atau tidaknya sesuatu bergantung pd prosesnya…meski itu menyebabkan banyak hal mundur dan kerugian diderita..tp kalo melihat apa yg anda dan teman” rasakan saya kok yakin ya kalo film ini bakal luar biasa?? karena sesuatu yg dilakukan karena niatan yang suci dan sungguh” hasilnya unpredictable…pasti luar biasa..betul…mungkin inilah masterpiece anda…meski kelak belum menjadi materpiece, tp setidaknya pengalaman menggarap film ini membuat anda menemukan apa arti masterpiece yg sebenarnya..(haha sok dewasa)
oya kalo boleh saya sarankan, luruskan kembali niat anda, anda ingin menggarap film ini karena ingin membuka jendela hati orang” islam lebih luas, melihat islam lebih dekat dan lebih indah, sama seperti yang anda dan crew” lain rasakan..dan sedikit mengkritik..jgn fikirkan soal uang, fikirkan saja apa pahala yg akan anda dapat jika anda membuka kebenaran islam di depan banyak orang…apa yang akan anda dapat dari Alloh, karena Alloh berfirman, “Barang siapa membantu agamaKu, maka dia akan selalu terbantu”….
akhir kata, semangat ya mas! aku pasti jadi penonton yang paling mendukung film ini!
‘Laayukallifullahu hunafsan illa wus’aha..”
Aku tidak akan membebankan hambaKu lebih dari kemampuan mereka…
wassaLamun’alaik
keberkahannya menyertai kita semua…
December 15th, 2007 at 6:24 pm
semangat!! =)
December 15th, 2007 at 10:04 pm
mas hanung tetep semangat ya…
December 16th, 2007 at 3:24 am
ass….
mas hanung,,,,
QU jd sedih,,, paz tau,,, ternyata,,,,,,,,,, perjuangan mas hanung,,,n dkk……….. begitu berat,,,,,,,,,,tapi tenag ja mas pekerjaan y9 kita lakukan secara ikhlas n toek mencari ridho pazztie dapat berkah n pahala y9 G3UWueDeE pisan dr ALLAH SWT aMIN,,,,,,,,,,
QU PAZzzti nonton (insya allah)krn cerita buagus banget,,,,n9ajarin aqu,,,wat cari pacar tau suami kya fachri,,,he,,,,he,,,,n aq jg pengen kya aisah,,,tau,,maria amin,,,pokoke,,e,,,, braVo mas HANUNG,,,,,CemUAN9at,,ttt
December 16th, 2007 at 9:39 pm
Ganbatte, oom …
gila, berat sekali ternyata proses pembuatan film ini, jauh dari bayangan orang2 tentang dunia film yang gemerlap.
Gw gak bisa ngebayangin betapa juteknya muka Riyanti harus naik bis sejauh 850km, hehehehe
December 16th, 2007 at 9:53 pm
“mengapa harus ada keluh kesah dalam derita, pernahkah manusia berpikir bhwa itulah cinta, anugerah tuk manusia dr sang Pencipta, indahkah Pedang tanpa digosok dan ditempa?kuatkah tangan tanpa beramal dan bekerja?, hanya allah sang pemegang rahasia, smua pasti ada hikmahnya” bravo mas hanung…
December 17th, 2007 at 5:33 pm
tetep smangat ya mas.
InsyaAlloh ada balasan yg setimpal utk semua pengorbanan mas dan kru tim AAC.
December 17th, 2007 at 9:35 pm
assalamualaikum
iya tetap semangat mas hanung,para pengemar aac banyakan sewot karena khwatir aac ga sesuai dengan novelnya,maksutnya kan di novel antara laki laki n perempuan terjaga gth,khawatir di film malah gimana gituh.hehehhe
tapi intinya tetap semangat,luruskan niat untuk mengharapkan ridho allah semata.aza aza fighting
December 18th, 2007 at 7:19 am
keep fight 4 ideaslism & spritualism!!
more learning, more experience, more self matureness n be closely 2 perfect, even tho we knw tht “no body perfect”
at least, ur material producer knw ’bout ur idealism. n.. wish tht now they understand wht idealism is..
chayyyoo Mas Hanum…
December 19th, 2007 at 1:29 am
Wah luar biasa perjuangan mas hanung, semoga perjuangan mas di balas Allah dengan pahala yang terbaik dan bagi pengemar aac jangan lupa nonton filmnya walaupun saya sedikit kecewa dengan di undurnya penayangan di 21 hari ini. Semoga sukses seperti novelnya dengan pengorbanan dan kesulitan yang begitu besar.
December 20th, 2007 at 12:31 am
SEMANGAT!!!!!!!!SEMANGAT!!!!!!SEMANGAAT!!!!!!!!!
December 22nd, 2007 at 3:30 am
Semoga peribahasa ini menjadi nyata untuk Mas Hanung serta seluruh crew dan pemain AAC” berakit - rakit kehulu, berenang - renang ketepian…bersakit - sakit dahulu,bersenang -senang kemudian, Amin ya robbal alamin.
December 22nd, 2007 at 3:30 am
Semoga peribahasa ini menjadi nyata untuk Mas Hanung serta seluruh crew dan pemain AAC” berakit - rakit kehulu, berenang - renang ketepian…bersakit - sakit dahulu,bersenang -senang kemudian, Amin ya robbal alamin.
December 22nd, 2007 at 6:56 am
semangat mas…
walaupun film ini tdk jadi tayang tanggal 20 desember kemarin, padahal film ini bisa menjadi hadiah yang indah untuk ibu mas Hanung. Tapi Allah punya rencana lain yang tentunya lebih indah. Semoga Allah selalu memberikan yang terbaik atas produksi film AAC ini
December 22nd, 2007 at 11:00 pm
Ass…
Saya yaQin film ini bakal sukses dan diterima oleh masyarakat Indonesia. Saya pernah melihat poster film AAC dibioskop,, dan percaya atau tidak, saya melihat banyak orang yg berkumpul melihat poster itu. Saya bs mengambil kesimpulan bhw masyarakat Indonesia sgt menantikan film ini. Bahkan saya sempat kabarkan pd tmn saya yg berada di Brunei dan Malay mengenai film AAC ini. Dan mereka jg sangat menunggu kehadiran film ini, padahal bbrp dr mrk tdk membaca Novelnya. Insya Alloh apa yg diharapkan oleh Mas Hanung untuk film ini dpt tercapai. Amien… Saya banyak belajar dari kesabaran Mas Hanung… terima kasih..
Wass…
December 22nd, 2007 at 11:44 pm
Salaam Alaikum,
Terimakasih atas kesabaran dan keikhlasan mas Hanung dan seluruh crew film AAC… Anda semua telah menjalani takdir dari “pilihan2 takdir” yang anda “pilih”… sehingga diantara “sekian takdir” jalanya AAC ini, kisah dalam film itulah yang akhirnya bisa ditonton penggemar. Semoga tidak ada yang sia-sia
Salaam Alaikum
December 23rd, 2007 at 6:41 am
mas hanung kpn jadinya aac tayang di jakarta????udh pada ga sabar nunggunya……mdh2aN GA mengecewakan
December 24th, 2007 at 9:41 am
Terima kasih teman-teman semua. Sampai saya menuliskan balasan ini, AAC masih dalam proses penyelesaian di India. Insya Alloh, AAC menjadi pembuka tahun 2008. Silakan kunjungi Hanungbramantyo.multiply.com … tersedia trailer AAC versi panjang.
December 25th, 2007 at 8:42 am
“Ya Alloh, Apakah aku terlalu kotor memproduksi film ini, maka kau berikan hambatan buatku untuk yang terbaik?”
“Sungguh Allah Mahatahu apa yg Qta inginkan n Qta butuhkan. Bahkan Allah bisa memberikan tanpa batas dari arah tidak Qta sangka-sangka”
“Kalau kamu sudah bisa membuat film. Buatlah film tentang agamamu.’ Kata ibuku yang terus menerus terngiang.”
“Lakukanlah segala apa yg mampu kalian amalkan. Sesungguhnya Allah tidak jemu sampai kalian sendiri merasa jemu” (HR. Bukhari)
“Menajubkan sungguh urusan orang beriman. Segala perkaranya adalah kebaikan. Dan itu tidak terjadi kecuali pada orang yang beriman. Jika mendapat nikmat, ia bersyukur, n syukur itu baik baginya. Jika ditimpa musibah ia bersabar n sabar itu baik baginya” (HR Abu Dawud At Tirmidzi)
“Man Jadda Wa Jadda(Barang siapa bersungguh-sungguh berikhtiar maka akan mendapatkan apa yg diharapkan)”
“Tetaplah puas melakukan perbuatan yang baik dan biarkanlah orang lain membicarakan dirimu sesuka mereka” (Pyhtagoras)
December 25th, 2007 at 7:27 pm
“Man Jadda Wa Jadda(Barang siapa bersungguh-sungguh berikhtiar maka akan mendapatkan apa yg diharapkan)”
Saya tak permasalahkan film ini dibuat dengan segala keterbatasan. Setidaknya mas hanung bersyukur mempunyai kru yang setia. tata artistik yang nggak kehabisan akal. Saya sudah lihat foto2 adegan di blog multiply. Hampir sempurna, keterbatasan dana bukan alasan untuk menahan idealism.
Saran saya, pertahankan semua bagian yang ada di alur cerita. Jangan biarkan Stupid Producer itu menjadikan film ini pop dan hedonis. Kembalikanlah sebagaimana kultur Islam dan semua harapan kang Abik. karena halangan yang satu ini bukan dari teknis dan masih bisa dilawan…
December 26th, 2007 at 3:58 am
mas Hanung, saya mau minta maaf sebelumnya, coz pas ngeliat trailer yang pertama, saya langsung kecewa dan ngomel2 coz saya denger ko rianti nya pake bhs indo, n ada adegan maria nempel2 ama fahri, padahal g ada di novel nya… tapi setelah baca cerita mas hanung tentang di balik layar AAC, saya jadi malu, salut, terharu, bahkan sampe berlinang ni hehe (ok2, aku emang cengeng)…
segitu panjang perjuangannya… saya salut!
saya rasa kalo bisa, perlu dibuat behind the scene nya AAC, saya yakin itu akan jadi “appetizer” yg lezat… hehe…
saya bisa bayangin betapa stres nya para kru AAC… tapi jujur aja de… film mana si yg aktor utama nya menang terus? selalu aja mereka ditindas, kalah, jatuh bangun gak karuan, baru menang di akhir cerita… n mungkin gitu jg nasib para kru film ini… (insya 4JJI)…
sebenernya cerita ini (pembuatan AAC), bisa di analog in ama cerita idup saya… (berhubungan jg dgn mesir n india hehe)
insya 4JJI saya nonton klu g ada halangan…
n doesn’t matter if it’s good or bad… I really appreciate your work… coz I know how hard you try to make it happen
buat mas Hanung… coba nulis novel de, kayaknya bakat, untuk langkah awal bisa dicoba judul “kisah dibalik layar AAC” hehe…
4JJI yubarik fik…
December 26th, 2007 at 4:00 am
btw,klu sempat bisa liat profil saya, n tebak poto apa yg saya taruh (clue: interior salah satu masjid di Al Qahirah) by me
December 27th, 2007 at 3:16 am
Jangan putus asa ama komentar penggemar ayat2 cinta yang skeptis tentang film dan cuma bisa protes atas segala ‘ketidakislamian’ yang mungkin terjadi dalam film ini. Setelah baca curhat di sini saya justru mikir mas hanung n kru bener-bener ‘jihad’ buat syiar islam, daripada mereka yang cuma bisa maki-maki “kurang islami!”, “novel yang indah ternoda!”, “aktor yang meranin tokohnya gak islami, pernah ciuman!!” duh..cape de.. kalo nunggu semua orang islami kayak Fahri, kapan mulainya? ya biar aja bioskop isinya melulu film hantu ama film cemen
Tetap semangat mas, Allah juga yang membalas niat baik..
December 29th, 2007 at 5:42 am
mohon MAAF mas kl ada kesalahan dan ke khilafan dlm kerja sama di produksi AAC ………
December 29th, 2007 at 6:13 am
mohon MAAF mas kl ada kesalahan dan ke khilafan dlm kerja sama di produksi AAC ………
December 29th, 2007 at 7:54 am
Mas, teruskan saja.. InshaALLAH, kami di Malaysia akan menyokongmu!!
December 29th, 2007 at 11:11 pm
mas Hanung keep fighting yachh!!aku adalah penikmat karya-karya emas mu…aku harap setiap film mas Hanung yang baru , bisa roadshow ke Bogor ga??aku pengen ketemu langsung sama mas Hanung…thx b4!
