KISAH DI BALIK PRODUKSI AYAT-AYAT CINTA (bag.Akhir)
Friday, December 14th, 2007Shooting di Jakarta sudah selesai. Aku puas dengan kerja tim AAC yang
solid. Sekalipun berat, tetap commit untuk menyelesaikan film ini
apapun hambatannya. Padahal secara legal, kontrak crew sudah
habis 1 bulan sebelumnya. Artinya, mereka bekerja tanpa ikatan kontrak
lagi. Ini yang membuat aku terharu atas commitment mereka. Terlebih
lagi, banyak diantara mereka non-muslim. Tapi tidak satupun dari
mereka yang mengkaitkan keyakinan itu dengan kualitas kerja mereka.
Sebagaimana sudah direncanakan sebelumnya, meski Allan bisa menyulap
Semarang dan Jakarta jadi kairo. Secara geografis, tidak akan tergambar
jika tidak ada shooting di Kairo. Awalnya producer sudah puas dengan
hasil shooting di Indonesia tanpa perlu shooting di Kairo. Saya sangat
keberatan.
Sebenarnya, dari hasil sisa adegan yang belum
diambil, hanya membutuhkan waktu 5 hari saja shooting di kairo.
Akhirnya producer mengerti dan menjalin hubungan dengan local
production lain di kairo. Local producer itu sering menangani film-film
asing yang shooting di Cairo. Sebuah perusahaan yang juga berpengalaman
d bidang produksi film. Setelah melihat konsep film AAC, dia menawarkan
harga untuk shooting disana selama 5 hari. Jumlah yang diajukan sebesar
3 Milyar untuk shooting 5 hari. Nilai yang bahkan di Indonesia bisa
membuat satu film.
‘Angka yang tidak masuk akal’ kata producerku.
Aku
sepakat dengan producerku, meski aku tahu konsekwensi membuat film
sesuai dengan novel Kang Abik memang berbujet besar. Tapi aku tetap
tidak percaya degan penawaran itu. Setelah kita cek quote yang
diajukan, aku melihat item-item yang tidak rasional. Misalnya, makan
per orang dia budjet kan 100 US$ sehari. Padahal pada saat riset di
sana, aku bisa makan dengan 25 ribu sehari. Bujet penawaran itu tidak
bisa ditawar kecuali kita mengurangi jumlah hari dan kru. Negosiasi
tertutup.
Kemudian muncul gagasan shooting di India dari salah
seorang staf perusahaan MD yang orang India. Dia berjanji bisa
menyediakan lokasi yang kita butuhkan mirip Cairo. Semula aku ragu,
tapi setelah ditunjukkan foto-foto lokasi di India, saya jadi yakin.
Dalam foto itu tergambat Sungai Nil, sudut kota kairo, Taman Al azhar
University, Padang Pasir lengkap dengan unta-unta dan kafilah. Hanya
pyramid saja yang tidak ada. Tapi itu bisa dibuat di studio menggunakan
Computer Graphics Imagery (CGI) yang lebih dikenal dengan special effect.
Disaat persiapan menuju India, tercetus ide untuk tetap bisa shooting
di Kairo dengan dibarengi workshop film buat mahasiswa Indonesia-Al
Azhar. Lalu aku menghubungi PCIM (Pimpinan Cabang Islam Muhammadiyah).
Mereka setuju dengan ideku. Kita bahkan dibantu KBRI. Di Kairo, aku dan
PCIM berencana menggelar workshop dengan peserta anggota PCIM (mereka
adalah mahasiswa Indonesia yang sekolah di Azhar Univ yang menjadi
anggota Muhammadiyah) dan akan Shooting mengambil suasana kota dengan
kamera kecil bersama dengan mahasiswa peserta workshop tersebut.
Biasanya, kegiatan yang mengatasnamakan mahasiswa tidak perlu ijin
berbelit-belit. Maka segala sesuatu dipersiapkan. Dari Jakarta, tim
yang berangkat ke India 20 orang termasuk pemain, tetapi 6 diantaranya
berangkat duluan ke Kairo selama 4 hari. 6 orang tersebut adalah, Fedi
Nuril, Faozan Rizal (Kamera), Kasnan (Asisten Kamera), seorang pengawal
alat, Adi molana (tata suara) dan aku.
Producer setuju dengan
rencana tersebut. Tapi ditengah persiapan itu, muncul kendala di
pengurusan Visa. Karena hari shooting di India dan Kairo berurutan,
membuat pengurusan visa tarik-tarikan antara keduanya. Waktu kita hanya
1 minggu sebelum keberangkatan shooting, sementara mengurus Visa di
India membutuhkan waktu 4 sampai 5 hari karena jumlah orang yang akan
berangkat banyak. Begitupun mengurus Visa Kairo. Akhirnya aku minta
tolong pihak PCIM dengan bantuan KBRI menguruskan visa on arrival.
KBRI setuju dan sudah menghubungi pihak emigrasi cairo bahwa akan
datang tim dari Indonesia berjumlah 6 orang untuk workshop. Kamipun
senang dengan kabar tersebut. Terbayang eksotisnya kota kairo,
kios-kiosnya, menara-menara masjid yang menjulang, jalan raya yang
macet, kampung- el giza. Bahkan pihak KBRI bisa menyediakan fasilitas
khusus masuk kawasan pyramid dengan bebas. Rasa optimisku bangkit lagi.
Akhirnya … aku bisa shooting di Kairo …
Tapi, lagi-lagi semua
itu cuma mimpi. Sesampainya di bagian Check In Bandara Sukarno-Hatta,
aku dan 5 kru lainnya tidak boleh berangkat. Waktu itu kami berencana
terbang ke Kairo dengan Sinagpore Airlines (SQ). Pihak SQ tidak bisa
memberangkatkan kami dengan alasan tidak ada visa. Aku