December 30th, 2007 at 2:50 am
Saya mengikuti Tulisan Mas Hanung dari awal. Ada satu hal yg saya yakini hingga kini
” Ujian itu berbanding lurus dengan kapabilitas seseorang ”
… So, saya yakin sedemikian berat ujian dlm pembuatan film ini menunjukkan bagaimana kualitas Film ini dan tentu saja kualitas dr. Mas Hanung sendiri.
Ngomong2 kapan ya tayangnya?
December 30th, 2007 at 4:54 am
assalamu’alaikum..
sebetulnya saya kurang suka nonton film2 produksi Indonesia..
tapi yg satu ini beda.
jujur, saya belum baca novelnya..
bukannya gak suka, tapi gak ada waktu..
melihat blog ini, jadi penasaran juga. haha..
nonton ah :9
semangat ya Mas Hanung!
InsyaAllah semuanya terbayar., kalau memang niat bikin filmnya sudah lurus untuk ikut menyiarkan Islam..
filmnya ditunggu sama temen2 akhwat lo.. hehe..
`sesungguhnya Allah beserta orang - orang yang sabar`
wassalam.
December 31st, 2007 at 12:56 am
Assallamuallaikum
Ikut terharu juga melihat perjuangan mas sama kru yang lainnya buat ngewujudin film ini.Tapi ngomong-ngomong kok promosi di tv-nya nggak ada,padahal biasanya film yang akan diputar di bioskop,seminggu atau 2 minggu sebelum penayangan gencar berpromosi (kalo emang premiere tanggal 4 januari dimana yang saya liat cuma pengumumannya aja pas akhir sinetron produksi MD)
December 31st, 2007 at 10:54 am
kayaknya filmnya seru.
DVD releasenya ada the making dunk…!!
CGInya jadi ada..?
sukses terus bang…
yudha
January 1st, 2008 at 10:07 am
mas hanung, aku pengen bgt bs berkarya menulis skenario yang bisa masuk ke industri perfilman indo namun slalu tak pernah jadi. kadang sulit untuk mengawalai cerita.
mas hanung bs gak ya ngajarin gimana bisa buat skenario yang bisa dijual dan tentunya punya nilai ekonomi gitu. tapi mas hanumg sibuk banget ya. tapi aku bisa berguru ma mas hanung kan?
thx
January 2nd, 2008 at 9:23 am
mas Hanung saya salut atas kesungguhan anda, saya salut atas keikhlasan anda dalam memproduksi film ini. Anda tetap semangat untuk memproduksi film ini, walaupun banyak rintangan yang menimpa anda dan kru. Saya juga salut sama semua kru AAC yang tetap semangat dan solit.Mudah-mudahan itu semua akan ada hasilnya. mudah-mudahan film ini menjadi best… amin….Allahu Akbar!!!!!
January 3rd, 2008 at 1:12 am
Assalamu’alaikum wr wb
Mas Hanung….. aku sedih tho, denger katanya AAC Movie ndak boleh tayang, harus tayang ya…. intinya aku tunggu, melihat tailernya aja udah pingin nangis… biarkan saja orang2 yang banyak ko0mentar jelek dalam film ini… smangat mas…
Wassalamualaikum
January 3rd, 2008 at 1:15 am
Semangat yo mas……….. aku yakin, pasti berhasil film ini, dan banyak remaja2 yang tahu apa arti cinta dan pengorbanan hanya dari Allah semata… keep spirit mas… chayoo…. Allahu akbar………..
January 3rd, 2008 at 8:07 pm
Insya Allah dengan usaha terbaik akan dpt hasil terbaik, apapun hasilnya.
Bukankah hanya Allah Sang Maha Tahu yg terbaik?
tenang aja,
siapa yg berusaha, dia yg mendapatkan.
Itu janji-Nya
Makanya, doain sy ya biar sukses
Insya Allah saya juga akan mendoakan mas supaya selalu dikuatkan.
Wass.
January 3rd, 2008 at 10:19 pm
ngomong-ngomong soal bikin film islam, bukannya mas hanung pernah kerjasama ama Deddy Mizwar di “Gerbang Penantian”? Serial itu bagus loh mas, memang agak verbal dalam menyampaikan dakwahnya, tapi cukup memberi pencerahan sekaligus hiburan.
Kata-kata dari Ibunya mas Hanung mungkin tanpa mas sadar sudah melekat kuat dalam diri mas sejak dulu. Manusia, siapapun dia, apapun profesinya, tetap punya kewajiban untuk berbuat baik. Begitupun dengan mas bukan? semoga bakat luar biasa sebagai seorang sutradara terbaik bangsa ini bisa membawa mas hanung menjadi manusia yang berbuat banyak kebaikan, sepanjang hayat…

January 4th, 2008 at 2:08 am
Mas Hanung.. saya terharu!! Saya sampai saat ini tetap menunggu. Saya yakin Mas Hanung telah melakukan yang terbaik untuk film AAC.
January 4th, 2008 at 8:30 am
Mas Hanung…
Salut sama pengorbanan buat film AAC nya..sorry seblomnya aku juga sempat menebak-nebak, kira2 filmnya sesuai sama yang di novel ga ya? Dan sama seperti orang2 pada umumnya, mulai membanding-bandingkan antara novel dan film..
tapi ya jelas beda, apalagi setelah baca tulisan Mas Hanung,
karena kalau novel itu lebih kompleks, jadi kan ga mungkin disamakan (sama halnya seperti Harry Potter), pro dan kontra pasti ada setelah film AAC keluar…
Emang biasanya penonton itu ga mau tau proses pembuatan suatu film itu seperti apa, yang mereka tau hanya hasil yg akan mereka tonton, tapi kalo mereka tau gimana pengorbanan Mas Hanung mewujudkan AAC ini demi impian Ibu Mas Hanung untuk m’buat film bernafaskan Islam, pasti mereka mengacungkan banyak jempol deh buat Mas Hanung… =)
Smangat Mas Hanung!
Allah SWT ga tidur ko, pasti semua usaha Mas Hanung nanti terbayarkan…Biasanya sesuatu yg dibuat berdasarkan hati (bukan berdasarkan materi) itu lebih indah dan lebih bagus, dan (kalo aku ga salah) cuma orang-orang tertentu yg bisa ngerasain itu
Oiya, good idea juga tuh kalo behind the scene AAC bisa ditampilin, mungkin di tv, atau sebelum filmnya mulai, atau di vcd/dvd (utk vcd/dvd kayanya harus nunggu lama dong ya?) hehehe
Ditunggu ya film AAC nya rilis
Caiyo! Smangat!
Salam buat crew dan pemain AAC yang pengorbanannya luar biasa
January 6th, 2008 at 10:10 am
i’ve seen the rushes (if i’m not wrong to spelling it), it was awesome, the tone color, the set, very egyptian.
i’ve seen the producer’s comment to ’bout this movie, (saya menganggap film ini sebagai bayi buat saya…), hahahaha….it’s a joke right,
what do you think Mas Hanung…???,
January 7th, 2008 at 5:10 am
Ana doakan kejayaan nte menjayakan filem ini.. insya-Alloh…
January 7th, 2008 at 7:33 pm
assalamualaikum..
salut buat keteguhan, kesabaran hati, dan iman mas hanung,kami semua disini bakal nonton film ini dengan bangga…karena ada film yang dibuat dengan perjuangan yang tidak main2, apalagi membawa syiar dakwah islam..
tetep semangat mas
January 10th, 2008 at 3:19 am
tetap semangat Mas!!
filmnya banyak yg menunggu….
January 10th, 2008 at 4:54 am
Asswrwb.
Mas Hanung dan kru, saya salut dengan perjuangan Mas dan teman-teman untuk mewujudkan sebuah film yang sangat idealis (sesuai dengan apa yang Mas impikan). Membaca blog yang Mas tulis, bagaimana perih dan sesaknya ketika apa yang kita cita-citakan seringkali membentur batu terjal dan menemui kesukaran, membuat saya terharu.
Walaupun saya kurang puas dengan pemilihan pemain (bukan karena mrk scr pribadi, melainkan krn mrk kurang bisa menampilkan karakter yg Mas inginkan), tapi saya tetap memberikan penghargaan yang tinggi bagi Mas dan teman-teman.
Andai ada yang bisa kami lakukan..
Bagaimanapun hasil dan respon yang akan diberikan nanti, semoga Allah swt telah memberikan satu nilai pahala atas apa yang telah Mas usahakan.
Tetap berjuang, Mas. Jangan kapok.
Wasswrwb.
January 10th, 2008 at 9:17 pm
wah…hebat yah kpn tuh filmnya launching ? sukses yah mas moga filmnya laku di pasaran n slalu memberikan pelajaran buat hidup
January 10th, 2008 at 9:36 pm
Mas Hanung, tau nggak kita semua udah ga sabar lg mau nonton filmnya.
Semoga filmnya “semerinding” novelnya.
amiin…
January 10th, 2008 at 11:15 pm
Assalamu’alaikum..
Wah,aku udah baca semua yang mas hanung tulis ttg pembuatan film ayat-ayat cinta. Ternyata sampai segitunya ya mas…Aku nangis loh..bacanya..Aku juga termasuk salah satu orang yang pesimis dengan film ini. Karena aku memang pembaca fanatik novel AAC. Jadi aku awalnya g terlalu antusias dengan filnya, krn aku mengira pasti filmnya g akan sebagus novelnya. Tapi setelah membaca post ini aku jd malu karena aku jadi seperti orang yang tidak menghargai hasil karya orang lain, padahal mas hanung sdh bersusah payah en begitu banyak pengorbanan yang mas lakukan. Insya Allah aku akan nonton film ini dengan keluarga besarku..^_^ Terlepas dari bagus atau tidaknya film ini nantinya,aku sangat menghargai perjuangan mas hanung, dan insya Allah kalau mas ikhlas, Allah akan membalasnya dengan sesuatu yang baik untuk mas.Amien.
Mudah-mudahan ayat-ayat cinta akan jadi film Indonesia pertama yang ditonton oleh lebih dari 2juta penonton Indonesia di tahun 2008 ini, tidak hanya menjadi film yang menghibur tapi jg bs menjadi penyejuk jiwa..amien..
Berjuang terus ya mas…
January 13th, 2008 at 6:32 am
Assalamu’alaikum mas Hanung
Allahu Akbar….!!!
La Tahzan Mas Hanung, bagi saya mas hanung n crew (baik di depan layar maupun belakang layar) adalah beberapa Mujahid yang di pilih Allah yang berusaha ber syi’ar islam melalui produksi ini, mas….!!! jika Allah telah memilih kalian semua…!! maka tak ada ak bagi kami untuk mengecewakan kalian semua….!!!
NB: Tak tunggu beneran nih filmnya…, N buat para pembajak (meski aq sendiri kadang suka membajak), tolong untuk karya yang satu ini agak sedikit di hormati, Jazzakallahu Khoiron Katsiro Mas Hanung
January 13th, 2008 at 6:42 am
Mas Usul satu lagi nih….!!! gimana kalo buat film yang judulnya dibalik ayat-ayat cinta, ceritanya mengisakan perjalanan mas sendiri dalam membuat ni film, (bukan film dokumenter di balik layar, tapi bener2 produksi film, “Suasahnya jadi Sutradara”)kayaknya lebih mengharukan deh … ! terlebih mas sendiri yang jadi subyeknya. Hanya Usul, Jangan diambil ati
January 13th, 2008 at 7:03 pm
semangat mas…………..
ambil hikmahnya aja mas………….
mas hanung is the best………………….
baru kali ini ane baca dibalik pembuat film, sperti novel yang dibuat….
ada usul mas gimana kalau dibuat buku yang berjudul,,,, “Dibalik pembuat film AAC”………..
semoga sukses terus mas………
semangat mas…………. cayooooooooooooooooooooooo!!!!!!!!!!!!!!
January 14th, 2008 at 10:27 pm
mas hanung,,
jadi kapan nih film nya rilis???
tgl berapa???
please kasih tau ya!!!!!
January 17th, 2008 at 7:39 am
mas HANUNG…
saya yakin kok,film anda pasti bagus,,,
walaupun saya dulu punya anggapan klo novel AAC ini difilmkan akan mengecewakan.,, tapi proses yang mas hanung jalanin itu sesuatu yang harus di acungkan jempolll!!!!bravo!!!
percaya deh,masalah itu satu paket sama solusinya.,,,
pasti Allah udah mengaturnya,,
so.,cia you mas hanung!!!!
btw pastinya tanggal berapa tayangnya ya??? pengen cepet2 nonton nich…
January 20th, 2008 at 9:00 pm
ass.. mas hanung..
jujur saya nangis baca blog mas..
gak nyangka sebegitu sulitnya memproduksi AAC..
saat membaca blog ini, hati saya merintih membayangkan sgala kesulitan yg ada..
sayang nggak smua orang bisa ngebaca supaya mereka ngga seenaknya membuat opini jelek tentang film ini..
jujur dari awal brita AAC mau difilmkan, saya seneng banged..
karna saya juga penggemar novel yg difilmkan, kayak HP.
tapi saya banyak membaca komen yang mendiskreditkan film ini.
sungguh dangkal pemikiran mereka. Apa mereka ngga mikirin gimana sulitnya membuat film yg berlatarkan sebuah negara spt Mesir?
mereka cuma membandingkan dgn film2 yg dah ada kayak HP.
sungguh terlalu!
saya interest banged saat tau Mas nulis pembuatan nya di Blog.
tapi pas baca..
subhanallah, sungguh sulit membuat film ini..
saya juga stuju bgd dgn Fedi sbg Fahri dan Rianti sbg Aisha. Cocok!
Fedi emang punya mimik yg menggambarkan Fahri. Bersahaja.
Saya kemudian membaca kembali novel AAC dan membayangkan para pemain filmya disitu..
boleh juga. =)
untuk mas Hanung jangan patah semangat dan terus maju memproduksi film2 yg berkualitas terutama yg islami karna insyaAllah bisa menjadi ladang dakwah yg diridhoi Allah..
Aamiin..
Ma’at Taufiq ya Ammu..
(saya masih 17 soalnya =) )
Hayyaa Nasyat!!!!!!!!!
Allahu Akbar!!!!
ana Farah min Bangka
January 22nd, 2008 at 12:11 am
chayo mas hanung !!!
salut u semangat dan dedikasinya … saya tunggu banget filmnya, saya yakin didalamnya banyak nilai-nilai. hanya orang yang pandai bersyukur tau bagaimana harus berlaku, semoga saja …
keep spirit … !!!
January 22nd, 2008 at 9:28 am
awalnya sih skeptis dng film AAC…
tapi.. setelah baca tulisannya mas Hanung kok malah jadi penasaran yach…jadi semangat pingin nonton nich…
Sukses terus buat mas Hanung…!!!
Maju tRuss buat perFilman Indonesia…!!!!
IhRisH…!!!IhRisH…!!!IhRisH…!!!
January 22nd, 2008 at 9:32 am
awalnya sih skeptis dng film AAC…
tapi.. setelah baca tulisannya mas Hanung kok malah jadi penasaran yach…
jadi semangat pingin nonton nich…
Sukses terus buat mas Hanung…!!!
Maju tRuss buat perFilman Indonesia…!!!!
IhRisH…!!! IhRisH…!!! IhRisH…!!!
January 22nd, 2008 at 10:02 pm
I love u………….
(maksudnya your movie, hehehe…)
Aku suka bngt sm Fedi Nuril, jadi smngt nih nonton AACnya.
Mas hanung, bikin film yang bnyk ya…(n berkualitas)
January 23rd, 2008 at 12:44 am
sabar mas…Allah beserta orang-orang yang sabar…banyak cobaan berarti masih disayang Yang Maha Penyayang…
January 23rd, 2008 at 2:58 am
maaasssss hanuuuunngggg!!!…
saya yakin film mas hanung keren banget!!! krn mas hanung ngebuat filmnya dengan keyakinan iman…
tp yg jd pertnyaan,,kpn filmnya keluar???!!!!coz takutnya udah pada ilfil yang pd pengen nonton..takutnya nnti malah filmnya jd basiii sbelum di tonton,kya film2 sbelumnya yg bernasib sama…thank’s before…
January 23rd, 2008 at 5:03 am
semangat mas
rakyat indonesia sudah bosan dengan film2 sampah yang dibuat untuk binis
kita perlu film yang dapat menjadi contoh dan pembimbing…..
jangan hawatir dengan jumlah penonton mas
saya yakin akan bnyak yang mau nonton teman saya aja pernah bilang
“kalau besok ujian dan hari ini launching AAC pasti kita saya bela2in untuk nonton”
biarin lach ujiaan dapat apa yang penting kita merasa kemauan hati ini terpenuhi
ngomonk2 kpn jadwal pasti premiernya mas biar tidak menunggu2 seperti ini
semangat mas
January 24th, 2008 at 6:59 am
Dari Dulu sayang sudah menyenangi film mas Hanung… Semua Filmnya sangat bermutu…
Saya pun percaya, kali ini Film mas Hanung akan luar biasa lagi …Saya berdoa utk itu …
Blog ini adalah bukti kehebatan Mas Hanung… Indonesia perlu orang seperti Mas Hanung…
Saya dan teman-teman sudah menunggu AAC sejak pertama kali isunya beredar…
Isya allah, film ini akan menjadi paling paling hebat dan banyak di tonton di tahun 2008 ini… amin…
January 25th, 2008 at 8:56 pm
Ass…..
SaluUt bwt Mas Hanung….!!!!!
Semangat Mas….!!!!!!
Awalnya saya termasuk orang yang menyangsikan film AAC,, krn takut nggak sesuai ma novelnya. Tapi,,stlh baca blog mas Hanung dr awal mpe akhir,,,Saya jd smkn yakin film ini bakal mjd film terbaek d thn 2008 dan bakal mjd film terbaek dlm pFilman Indonesia.. Amien….
Tenang aza mas,,film ini bkl dtonton lbh dr 2juta penonton. Skrg aza dah jd film yg plg dtunggu penayangannya.. jd,,semua kerja keras mas hanung n crew,jg pemain akan tbayar semua.. Allah maha tahu mas…
Waktu baca blog mas hanung, saya sempat merinding dan nangis… tnyata sbgtu beratnya rintangan yg dhdapi slama pmbuatan nie Film.. Sekedar usul neyh,,ntar dibikin az di balik pembuatan AAC..
Yg Semangat Mas,,, (^_^)v
Oya,,titip salam bwt Fedi Nuril…
January 26th, 2008 at 1:03 am
mas hanung,
keep fightin’ ya..
terharu bgt bca ceritanya..
mmm,
slm ya bwt para pemainnya..
January 26th, 2008 at 8:46 pm
tetap semangat mas…
tidak yang tidak mungkin kalo Alloh menghendaki.
January 27th, 2008 at 6:18 am
saya baca di media massa rencananya premiere film AAC bertepatan dengan hari “valentine” apa nggak salam mas? film islami kok muncul waktu acaranya orang non muslim. apa nggak konsultasi sama Kang Abik & Pak Din dulu?
January 28th, 2008 at 9:50 pm
Assalamualaikum, Mas….
awalya aq sangsi ama filmnya AAC, tp setelah melihat cuplikannya…q malah penasaran….
Semoga tidak mengecewakan banyak pihak, terutama yang mengidolakan sosok Fahri..
Termasuk aq sendiri…
keep fightin’ ya, Mas..
January 29th, 2008 at 12:49 am
aku pngin bnget punya cowo/suami yang sosoknya itu kaya fahri…..tapi apa adanya sosok fahri?mana zaman udah kaya gini..aku ingin sprti aisyah,selain cantik jg sholehah
January 29th, 2008 at 8:22 pm
Assalamualaikum mas Hanung
wah.. setelah baca blognya jadi terharu nih dengan kerja kerasnya.tapi mas sesuai pepatah,bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian,ya ngga?. aku tetap setia nunggu nih film sampe keluar,walaupun jujur memang agak kecewa juga setelah tau ngga di cairo beneran tapi ngga pa2 lah ,aku tetep pengen banget nonton
January 29th, 2008 at 9:36 pm
wah….mas hanung emank the best!
perfilman indonesia memang butuh sosok seperti mas hanung.
yang tidak cuma memikirkan satu aspek saja dalam membuat film,,sehingga film nya pun lebih berkualitas.
pokoknya sukses buat mas hanung!
owh ya,anyway klo butuh extras orang2 arab lgi bilang ja ma aq mas,aq punya buanyak qo’ stock nya!!! mo ampe jam 4 pagi jg siap!!
^_~
February 1st, 2008 at 1:38 am
“Ya Alloh, Apakah aku terlalu kotor memproduksi film ini, maka kau berikan hambatan buatku untuk yang terbaik?”
sAbar Mas…..
siNg KUOSO nggak turu kok!!!
InsyaALLAH hasilnya sEbaNdiNg n jauH Lebih mEmuaskaN dr tuNtutan prOducer…
February 1st, 2008 at 2:26 am
Mas hanung, kita semua mendukung usaha anda.setelah membaca novel ayat-ayat cinta ada perubahan besar yang terjadi dalam hati,pikiran, dan perbuatan saya, alhamdulillah perubahan itu kearah yang lbh positif.semoga dengan dibuat menjadi film akan lebih banyak generasi muda kita yang lbh agamis, amin…
February 7th, 2008 at 12:02 am
saya gak setuju mas kalo dibilang org2 ga suka film perenungan..
org2 nunggu film ayat2 cinta karena novelnya spektakuler..
Sementara org2 suka novelnya karena bisa bgt bikin kita merenung dan ngerasain “jiwa yang terbangun”..
Jgn dikasi juduk ayat-ayat cinta kalo suasananya beda dengan novelnya..
Kalo cuna bisa ngeliat pangsa pasar yang nge-pop kaya aadc atau kuch kuch hota hai..
kita tau imi industri,,
tapi kan ada yg harus “dijaga”..
Entahlah mas..
Skali lagi, moga feel yg ketangkep ntar ga jauh2 dari novelnya..
karena gimanapun film ini kan berangkat dari novelnya dan manfaatin novelnya bgt..
masih menunggu ni mas,, lama bgt ya primernya..
February 7th, 2008 at 12:10 am
saya pengen komentar banyak tentang film ini,, pengen curhat..
yg di atas tadi cuna sekelumit aja..
ada gak ya semacam diskusi publik tentang film ini?
mohon bgt dikabarin kalo ada..
email: au_move_89@yahoo.co.id
saya penggemar bacaan,,
AAC ini salah satu yg unggulan versi saya..penggemar berat AAC..
jadi tolong dimaklumi kalo saya agak rewel..
Ada harapan yg luar biasa untuk film ini..
Harapan supaya tetap “terjaga”..
February 7th, 2008 at 7:12 pm
Sing sabar,mas. Allah ga akan memberi cobaan yang kita tidak mampu menanggungnya toh. Karena Allah tau mas bisa makanya mas dicoba seperti itu. Setelah badai pasti ada pelangi,ada buah yang manis dari semua kerja keras mas Hanung. Pasti ada hikmahnya dibalik semua kejadian dalam hidup kita. Orang2 memang mudah sekali menuntut kesempurnaan dari orang lain tapi mereka pada lupa,di dunia ini mana ada yang sempurna. Kesempurnaan kan hanya milik Allah. Hasil akhir dari semua yang mas perjuangkan serahkan sama Allah. Biar Allah yang memberi finishing touch-nya toh semua persoalan hidup yang memberi finishing touch adalah Allah,kita cuma bisa berusaha sebatas kita mampu. Tetap semangat,ya!!! =)
February 8th, 2008 at 5:57 am
Minta maaf mas,,
Mungkin comment2 saia sebelumnya terasa kurang menghargai kerja keras dan niat tulus mas hanung..
Itu cuma luapan kekhawatiran aj mas..
Khawatir akan hancurnya sebuah harapan..(eleh..)
Memang gimanapun pasti sulit bgt bikin feel yg utuh dari novelnya..
Novel yg butuh seharian buat dibaca harus diringkas dgn durasi 2 jam di film, susah ngarapin semuanya bakal utuh..
Apa lagi kendalanya luar biasa gitu..
Mas Hanung, u’re d best director.. Kami percaya mas hanung..
Saya salut dengan keteguhan mas hanung,, kerja keras mas hanung,, niat tulus mas hanung..
Sungguh mas,, terharu bgt baca kisah di balik layar AAC..Mau bikin film, prosesnya uda kaya film ahaha..Salut..
Bersyukur Indonesia punya org kaya mas hanung..
Ga mudah untuk bangkit kalo uda jatuh berkali2 kaya mas hanung, apa lagi menyangkut mimpi2 dan harapan2 mas hanung sendiri..
Saya yakin film ini ga jatuh ke tangan sutradara yg salah, tapi (mungkin) PH yg salah..(ahaha..pedas lagi..)
Gimanapun pro kontra yg datang ke mas hanung, justru nunjukin perhatian masyarakat yg besar ke film ini..
Semangat mas..!! Banyak kendala, banyak jalan, banyak pengalaman..
“Sesungguhnya setelah kesulitan itu ada kemudahan”
Takdir Allah ada di ujung usaha manusia..
Cobaan juga kan datangnya dari Allah,, kesulitan yg mas dapet,, frustasi yg mas rasa,, kecewa yg mas tuai,, pasti ada hasilnya ntar..
Selama yakin uda ngusahain yg benar dan uda maksimal, ga perlu ragu mas..
Terbukti, Alhamdulillah, filmnya uda jadi..
Proses yg berat itu,, yg dilewati dengan badai prahara itu,,yg uda dgn usaha maksimal dr seorang hanung itu,,sekarang ada hasilnya..Insya Allah berkah mas..
Tinggal tunggu premiernya,, Masya Allah..!! Tak sabar sudah..
Gimanapun hasilnya,, apapun yg saya dapat dari tu film,, saya tetap menghargai kerja keras seorang hanung bramantyo.. (Insya Allah film nya sukses..)
Moga efektif sebagai media dakwah,, sebagai pembangun umat,, jadi nutrisi jiwa buat umat dan mas hanung sendiri..
Moga diberkahi dan diridhai Allah mas,, Aamiin..
Ditunggu film selanjutnya,, hidup karya anak bangsa..!!
Maju terus akh hanung..!!
Mas hanung,,
Banyak bgt yg pengen diobrolin nih..pengen sharing..
Gimana caranya ya mas?
Pengen nulis terus ntar bayar internetnya mahal (ahaha..diketik langsung dari warnet nih, agak buru2 lg ditungguin temen..)
Kok saya jadi kagum ya dengan mas hanung..Semangatnya patut ditiru nih..
ALLAHU AKBAR..!!
ISLAM ITU INDAH..!!
February 8th, 2008 at 5:59 am
Hahaha..
Comment ane di atas uda kaya surat aja ya mas..
February 9th, 2008 at 12:50 am
Kereeeeeeennn…..
U did excellent work!!
ga sabar pgn nonton film hasil perjuangannya xD
February 9th, 2008 at 8:04 pm
Seronok aku membaca novel AAC.
Kini aku menanti movienya di Malaysia.
Tahniah kerana sanggup menjadikan novel ini sebagai filem.
February 9th, 2008 at 11:15 pm
Mas Hanung. Allah menyayangimu dengan menduga persoalan demi persoalan. InsyaAllah, hikmah yang Allah berikan padamu lebih dari itu.
February 10th, 2008 at 12:07 am
wied lagi niy…caiyo mas hanung…insyaAllah gw yakin dengan perjuangan yang panjang pasti hasilnya ga mengecewakan..amien..semuanya ga akan jalan kalo ga diridhoi Allah..ternyata smua berjalan kan biarpun gak lancar??berarti Allah meridhoi..
O ya mas, salam ya bwat Fedi Nuril,n Rianti..gw ngefans berat ma mereka..hehe
Mudah2an mas hanung melihat ukuran sukses film ini bukan berdasarkan jumlah penonton tetapi dari bagaimana film ini bisa merubah kepribadian penonton itu sendiri biarpun dia gak baca bukunya.. seperti bukunya yang banyak merubah pandangan hidup banyak orang termasuk gw sendiri..
1 lagi menurut gw pemainnya udah qece-qece smua koq..biarin mas kalo masih pada kecewa dengan pemainnya mungkin mereka iri aja kali yee..hehe anjing menggonggong kafilah berlalu..hehe
caiyo ma hanung..
psst..asal mas hanung tau film ini ditunggu smua keluargaku loch!!!!
February 10th, 2008 at 12:10 am
lupa 1 lagi…mo donk dapet tiket premiernya…ditunggu loch!!!
February 10th, 2008 at 10:22 pm
mas, sepertinya mas juga harus banyak bersabar lagi. 2 hari yang lalu seorang teman memberikan cd yang berisi film AAC, saya kaget kok bisa film dirilis tapi udah ada cd-nya. setelah sy liat ternyata benar.
namun urutan scene masih berantakan. tidak sesuai dengan alur yang di novel. namun semua adegan yang di novel sepertinya ada semua, bahkan title film juga sudah ada.
semoga tidak kecolongan lagi mas..
February 10th, 2008 at 10:53 pm
weits…
dah baca 4 bab proses produksi AAC ne…
satu kata aja
“SALUUUUT!” buat perjuangannya…
February 12th, 2008 at 2:44 am
Baca perjuangan dibalik produksinya aja udah bikin mata sedikit basah…jadi bisa sedikit ada penghayatan buat nontonnya nih’ SALUUUTT
February 13th, 2008 at 3:40 am
SemAngAt ya Mas Hanung… Aza…aza Fighting!!!!
Aku terharu baca cerita dibalik pembuatan Film AAC ini, maaf klo awalnya aku juga “agak” meragukan film ini, tapi setelah baca cerita mas Hanung pikiran aku jadi lebih terbuka… Thanks ya karena Mas Hanung begitu idealis dalam pembuatan film AAC ini…
sekali lagi Gambateee…!!!
^_^
February 13th, 2008 at 5:52 pm
mas hanung,
beberapa hari yg lalu saya dapat 3 file film ayat2 cinta. Saya kira itu thrillernya, secara dibioskop blm maen, ternyata setelah saya liat (akhirnya nonton jg, maaf) komplit mas. Gambarnya pun bagus, cuma tampak belum diedit mas, krn tiap frame ada angka2 gituh.
Heran, apakah ada orang dalam yang menyebarkan or gimana mas.
February 13th, 2008 at 7:31 pm
perjuangan yang luar biasa.. mengharukan..
February 14th, 2008 at 12:08 am
buat rox….hahahahahahah….masihhhh aja
buat mas hanung….saya pnah dikasi tmn yg suka jadi assistant sutradara..klo nonton film liat siapa sutradaranya..nah…nama mas hanung salah 1 yg direkomen sm tmn saya
sukses terus tuk film2 berkualitasnya yach 
-binyo-
February 14th, 2008 at 5:54 pm
Mas, saya sedih banget baca blog ini,,,Semoga kerja keras kamu berbanding lurus dengan hasilnya ya…. “فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan” (QS : Al Insyirah).
Dan semoga setelah film AAC ini kamu gak kapok utk memproduksi film agama lagi..
Good Luck
February 18th, 2008 at 11:11 pm
Mas film nya bocor tuh..
Saia jd harus jauh2 dari temen2 yg uda nonton, ga mau ntar diceritain..
Bner kata pak polisi..
Indonesia makin canggih dalam hal mencuri karya dan membajak..
Ahh,, negeriku..
Kapan kita sembuh dari sakit parah..
February 19th, 2008 at 4:28 pm
sopo sing ngomong filmmu elek dab…!
apik! tenan
salut yo!
February 19th, 2008 at 11:29 pm
hai mas hanung, tadi pagi denger siaran di radio prambos,dan baca blog the making dari part 1 sampe yang ini yang bikin merinding…udah nunggu lama ini film buat tayang, yg nunggu juga bukan cuma teman2 muslimin dan muslimah aja, salut atas kerja keras dan keteguhan hatinya. kalo masih ada kritik negatif dan destruktif yah biarin aja, mereka boleh bicara tapi kan Tuhan yang menentukkan. namanya juga manusia, gak mungkin sempurna. at least you start something, dari pada cuma omdo, menjadi Islam itu kan proses panjang dan terus menerus, gak instan… yang penting niat kita adalah untuk mendapat ridha Allah… semoga ini di hitung dapet pahala… amin…
February 22nd, 2008 at 5:48 am
Alhamdulillah…
Akhirnya film AAC rampung jugaa…
novel ama filmnya bakal jadi favorit saya… nggak peduli apa kata orang.
saya dan teman-teman sangat menantikan film-nya… (rasanya ada yang kurang saja jika membaca novel kalo nggak ada klip-nya hehehe..)
Chaiyyo buat mas hanung.
Saya yakin film ini akan membawa pencerahan bagi remaja2 muslim zaman sekarang yang sering meniru-niru attitude, behavior, habit ato apalah yang semuanya serba western tanpa menyaring dan menyesuaikan dengan syariah yang sudah ada. saya yakin, film ini akan membawa kebaikan kuadrat (setelah novelnya) bagi umat. amin.
membaca novel AAC ini membuat saya terharu sampe menangis.. walaupun saya sudah membacanya berkali-kali…
tetap semangat mas…
hehe….
February 24th, 2008 at 1:34 am
Subhanallah…..
berat banget perjuangan mas Hanung dn crew…..
gila yaaa….
wduh mas kyanya aku bkal tmbh gk sbar pgn cpet’nntn film ini…
smoga sukses trus yaaa….
smoga ini bssa jdi pengalaman buat film’ mas brikutnya…
February 24th, 2008 at 5:57 pm
Tidak hanya pandai memvisulkan sebuah novel, anda juga jago melukiskan sebuah suasana jiwa, tutur kalimat yang anda uraikan juga amat menyentuh, sayapun larut dalam kisah anda (kisah dibalik produksi AAC), tak trasa air mata saya menetes ketika anda menceritakan bagaimana beratnya medan yang anda jalani. “inna ma’al ‘usri yusro” (sesungguhnya pada kesulitan itu ada kemudahan). chayoooo…..!!!!???!!!!.
February 25th, 2008 at 11:07 pm
Awalnya saya nonton filmnya, sy sedikit kecewa dengan perubahan tokoh2 yg ada di dalamnya, seperti Aisha, yg tiba2 kok jadi judes.. heheheh…
Tapi setelah sampai di akhir, film AAC betul2 membuka mata saya, kalau manusia itu gak sempurna, tapi hanya bisa berusaha untuk menjadi sempurna…Aisha yang tadi judes dan agak suudzon [menurut sy sih, hehehe], tiba2 menjadi seseorang yang ikhlas dan tulus. Luar biasa.
Mas Hanung, selamat ya, diantara semua karya2mu yg udah saya tonton, AAC ini yang paling membekas di hati, dan mengubah saya sebagai seorang muslim…
Mudah2n 4JJI mencatat semua usahamu berdakwah… amin.
Walaupun sekarang saya lg di luar negri, gak dapet nonton AAC di bioskop [cuman yang bajakan, maaf ya!]…
…tapi begitu pulang ke indonesia, kita beli yang original!! Its the only way to show our appreciation. Thank you.
February 27th, 2008 at 7:56 am
assalamualaikum
mas hanung pertama saya harus minta maaf karena melihat dari cd bajakannya. tapi sumpah filmnya bagus. aku awalnya pengen nonton di bioskop, tapi tiba-tiba ada yang nawarin untuk nonton vcd-nya. film yang udah lama aku tunggu tiba-tiba ada di hadapan. siapa yang tahan untuk tidak menonton. tapi saya usahakan jika ada cd aslinya nanti saya akan beli. saya beri saran ama mas hanung. filmnya bagus, tapi orangnya juga harus bagus. ok. biar gak dapat dibajak jangan bikin premier yang duluan. lebih baik bareng-bareng satu indonesia gitu…untuk karya yang lain yang bagus dari novel usahakan lebih baik lagi. maaf, semangat dan ditunggu cd-nya.
February 27th, 2008 at 8:01 am
Subhanallah…sy sdh bc novelnya lalu ntn filmnya, meski awalnya pesimis, krn sebelumnya pernah bc blog Mas Hanung ini, yg blg crtnya bakal beda dg yg di buku…tapi, subhanallah, sy suka filmnya, meski berbeda byk yg di cut dan sepertinya ada improvisasi, sy tetep suka dg cerita AAC yg difilmkan Mas Hanung bener2 terharu
Aisha yg memang jd judes, suudzon dg Fakhri, beda dg novelnya, tp menurut sy, ya memang seperti itulah wanita, meski cinta, sayang, kalo dihadapkan oleh ujian seperti itu, apapun bisa dipikirkan, kalo ga kuat ya bisikan syaiton bisa menyusup, dan meski ikhlas dimadu, tapi yg namanya hati, sapa sih yg ga bakal cemburu, namanya jg cinta…hehe..
tetep berjuang ya Mas, untk membuat film2 seperti ini. kalo boleh usul, filmin jg dong novel ketika cinta bertasbih 1&2…okey..ditunggu yah.
February 27th, 2008 at 9:58 am
assalamualaikum
cobaan adalah kasih sayang allah pada hambanya. saya tidak tahu bagaimana rasanya perjalanan pembuatan film ini. tapi semoga mulai dari awal hingga akhir film ini dapat berguna bagi pemain,kru dan yang menontonnya. dalam kesengsaraan pasti ada kesenangan. buktinya masih bisa foto-foto(meskipun buat rianti pucat he…he). keep the spirit and do the best. allah mencintaimu saudaraku
February 27th, 2008 at 6:18 pm
wah…
mas hanung filmnya bagus banget lho..
udh lama saya tunggu film yang bermutu kyak gini.
ada unsur islam dan romantisnya.
banyak yang saya pelajari dari film ini.
bukan hanya dari film ini saja tapi juga pembuatannya yang diceriyakan mes hanung.
Pokonya sukses buat mas hanung!
ALLAH selalu menyertaimu.
February 27th, 2008 at 6:47 pm
Assalamu’alaikum
Saya tidak menyangka perjuangan anda sedahsyat ini…
Sangat disesalkan krn AAC ini sudah bocor sebelum waktunya tayang…
dan parahnya saya adalah termasuk orang yang nonton film bocoran tsb…maafkan saya,,, ;(
Anda benar2 orang yg hebat…
Sampai tidak ada kata2 yg tepat utk mengungkapkan hasil karya anda…Subhanallah!
memang KAiro tidak muncul jelas disitu…tapi dengan perjuangan anda ini lah yang membuat film ini layak untuk booming!
Dan tokoh2nya…kalo seperti di novel kesannya bakal fiktif..di film ini jadi manusiawi bgt..manusia punya emosi, ada yg komplain dgn nasibnya..sampai akhirnya dapet insight bahwa dengan cara demikian Allah mencintai hamba-Nya…
Ingat selalu… Fa inna ma’al usri yusro, inna ma’al usri yusro… (QS. Al-Insyirah)
“bahwa sesudah kesulitan ada kemudahan” bahkan ayat itu diulang 2x…
masa qta akan meragukan Allah?
Naudzubillahimindzalik…
Wish u all de best Mas Hanung!
Saya suka idealisme anda,,,
Wassalam
February 28th, 2008 at 1:57 am
Luar Biasa Mas! Aku salut banget dengan filmmu ini. Aku merinding menontonnya. Bahkan, beberapa kali aku meneteskan air mata, terutama adegan ketika Ibu Fahri menelepon Aisha. Kebayang betapa beratnya beban orangtua dengan harapan besar seperti itu.
Apapun kritikan orang tentang film ini, bagiku inilah film terbaik saat ini. Teruslah menelurkan film2 bermutu dan mendidik seperti ini Mas.
Atas segala kesulitan yang anda hadapi, janganlah membuat putus asa. Seperti pesan dalam filmmu: “Sabar dan Ikhlas, itu Islam!”
Satu lagi, di film ini Mas membuktikan bahwa selera masyarakat Indonesia sangat bagus. Terlihat dari begitu panjangnya antrian, bahkan film “Hantu Ambulance” yg juga ditayangkan tidak dilirik sedikitpun…! Kasian deh…!!
Jadi, jangan takut film idealis gak bakal laku. Mas sendiri sudah membuktikannya. Selamat…!!
February 28th, 2008 at 5:44 am
Mas Hanung .. kasih response dong di review movieku tentang film Ayat² CInta .. di
http://deconlabel.com/2008/02/28/ayat-ayat-cinta-the-movie-my-review/
kali aja ada saran dan ide yang nyanthol ..
thanks a lot
February 29th, 2008 at 2:14 am
Mas Hanung, banyak komentar tentang film Ayat-Ayat Cinta, banyak yang terjebak agar alur cerita seperti di film. Untuk itu saya mencoba bertukar fikiran di http://danummurik.wordpress.com
February 29th, 2008 at 7:47 pm
Assalamu alaikum wr.wb…
Sigit mo nimbrung neh..
Pilemnya oks buangeth, Mas…
Gara2 niy pilem banyak orang penonton yang nangis,(termasuk aq c,hee…)bahkan ampe ada yg terisak-isak lage…
Awal pilem ampe akhir q suka bgt,Mas..
tp, endingnya q g suka..
Kayak ending sinetron2 MD aja…
Btw, koq byk adegan yg dihilangi n diganti dg adegan yg tdk ada di Novelnya y??
Masak, Maria bisa hidup serumah ama Aisha n Fahri??????
Trus kematian Maria g seharu di Novel yg sblm mati ketemu ama Bunda Maria…
Offer All…
Q tetep suka pilem ini koq n bwt org2 yg dh under ustimate ama niy pilem silakan under ustimate alias su udzon terus…
q rasa MD g bakal rugi telah memproduksi niy pilem,cz animo masyarakat…beeh…benar2 besar, Mas…
Smoga Imanq terus dan terus bertambah..
Amin…
Doain y, Mas..
March 1st, 2008 at 2:36 am
Assalamu alaikum…
nih buat mas hanung..
An Nahl: 53.”Dan apa saja nikmat yang
ada pada kamu, maka dari Allah-lah
(datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh
kemudharatan, maka hanya kepada-Nya-lah
kamu meminta pertolongan.”
Ali Imran: 160.”Jika Allah menolong
kamu, maka tak adalah orang yang dapat
mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan
kamu (tidak memberi pertolongan), maka
siapakah gerangan yang dapat menolong
kamu (selain) dari Allah sesudah itu?
Karena itu hendaklah kepada Allah saja
orang-orang mukmin bertawakkal.”
Film ayat2 cinta adalah film pertama yg mengartikan CINTA itu hanya dlm bentuk pernikahan..bukan pacaran…
inilah salah satu sarana membantu untuk dakwah
apalgi skrg pacaran sdh dianggap biasa…padahal banyak madharotnya…sy suka dgn adanya Film ayat2 cinta ini…sukses slalu buat sang sutradara
amanah dari sang ibu telah diwujudkan dngn baik
wassalam
March 1st, 2008 at 6:08 am
Mas Hanung,
kemarin saya lihat film Ayat-Ayat Cinta. Sejujurnya saya sempat sedikit kecewa dengan adegan-adegan yang ditiadakan maupun diadakan dalam film Mas tersebut. Tapi belajar dari pengalaman melihat film-film hollywood yang based on a novel, nampaknya memang merupakan suatu hal yang sangat sulit untuk mewujudkan semua bahasa tulisan dalam sebuah novel ke dalam bentuk film.
dan yang sudah Mas buat, terutama setelah membaca perjuangan mas yang sangat hebat dalam pembuatannya, sangat patut untuk saya kasih Mas acungan sepuluh jempol dan rasa salut yang setinggi-tingginya. mungkin tidak sempurna, tapi tetap luar biasa.
alhamdulillah masih ada sutradara yang tidak profit oriented seperti mas hanung!! horeee! hidup mas hanung!
anyway,
waktu saya baca novel nya, saya nggak nyangka kalau fahri bakalan seganteng fedi nuril.. heheehe
semoga comment saya dibaca ya,,, saya tunggu film2 mas hanung berikutnya.
March 1st, 2008 at 6:11 am
by the way,
tiket nonton Ayat-Ayat Cinta di Jogja selalu SOLD OUT dari jauh jam sebelumnya. antrean buat beli tiket Mas Hanung panjangnya udah kaya ular sanca! serius mas.
mas harus berbangga hati.
ternyata semua perjuangan dari indonesia sampe kairo sampe india benar-benar WORTH IT.
March 1st, 2008 at 6:40 pm
the best film I ever seen! keren! ga nyangka dengan masalah yang banyak, filmnya bener2 sukses.. sekedar info, ketika saya nonton, yang tersis cuma 2 bangku di bagian bawah.. KERENNN BUANGETTT!!!!
March 2nd, 2008 at 1:04 am
Alasan saya ingin nonton Ayat2 Cinta:
1. Saya suka Mas Hanung dan karyanya.
2. Saya suka Fedi Nuril, akting dan karya musiknya.
3. Saya suka karya2 Kang Abik.
Selamat ya buat seluruh kru Ayat-Ayat Cinta, laku keras filmnya. (saya blm sempat nonton, kehabisan terus)
Buat mas Hanung.. REQUESt.. abis ini bikin film ttg anak2 dong.. yang bisa ditonton anak2..tapi isinya yang menyentuh bidang pendidikan, antara si kaya dan si miskin.. dikemas segimana mungkin biar anak2 kaya di indonesia bisa bercermin dari film untuk tidak bermewah2 dan teringat untuk peduli dengan yang kurang beruntung.
Saya yakin dengan kebrilianannya MAs HAnung bisa menghadirkan dongeng klasik kaya-miskin jauuuuuuh lebih baik daripada sinetron.
MAkasih mas..
-seorang guru prasekolah yang mulai cemas dengan budaya pop dewasa yang terlalu banyak diserap anak2 masa kini-
March 2nd, 2008 at 9:29 am
alhanmdulillah semua sudah berlalu ya mas…jujur aku kagum skali dengan Ayat-ayat cinta karya mas hanung (keep the good work…),walapun banyak adegan yang di hilangkan (tidak sama persis seperti di novel kang abik) tapi mengingat banyaknya kendala saya pun maklum,malah jujur waktu nonton filmnya saya kira shootingnya di mesir langsung terutama adegan saat fahri berbincang dengan maria di jembatan di atas sungai nil dan beberapa adegan lainnya…tapi baru tau setelah baca blog mas hanung ini…keren banget mas,dan selamat ya,mudah - mudahan allah mengizinkan mas hanung untuk memoroduksi film tentang islam lagi terutama karya kang abik,amiiiiin.
March 2nd, 2008 at 5:27 pm
assalamu alaikum wr wb mas
saya salut dengan kerja keras mas and kru AAC. untuk mencapai sesuatu yang baik dan di jalan Allah memang jalannya berliku tapi yakin mas kalau Insya Allah hasilnya manis semanis madu. saya juga senang karena mas masih memiliki idealisme dalam bekerja yang mungkin sekarang ini banyak orang tidak memiliki itu dan memilih lebih pragmatis untuk kepentingan sendiri-sendiri. saya sudah bosan liat film horor yang tidak pernah kuliat horor malah saya sering tertawa menontonnya karena tidak habis pikir kok hal-hal yang seperti itu diangkat menjadi film. karena hal-hal yang berbau mistis itu hanya memberikan informasi buat kita kalau toh ada pelajaran saya kira tidak sampai mempengaruhi seseorang. berbeda ketika film itu berkisah tentang agama atau idelaisme berpikir yang berasal dari seorang tokoh. nonton film dokumenter tentang seseorang saja kita bisa terpengaruh. sukses ya mas, btw di jogja rameeee banget yang nonton sampai-sampai saya dan teman harus antri buat nonton esok harinya. kemungkinan film ini ditonton oleh lebih dari sejuta orang, belum lagi yang nonton berulang-ulang. terus membuat film buat agama kita (Islam) ya mas, semoga ini jalan buat mas menuju surga, Amiiin. wassalam
March 2nd, 2008 at 8:43 pm
hehehe namanya juga 200 juta orang indonesia, gak mungkin sesuai dengan pikiran mereka. Jadi kalo ada persepsi yang berbeda dari novel dan film-nya bukan kah itu kekayaan dari pemikiran dan persepsi atau imajinasi 200 juta orang tersebut..
kutipan dari orang bijak: ‘Mencoba menyenangkan orang lain adalah aktivitas yang berbahaya
Seseorang ada kalanya tidak suka terhadap anda. Setiap orang akan menghadapi rasa ketidak-sukaan, meremehkan, atau mengabaikan anda sekali waktu. Disamping itu, anda juga tidak akan selalu tau apa yang diinginkan orang lain. Santai saja, mereka yang mencintai anda tanpa syarat adalah seseorang yang pendapatnya harus anda perhatikan. Sisanya sebaiknya anda acuhkan. ‘
Tetap semangat dan pantang putus ASA Mas Hanung!!!!!!!!!
March 2nd, 2008 at 8:43 pm
Assalamualaikum mas Hanung…
Aku udah nonton film AAC hattrick mas … alias 3 kali..hehehe… Setiap nonton, penontonnya selalu penuh. Tapi alhamdulillah deh, itu kan tandanya orang2 Indonesia masih banyak yg suka film bertema agama sprti ini. Atau mungkin bosen dengan film2 bertema itu2 aja(horor ato percintaan ABG).
Thanx juga mo sharing ke kita tentang kisah pembuatan film ini. Kalo ga baca, aku ga akan pernah tau giman susah dan ribetnya bikin film. Tapi hasilnya very worthy mas. Baguss banget (buktinya nonton smp 3 kali…:))
It’s the greatest Indonesian movie I ever watched…(ga bermaksud mengecilkan karya2 mas sebelumnya loh)
Kalo ada waktu buka komen aku tentang film AAC ini di http://simplywiwin.multiply.com/reviews/item/4/Ayat_Ayat_Cinta?replies_read=14 barangkali ada komentar.
Film ini sangat layak jadi box office. Salute to you and the crew. Ditunggu karya berikutnya..
Wassalamualaikum wr wbr
_wiwin_
March 2nd, 2008 at 9:27 pm
Intinya sih, setelah aku baca Blog mas, perjuangan hidup mati Mas Hanung dan kru yg fight bgt untuk film ini, yg bikinnya bener2 ada misi dan dengan hati + iman tentunya..hasilnya ga nanggung2 toh Mas??
Saya dan teman2 harus beli 4 jam sebelum flim tayang di CITOS..dan itu studio penuh mas..
Film ini ngga hanyay sukses secara materi, tapi yg lebih penting, secara mutu film ini indah..saya selalu super detil memperhatikan film Indonesia, dari waredrobe, kalimat tokoh dan gerak-gerik, make up dan jalan cerita. Hebatnya mas Hanung yg bisa mengarahkan para pemain, Rianti yang kita tahu periang di MTV, bisa kita liat acting nya, penjiwannya yg OK dari mata dibalik cadar hitamnya
Krn dasar novelnya udah keren, kata temen2 saya sih yg udh baca- filmnya mau ga mau harus keren, dan alhamdulillah, 2 thumb up deh buat mas hanung, filmya sangat keren, sangat menyentuh kalbu, buat saya sbg muslim, sekaligus ‘menampar’ saya secara halus, sudah kenalkah saya dengan nilai2 islam, dgn baik?
Hebat mas, di tengah film2 indonesia ABG tentang cinta yg picisan, film2 hantu/ setan yg ga jelas dasarnya, film2 hidayah / seolah2 membawa 2 islam, ttp jauh dari islam dan logika
Seandainya saja film ini dibuat di mesir ya Mas, pasti Mas hanung lebih bebas untuk berkreasi membidik gambar2 indah mesir..
Mas, knapa ngga dimasukkan ke festival2 film internasional aja? Masyarakat internasional –baca barat- hanya tahu nilai2 islam yg buruk : terorisme, tidak menghargai perempuan dan pologami
Atau mereka Cuma tau islam dari film2 iran..
March 3rd, 2008 at 2:06 am
Assalamualaikum Wr. Wb….Subhanallah..ms Hanung perjuangannya sangat berat sekali…dan sekarang setelah flm Ayat Ayat Cinta tayang, nyatanya seimbang dgn apa yg ms Hanung dkk perjuangkan…betapa larisnya film Ayat Ayat Cinta diputar di bioskop seluruh Indonesia dan hingga sekarang penontonnya masih membludak…sungguh,perjalanan&perjuangan panjang yg luar biasa utk ms Hanung dkk..salut bwt ms Hanung yg dgn istiqomah tetap berniat merampungkan film ini sampai selesai,teringat pesan Ibunda yg begitu berharga,ms Hanung mampu menorehkan perjuangan yg mendalam…Jazakillah Khairan Katsira…
Teruslah berkarya tentang keindahan Islam ms Hanung!
March 3rd, 2008 at 6:36 am
Assalamualaikum Wr.Wb…
Mas Hanung, kemarin saya nekad nonton Ayat-ayat cinta sendirian di bioskop salah satu mall di surabaya. Sengaja saya pilih yang jam putarnya siang karena saya sadar saya pergi sendiri. Suami saya kebetulan sedang sibuk dengan operasinya (beliau seorang dokter bedah), dan saya pergi nonton tanpa izin beliau (saya hanya izin mau pergi ke mall tanpa bilang kalo sebenernya mau nonton. Beliau tidak keberatan),,,semoga Allah mengampuni,,,Karena suami saya gak mungkin bisa nemenin dan kalo saya ijin untuk pergi sendiri pasti ga boleh. Padahal saya udah pingin banget nonton film ini. Kebetulan nanya kanan-kiri, temen-temen sibuk semua dan gak ada yang bisa diajak nonton bareng…Waduh, kenapa jadi curhat ya??
Dan saya berpegang teguh pada niat untuk tidak nonton film bajakannya, apalagi setelah baca gimana perjuangan mas untuk memvisualisasikan karya besar seorang Habiburrahman El Shirazy, sehingga tidak cuma indah dalam imajinasi tapi bisa dinikmati seolah nyata di depan mata.
Seperti saat baca bukunya, sayapun menangis waktu nonton filmnya. Kalau boleh saya meminjam istilah Kang Abik, “Hati saya gerimis” sepanjang saya menghayati detik demi detik kisah yang dilalui Fahri, Aisha, Maria, Nurul, Noura…Memang apa yang mas bangun dalam film itu menurut saya sangat jauh berbeda dengan versi cerita asli Kang Abik dalam novel. Tapi saya memandang dari perspektif yang berbeda. Mas sudah menempatkan tiap adegan pada runutan yang tepat, sehingga memudahkan penonton untuk mengerti alur cerita dalam waktu singkat meskipun sebelumnya belum pernah membaca novel aslinya. Memang kalo mau mem-film-kan persis seperti cerita aslinya, pasti bisa jadi sinetron berseri…Gak mungkin tuntas dalam 2,5 jam!! Harus diakui mas Hanung lebih mengedepankan kisah cinta antara tokoh-tokoh sentral, saya mahfum. Segi komersil tetap harus dipertimbangkan. Tapi menurut saya semua sudah proporsional kok!!! Jadi mas ga usah ambil pusing meskipun saya baca di beberapa blog, banyak pencinta “ayat-ayat cinta” yang protes dan kecewa dengan versi layar lebar cerita ini. Bukannya membela mas Hanung, tapi saya rasa Novel dan Film Ayat-ayat Cinta adalah satu kesatuan dengan “taste” yang beda, dan itu justru yang menarik. Buat yang sudah pernah baca novelnya insyaAllah akan masih ngerasa surprise nonton filmnya, dan buat yang lebih dulu nonton filmnya juga InsayaAllah masih akan nemuin keindahan-keindahan yang beda saat baca buku novelnya.
Setelah keluar dari Bioskop saya langsung ke toko buku di mall itu. Saya jadi ketagihan baca novel karya Kang Abik. Terus terang lewat novel dan film ayat-ayat cinta, saya baru pertama kali ini merasakan memperoleh hikmah yang begitu merasuk sampai relung-relung jiwa saya, dan menyadarkan saya betapa kecilnya pengertian saya selama ini tentang Agama yang saya anut sejak lahir dan betapa tipis iman saya sebagai muslimah…..Alhamdullillah Allah menyadarkan saya lewat keindahan kumandang “Ayat-ayat Cinta” Akhirnya pilihan saya jatuh pada “Ketika Cinta Bertasbih” yang baru beberapa menit saja selesai saya baca. Saya rasa ceritanya apik juga untuk difilmkan mas…Saya harap Mas Hanung tetap semangat untuk menelorkan film-film islami lainnya, dengan tetap memegang teguh amanat ibunda Mas yang sangat bijaksana. Tentunya dengan sentuhan Islami yang lebih halus dan bersahaja. InsyaAllah kita sebagai ummat dapat bangkit dari keterpurukan imej yang selama ini ditudingkan orang2 karena ulah segelintir saudara-saudara kita yang tidak bertanggung jawab. Aminn…Sukses terus untuk karya-karya selanjutnya, Mas Hanung…
Wassalam…
March 3rd, 2008 at 8:35 pm
Saya terharu!
Setelah membaca perjuangan mas Hanung dalam membuat film ini. Subhanaallah…..Allah SWT selalu melihat proses dari setiap usaha kita, mas..Yakinlah semua yang dimulai dengan niat yang baik insyaallah akan mendapatkan hal yang baik juga..
Mudah2an Ayat-ayat Cinta bisa jadi Blockbuster, ya, di dunia PErfilm-an Indonesia
March 4th, 2008 at 5:04 am
Slam Le Kum..
Bar moco tulisane mas Hanung,,
aq,,
aq,
aq,,
(speechless,,terharu,,campur aduk,,berlebihan.. ^^)
Gur iso ngomong SALUT nggo mas Hanung..
20 jempol tak acungke nggo mas Hanung.. (drijiQ jempol kabeh.. T_T)
Smangat n Sukses trus..!!!
tak enteni film2M liane..
ciyaow…
Wasskum..
March 5th, 2008 at 2:03 am
Salut…
top markotop mas..
susah ngomongke… apik e…
film sing marak ke aku nangis bombay neng bioskop…
keren…
mbuh opo maneh sing iso tak omongke
sing genah… apik tenan…
meskipun…
tak seperti di novel…
tapi filmnya agak luwih manusiawi lah…
meskipun… ku tetap tak mendukung poligami… kecuali istri kedua mati cepet koyo neng film… hehehe…
piss, sori yen boso jowo… soal luwih susah ngomongke neng bahasa indonesia
March 6th, 2008 at 4:47 am
salut.2 film maz hanung bikin saya ngerti akan hidup .aac dan cas hhe ..
gag usa dipeduliin org mo kasih kritik apa ke kita .toh mereka hanya bs melihat,tidak merasakannya sendiri …
sempurna hanya milik Alloh.
March 6th, 2008 at 4:54 am
“Tapi apa itu idealisme? Apakah Kang Abik dan jutaan pembaca AAC mengerti soal idealisme ini? Apa yang mereka bisa berikan buat mengganti segudang persoalan kami disini? Mereka tidak lebih dari sekedar penonton yang menuntut hiburan atau membanding-bandingkan Film dengan Novelnya. Lantas jika tidak sama dengan Novelnya terus mencaci maki, menganggap bodoh dan kafir sutradara yang membuat. Karena hal-hal islami dalam Novel tidak tampak, tidak terasa.”
Subhanalloh…saya termasuk yang tadinya tidak mengerti, mas, bahkan setelah menonton filmnya di cinema. Dan Mas Hanung, setelah saya lengka baca keempat cerita dibalik layarnya ini, adalah orang yang telah memberi saya pencerahan yang luar biasa, akan idealisme yang Mas Hanung katakan ini…
SEKARANG, INSYAALLOH SAYA MENGERTI…
mengerti dengan penuh haru apa yang telah mas dan semua kru lalui demi film ini…
Semoga Allah senantiasa memberikan Mas Hanung kekuatan, kesabaran dan keikhlasan yang tak terbatas untuk terus menghasilkan film yang menggugah, baik didepan maupun dibelakang layarnya…
Terimakasih atas diselesaikannya film AAC dan terimakasih untuk pencerahan yang luar biasa…ternyata benar, lewat film ini, banyak orang yang mendapat hidayah, saya salah satunya…
http://cikicikicik.multiply.com/journal/item/93
http://cikicikicik.multiply.com/links/item/7/
March 6th, 2008 at 8:07 am
Ya Alloh saya baca blog ini terhenyak juga…kayanya cerita pembuatan AAC bisa difilmkan juga mas…semangat mas hanung..buat terus film Indo di luar negeri..AAC bukan yang terakhir..tema budaya diangkat juga dong mas
March 7th, 2008 at 11:03 pm
Assalamualaikum warahmatullah….
Subhanallah !!! Mas Hanung, jazakumullah khoiran katsir.
Terimakasih atas segala usahanya untuk membuat film ayat-ayat cinta.
Sebelumnya saya sempat ragu film ini akan tidak sesuai dengan novelnya.
Dan itu benar telah saya buktikan setelah saya menontonnya bersama teman-teman saya yang telah membaca novelnya. Dan saat menonton saya tidak konsen terhadap filmnya karena teman samping kanan kiri saya sibuk mengkritik film mas Hanung ini (maaf, termasuk saya). Tapi saat saya tonton untuk yang kedua kalinya (karena merasa belum puas) pendapat saya yang pertama terbantahkan. Ditambah lagi dengan promosi dari seorang teman yang menggebu-gebu saat saya nyatakan pendapat saya yang pertama tadi. Saya tahu segala sesuatu pasti ada kekurangan dan kelebihannya. Tapi saya salut Mas Hanung berhasil membuat novel religi menjadi sebuah film dan menempuh segala kesulitan yang tidak semua penikmat film alami.
Sekali lagi terimakasih. Dan maaf jika ada kata-kata saya yang salah.
Wassalamualaikum warahmatullah….
March 8th, 2008 at 11:04 pm
Assalamu’alaikum,,,
tiada sesuatu yg sempurna Mas,..
saya suka dg filmna,,,manusia sekali,,,,
film pertama tentang Islam ini mudah2an tidak menyurutkan langkah mas u/ terus membuat film2 selanjutna, yg mudah2an semakin baik,,,
Saluuut,,,
semangat,,,,
Wassalam,,,
March 8th, 2008 at 11:16 pm
Ass Wr Wb
Allahuakbar, Allahuakbar
Mas mau sedikit kasih saran nih.
Gimana kalo AAC dibuat versi sinetronnya atau film serinya. Pemain-pemainnya sama dengan AAC the movie, udah mantep abiss meraninnya. Soalnya sayang banget ada beberapa bagian dari novelnya yang dilewat waktu di filmnya.
Seperti adegan Fahri dan Aisya ke Alexandria atau waktu mereka dateng pertama kali ke Flat mereka dan Aisya cerita tentang ayahnya. Kayaknya kalau adegan itu ada di filmya walaupun gak terlalu detail, bakalan tambah heboh. Gimana mas?
Walaupun secara keseluruhan AAC the movie tidak keluar alurnya dari novel AAC itu sendiri dan AAC the movie menurutku
merupakan film Indonesia terbaik yang pernah dibuat.
Gak kayak sekarang banyak film-film Indonesia yang temanya itu-itu aja.
Kalo gak hantu ya kisah percintaan remaja yang isinya
bisa dibilang gak Islami.
Sekali lagi salut buat mas Hanung atas jerih payahnya dalam mengangkat AAC ke layar lebar. Semoga bisa menjadi penyejuk batin bagi semua yang menontonnya.
March 9th, 2008 at 11:32 am
Ass. Wr. Wb
emang aku belum baca bukunya….
tapi aku mau jujur aja….
cerita2 awalnya…..ntah kenapa ….ada saat dimana ada titik yg aku ngerasa jenuh kali ya…alurnya saat scene itu lama banget.
tapi overall aku suka……
tapi berhubung di bioskop tempat aku nonton itu dudut banget…..
backsound-nya kekencengan…trus ada perpindahan scene yg keliatan banget maksa motongnya….jadinya mengurangi keasyikan nonton.
haduh……BT jg sih…..
tpai…gara2 AAC ini….pilekku kambuh…lantaran nangis bombay.
hehehehehe…..
ditunggu film-nya yg laen ya mas….
jgn horor…..aku ga suka.
yg berat atau nilai edukatif….tapi fun jg.
Wass. Wr. Wb
March 9th, 2008 at 11:36 am
o iya…ditunggu jg film lucunya yah……hehehehehehe………..
pokoknya komedi yg berbobot gitu mas…..
n pokoknya…..say no to HOROR….
hahahahahahaha……
scr aku-nya penakut.
March 12th, 2008 at 4:49 pm
The movie…. it is the fruit of the long and winding journey…
Thanks for the hard work… This movie has touch my heart… deeply….
March 12th, 2008 at 10:54 pm
Assalamualaikum Mas Hanung,
Wow, BRAVOO…..
Filmnya BUAGOOOS buanGEtz…
Meny3ntUH, sampe dalem sedalem2nya….
G@ sia2 Koq, Mas. Penderitaan en Perjuanganmu…..
Coz you know ? Do’a Ibu Menyertaimu….
Arisa / Jkt
March 12th, 2008 at 11:24 pm
Assalamualaikum Mas Hanung…
maaf ya Mas Hanung, sebelum membaca ini, setelah nonton AAC aku “ngomel-ngomel” karena aku ngerasa banyak yang kurang pas dengan buku nya…
Banyak bagian yang kepotong.. dan di ubah… Menurut aku, indahnya Cinta antara Fahri dan Aisha kok rasa nya kurang dapat ya.. trus karakter Aisha juga kurang dapet… kurang soleha.. (mgk karena karakter rianti sbg VJ udah lengket di mindset aku)soalnya ada bagian yang dimana Aisha mempertanyakan latar belakang Fahri padahal di buku nggak ada.. apa karena supaya lebih realis ya?
sampai tadi malam saat aku nonton wawancara Mas Hanung di SCTV. Aku sempet mau telpon mau ngelepasin “unek” tp nggak bisa masuk2.. so karena aku penasaran jd nya aku cari tahu di blog..
TERNYATA….. susah ya bikin film hehehe…Aku sampai terharu..
Jd ngerti kenapa banyak yang harus “disesuaikan”..
Semoga Mas Hanung makin semangat untuk membuat film2 bermutu lainnya..
tulisan Mas Hanung juga bagus.. Mas kayaknya bener deh..komentar beberapa coment lain.. Mas Hanung bakat nulis.. kita tunggu Novelnya,,,
March 14th, 2008 at 5:24 am
Salut buat mas hanung……..
film AAC bagus banget…walaupun ada adegan2 yg ilang..mis nich persahabatan fahri ama teman2 kosnya,saling toleransi antar umat beragama antara fahri am ibu kosnya(mamanya maria)dll…mungin klo semua adegan ada durasinya pasti tambah lama ya?….tp tetap top bgt. ditunggu karya selanjutnya dech mas…
tetap semangat en terus berkarya.
March 14th, 2008 at 10:12 am
Ass.Mas Hanung.
Setelah baca blog Mas Hanung, saya jadi makin yakin kalau Mas Hanung adalah jabang bayi calon sutradara besar yang disegani dan sangat ditunggu karya-karyanya. Dan jabang bayi itu telah lahir bersamaan dengan releasenya AAC. Tanpa maksud mengecilkan 6 film karya Mas Hanung sebelumnya. Bravo. Terus terang saya terharu baca behind the scene-nya AAC, luar biasa berliku jalannya, tapi barokah Allah menunggu di belakangnya. Manusia memang harus belajar sabar untuk mencapai apa yang diimpikan. Seperti mimpi saya kalau someday Mas Hanung mau memfilmkan novel saya. Saya sudah mengirimkan contoh novel beserta foto2 dokumenter setting tempat novel saya di Labuan Bajo (ujung Barat pulau Flores dekat pulau Komodo) ke MD Entertainment berhubung saya tidak tahu alamat Mas Hanung. Novel saya bercerita tentang kisah kasih pengabdian dokter di tempat terpencil dengan setting tempat nyata dan sangat indah. Berkisah tentang dokter cewek dan segala perjuangan cita dan cintanya, tapi dibuat dengan gaya bahasa anak muda, diselingi 7 masalah medis yang sering ditemui di daerah terpencil dan relationship diantara para kolega/teman sejawatnya. Saya bikin membungi banget dan apa adanya. Dibaca yah Mas. Kelihatannya Mas Hanung suka film dokumenter. Novel saya semi dokumenter dengan keindahan tempat Labuan Bajo yang luar biasa.
Back to AAC, subhanallah… saya nonton 2 kali dan 2 kali pula menitikkan air mata. Mas Hanung pintar banget bikin adegan yang menggugah jiwa dan menguras emosi.Mas Hanung tidak kalah dengan Ang Lee, Sidney Pollack atau Anthony Minghella ketika men-direct crew film.
Selamat ya Mas. Semoga Allah akan terus menyertai Mas Hanung, keluarga dan karya-karya anda.
Dr. Evy Ervianti, Sp.KK
March 15th, 2008 at 2:48 am
mas hanung knp adegannya kok bnyk dibuang?? padahal itu penting sekali.alur fimnya kok dipercepat?kpn di buat produksi sinetron Ayat-ayaT CinTa??
March 15th, 2008 at 1:42 pm
alhamdulillah filmnya sukses……..aku seneng banget dgn film ini apa lagi aku bisa kerjasama di dalam film ini walaupun hanya 1scene dgn mas HANUNG….sosok yang saya kagumi….saya masih kepingin tanya banyak ttg kesuksesan mas hanung lebih banyak lagi……….kalo ada lagi film2 yg lain ajak2 lagi yach mas……syukron RASHEED
March 18th, 2008 at 7:27 pm
Aslm. Mas Hanung,
terus terang saya kagum sekali setelah nonton AAC. ini rekor film terbanyak yang saya tonton di bioskop (dalam 1 minggu saya nonton di 3 bioskop berbeda!)
saya bukan pembaca AAC, saya baru membaca setelah nonton filmnya. tapi 2 kata yang bisa saya kasih setelah nonton: Luar biasa! mas Hanung bener2 bisa membuat film ini jadi begitu indah.akting para aktor dan aktrisnya juga terasa pas banget! Fedi cocok banget memerankan Fahri (saya setuju dengan komentar mas Hanung yang bilang Fahri itu bukan orang yang sempurna dan Fedi bisa mewakilinya), begitu juga dengan Rianty (Aisha) dan Carissa (Maria).
Film ini mengajak penonton untuk tertawa, menangis dan merenung.
Alhamdulillah ya mas, semua kerja keras tim AAC terbayarkan.
Pokoknya sukses buat mas Hanung dan tim AAC, terus berkarya buat perfilman Indonesia yah
March 21st, 2008 at 8:06 am
Mas Hanung, ternyata kisah di balik produksi AAC ini jauh lebih rumit dari pada roman AAC itu sendiri. Menurutku mas Hanung telah membuktikan sebagai lelaki sejati (mengutip kata ayah mas hanung : “laki2 haru bisa menyelesaikan masalah apa saja”) dan sudah memberikan hadiah terindah utk ibunda tercinta. Terus berkarya mas Hanung. Kami tunggu karya selanjutnya.
March 22nd, 2008 at 10:28 am
mas hanung….kisah yang begitu memberikan pembelajaran sekaligus menantang. alhamdullilah mas hanung dan team bisa melewatinya dan hasilnya masyarakat indonesia bisa menilai , bahwa yang mas hanung berikan begitu besar untuk film ini.
film nya memuaskan bagi saya dan saya tidak mau membandingkan bagus film /novel, karena keduanya adalah dua karya yang berbeda,bestseller bukunya dan boxoffice filmnya…amin.
March 22nd, 2008 at 12:36 pm
Mas Hanung benera kah mo ada AAC versi panjang?
wwwdetikhotcom/index.php/detik.read/tahun/2008/bulan/03/tgl/14/time/071444/idnews/908183/idkanal/229
Seneng Tapi rada gak ikhlas setelah ku baca kisah2 dibalik pembuatan AAC
March 22nd, 2008 at 5:28 pm
3 juta…3 juta..3 juta
penonton di indonesia.
mas hanung yang diberkahi Alloh SWT,
terjadi juga film masterpiece anda. bersyukurlah mas. lewatkan saja kualitas akting pemain atau kualitas visual atau setting yang nggak sesuai harapan dan lain-lain.
keep silent. internalisasi. renungkanlah mas. bisa jadi karya anda selanjutnya tidak sefenomenal ini. anda di berkahi dan mudah-mudahan di rahmati Alloh SWT.
ini kehendak takdir. yang bisa melambungkan prestasi anda memvisualisasikan gagasan, konsep, ide, cerita. dari apapun sumbernya. jangan sampai ini menjadi sekedar titik balik. hanya butuh 3 minggu untuk sampai angka 3 juta penonton. bisa dibayangkan betapa banyak sutradara yang iri pada anda, mas hanung. dan anda akan di kritisi oleh pandangan mereka. dari sisi artistik visual lah, akting pemain lah, pokoke macem-macem. karena mereka tidak yakin bisa menyusul prestasi yang diraih filem ini. mungkin merenung di depan ka’bah bersama istri, orangtua dan orang-orang yang ingin anda bahagiakan bisa dimulai saat ini, yah dimulai dari umroh bareng kalau perlu disponsori oleh producer (kan sudah untung :)hehehe). kalau bisa jangan terima tawaran direct dulu sementara. kasih spasi.
btw, saya salut untuk anda. mudah-mudahan Alloh selalu memberikan keberkahan untuk anda. Dan Sineas lain bukan sekedar terpicu untuk menghasilkan filem bagus. tapi filem bagus dengan nilai moral yang di tawarkan Islam kepada dunia. Sukses Mas Hanung, seperti kata klise ” kita tidak dapat mengubah arah angin tetapi kita dapat mengubah arah layar Kapalnya ”
Alloh Be With You All.
March 23rd, 2008 at 1:36 am
suksessss …..bagi mas hanung …semoga malan mas hanung dibalas…//Aq trmsk pengge mar AAC .,tpi snagat kerugian yang besar bgi qta krna yg mendapatkan keuntungan dalam film AAC adlh orng kafirr ,semoga mas hanung dlm film KCB brkrj sama dng peroduser muslim,mungkin sama bang DEDI MIZWAR gtu.saya ngt senag dngn adanya film AAC krn dng film ini bisa mngbh imej per fileman indoseia yg bnyk adegan mistiknya dngn mengantinya dngn film islami,,,semoga mas hanung diberi kekeuatan dalam membangun perfilman indonesia dng dakwahh…AMINNNNN….ALLAH HUAKBAR….!!!!!!
March 25th, 2008 at 11:00 pm
mas hanung..
jujur g speechless..
udah banyak yang ngasih komentar tentang ini,,
jujur g memang termasuk dalam beberapa orang yang disebut mas hanung sebagai ‘Mereka tidak lebih dari sekedar penonton yang menuntut hiburan atau membanding-bandingkan Film dengan Novelnya. Lantas jika tidak sama dengan Novelnya terus mencaci maki, menganggap bodoh dan kafir sutradara yang membuat. Karena hal-hal islami dalam Novel tidak tampak, tidak terasa’ walaupun gue bukan salah satu penggemar novel itu, tapi cercaan itu sempet keluar dari mulutku.. (maaf.. maaf.. maaf.. :p)
g yakin sekarang mas hanung sudah tersenyum bahagia melihat kata ‘3 juta penonton’ aku yakin itu hal yang paling terindah yang pernah mas hanung raih.. (dibandingkan apapun juga..)
g harap bisa berada di posisi itu ketika g di berikan kesempatan untuk membuat film..
manusia memang tidak sempurna, kecacatan pasti ada didalamnya namun.. asal kita telah memberikan yang terbaik Allah pasti akan membalasnya dengan setimpal..
March 28th, 2008 at 1:21 am
klo aku blg perjuangan mas hanung ini byk bgt,dr yg mudah sampai yg sulit sekalipun.km bisa jalani dan tempuh itu semua,aku yakin past Allah akan kasih jln yg terbaik bwt karier mas hanung.met berkarya untuk film2 mu yg mendatang yach untuk lebih bagus lagi.cayooo…….
March 30th, 2008 at 8:43 pm
Assalamualaikum,Wr Wb……..
Subhanawlah…..
Aku sangat kagum akan perjuangan en kegigihan mas Han’ dalam membuat filem ini yang mana pada awalnya saya juga merasa kecewa akan hasilnya, sangat beda jauh dengan apa yg kita harapkan bersama. Tentang kota kairo diwaktu senja dng lampu-lampunya yg indah…
sungai Nil dikala senja…
pemandanga kota dr atas apartemen fahri dan aisyah dikala malam…
Mesjid, kampus Al-Ashar kermaian jalal-jalan di mesir…
dan padang pasir…yang aku rasa semuanya belum sampurna,sesempurna harapan mas Han’. tapi aku ttp salut akan perjuanganmu.
Maaf yah….
Beribu-ribu mamaf aku ucapkan dalam hati en sanubariku…
pada awalnya
jauh hari sebelum semua orang membicarakan filem atau novelnya aku sudah baca bukunya itupun setelah di beritahukan oleh saudara-saudaraku, mereka semua mengaku suka dan sempat menitikkan air mata ketika membacanya, sedang saya pribadi mengangap novel ini biasa-biasa saja, tapi saya tidak memungkiri cukup banyak pesan agamis yg tersampaikan lwt tulisan kang abik ini..
Tapi setelah menonton filemnya en membaca Blog mas Han’ ini saya kepengen baca lagi bukunya..
Sampaikan salam saya bwt Kang Abik..
Kami semua menuggu lagi karya-karyamu berikutnya…
Tetap semangat bembuat karya yg lebih membangun dan mendidik lagi..
Wassalam…
Pengagummu..
April 1st, 2008 at 1:56 am
Ass.Wr.Wb
piye mas Hanung??? Terbayar sdh smua kerja keras, beban berat, peluh dan air mata??? Filmnya sukses berat!! TOP abiiisss… ditonton hampir 3 juta manusia!!! hebat beneeeer… jujur aja mas, aku pertama kali nonton d vcd bajakan, itupun bkn punyaku! tapi ndak puas babar blass… akhirnya dgn penuh semangat aku ngantri d bioskop d smg (krn pas pulkam wkt itu)… eeehhh, lha koq trus jd tersedu2 nonton filmnya, pdhal kan harusnya udah nngak ya??? wong udah tau jln critanya… tp tetep aja, dasar cengeng!!
keep up the good work ya mas… and don’t ever give up!!!
Wassalam…
-your #1 fans- =p
April 2nd, 2008 at 12:45 am
assalamualaikum…
Allah pernah berfirman bahwa kalau kita ditimpa musibah maka sebenarnya Allah sayang sama kita..
Memang dalam berbuat kebaikan selalu banyak rintangan dan cobaannya.tapi lihat hikmah dari semua itu..
Ternyata benar kan??Allah sayang sama mas Hanung..Cinta Allah begitu besar buat mas Hanung.Karena niat yang baik dan mulia akan berbuah kemuliaan pula..
AAC ditonton oleh 3 juta lebih penduduk indonesia termasuk presiden kita.Kemuliaan yang sangat berkah bukan???
Saya sangat salut sekali sama mas Hanung..Tiada mampu bibir terucap ketika saya selesai membca blog ini..sungguh bisa memotivasi orang yang membacanya.Bahkan saya sendiri bisa berharap jadi seorang “hanung”.bukan karena kesuksesan dan ketenarannya seperti sekarang ini..Tapi karena kesabaran.kerja keras dan niat baik yang tulus yang datang dari lubuk hatinya.
mas hanung masih ingat.
tetap istiqomah ya mas Hanung!!!!!!!!!
April 3rd, 2008 at 10:17 am
selamat dan sukses atas filmnya yang menembus angka 4 juta penonton. hal ini sebanding dengan kerja keras yang anda dan tim yang begitu gigih. meski dengan modal yang biasa-biasa tetapi anda telah menghasilkan hal yang luar biasa bagi perfilman indonesia. semoga setelah ini lahir lagi film2 yang lebih berkualitas.
April 10th, 2008 at 4:14 pm
assalamualaikum mas hanung..
kebetulan temen kerja saya juga namanya hanung..
mas,,
saia ucapkan selamat (walaupun kaya’nya telat) atas film yang sungguh buat saia tertegun dan terharu..
saya setuju dengan pendapat ibunda mas hanung “kalo uda bisa bikin film, bikinlah film ttg agamamu”..
doa dan harapan saia panjatkan,,
smoga kedepannya mas hanung lebih diberi kemudahan dalam segala hal,,amiin!
salam juga buat bhumi dan keluarga dari azqia en flash.net crew di jogja..
wassalamualaikum (gaya rhoma!)
April 20th, 2008 at 8:01 am
Salut!
April 26th, 2008 at 1:48 am
Mas HANUNG jGN KAPOK ya bikin film religi ini.Sesungguhnya di balik kesukaran ada kemudahan. Mas sudah membuktikan bahwa flm religi sebenarnya sgt dinanti oleh penonton kita. smoga Allah membalas smua perjuangan Mas.\ dan crew. Kami menantikan karya Mas selanjutnya!
April 26th, 2008 at 4:54 am
Mas Hanung…
Slamat yach atas “AAC”
Aq kagum bgt ma Mas Hanung
Smoga apa yg Mas Hanung tlah lakukan N akan Mas lakukan sukses selalu
Amin.Amin.Ya Rabbal Alamin.
April 27th, 2008 at 3:47 am
hallo…mas hanung saya mo ngucapin selamat atas suksesnya film ayat-ayat cinta, saya juga nonton loh!!!!, oh ya!! slamet juga toek film the tarix jabrix,
smoga sukses slalu toek mas hanung.
April 29th, 2008 at 11:06 am
ass, mas hanung
saya aan(nama panggilan}, saya sangat berminat untuk bisa ikut dalam penggarapan film KCB(). ya saya sangat berharap mas hanung dapat mempertimbangkan profil saya….
>>>
May 22nd, 2008 at 4:52 am
tetap trus berkarya mas Hanung.. tambah semangat!
moga2 sukses juga filmnya di malaysia..
lg nunggu diputar filmnya.. sip2..
June 11th, 2008 at 2:48 am
so touching & inspiring…
salut buat maz..
btw.., maz pernah ga kepikiran buat pilm ttg kehidupan dokter…,tapi ga asal nampang ky disinetron…
moga suatu saat maz bisa lihat ada sesuatu disana yg mungkin bisa menginspirasi banyak orang…
gimana2, trnyt doctor is a wounded healer
suatu keberhasilan tersendiri ya kl sebuah karya bisa ampe menginspirasi banyak hati…
ganbatte!!!!!
August 7th, 2008 at 10:34 pm
subhanauloh….
TOP banget ni film, sukses mas…
August 20th, 2008 at 1:54 am
saya mahasiswa FISIPOL UKSW Salatiga jurusan komunikasi, saya sangat tertarik dengan hasil-hasil karya mas hanung, salah satunya film ayat-ayat cinta. film ini memberikan banyak inspirasi, sehingga saya sangat interest untuk membuat penelitian skripsi mengenai film ini. kalo boleh nanya ma mas hanung, pesan apa yang ingin disampaikan dalam film ini?? trims
October 11th, 2008 at 12:58 pm
‘Kalau kamu sudah bisa membuat film. Buatlah film tentang agamamu.’ everytime when u put this tagline …i cant stop my tears ….
October 19th, 2008 at 7:44 am
very nice work, indeed
makasih banyak mas Hanung atas filmnya. kebetulan saya nonton pas lagi pulang liburan ke Indonesia bareng 2 orang temen jepang. di bioskop kami duduk di paling depan. saya nonton sambil nerjemahin arti kata2nya dan maksudnya ke mereka. kelihatannya mereka juga tertarik dan merupakan film dengan nuansa baru yang pernah mereka lihat. kira2 kalo di dubbing ke bahasa jepang bisa gak ya? , hehe
jazakAllah khair
October 30th, 2008 at 9:58 pm
trnyata aa di prlukan pengorbana besar untuk menggarapx,,,,,,,,
nmn krna kesabaran akhirx film aac tayang dan mnjadi film favorit,,,,,,
maz hanung n crew lainx ilove u,,,,,,,,,,,,,,,,,,
December 25th, 2008 at 11:21 pm
halo mas, assalkm…salam kenal dari blogger jember..komment nya dah bnyak, sya cuman pesen aja..tetep konsisten dan istiqomah…yg baik2 kayak smpyan ndak banyak…kl ilang, duh, jd tmh ancur negeri ini…
February 4th, 2009 at 7:01 am
ass.wr.wb
Allah selalu memberi qt cbaan agar qt dpt lbh tegar………
cacian yang mas Hanung trima dari brbagai pihak mdah2an dpt menjadikan mas Hanung Lebih baik dlm berproses ke depan.
saya sbenarnya kagum atas karya2 yang telang Mas Hanung buat.
mgkn saya minta petunjuk, bimbingan, arahan, serta link agar saya dapat mempublikasikan karya2 saya.
wassalam………..
trims
February 11th, 2009 at 8:26 am
Assalamu’alaikum wr wb
Menonton penampilan dik Hanung Bramantyo di TV One malam ini (Rabu 11 Feb jam 19.30 - 20.30) yang membahas “Perempuan Berkalung Surban” (PBS) saya jadi sedih. Wong belum tahu banyak kok sudah merasa tahu banyak, sok sekali, merasa bener filmnya itu, nggak bisa dikoreksi, dan dikandani wong tuwo ra gelem. Dalam Islam itu dasarnya Al-Qur’an dan Hadits. Kalau mau memfilmkan Islam ya kuasai Islam dulu. Kalau ada kasus jangan digeneralisir. TV One juga lucu. Yang diundang berkomentar Musdah Mulia. Apa tidak tahu beliau itu menghalalkan HOMO DAN LESBI. Masak ada Islam begitu. jangan-jangan TV One juga agen yang mau merusak muslim dan Islam dari dalam. Muslim bisa rusak, tetapi Islam nggak lah ya.
Dalam Islam itu ada sabda Rasul saw: “BUKAN TERMASUK UMATKU, ORANG YANG TIDAK MENGASIHI YANG LEMAH DAN TIDAK MENGJORMATI YANG TUA”. Lha diskusi gaya Barat yang muda (Hanung B) dihadapkan dengan tokoh sepuh, pengalaman sejagad, pernah jadi Ketua PBHMI, Wakil Ketua Parmusi atau apa, ya nasional gitu lah levelnya, banyak belajar agama, Lha kok yang muda seenak udelnya menjawab, dengan alasan kebebasan, hak azazi. Tak tahukah sampeyan bahwa sampeyan sedang diadu kayak adu ayam di Bali atau Manila?
Islam melarang debat lo. Maka Pak Ridwan Saidi, jangan mau lain kali debat kayak gitu. Emosi-emosian, yang muda baru kemarin sore sudah sok pintar dan bener. ya itu kan budaya pop, liberal dan kapitalis. Anda sedang dijual oleh TV One.
Dik Hanung, bener kata orang tuwa itu, belajar lagi lah untuk paham Islam dan umat Islam. Jangan hanya untuk popularitas, dik Hanung merusak umat, melukai umat atas nama kebebasan dan hak azazi. Jaulan ya jualan tetapi dirahmati Allah, barokah, jangan dikendalikan liberalitas, sehingga “menjual” umatnya sendiri. Saya dulu salut dengan AAC, tetapi belum lihat PBS kok sudah nek. Ada kata : “Zinahi aku!”. Opo tumon? Ya kalau itu kasus, ya yang bijak menyajikannya dalam film, jangan lalu dik Hanung meyakini itu yang umum (generalisasi). Opo meneh mbah Musdah menyitir Sech Puji, lho apa misalnya si “Fulan” yang berkalung salib misalnya yang doyan sabu, pacar banyak istri satu itu, mbunuh banyak orang juga itu tidak ada, dan lebih mulia. Kan kasus? Nggak usah kita generalisir, orang berkalung salib itu semua begitu.
Kok sepertinya kasus orang Islam disamakan Islam itu begitu. Monggo ingkang fair mawon. Belajar lagi, berkata bijak, berkarya positif, karena pikirannya positif. Ngono yo ngono, ning ojo ngono…………….
Wassalam ww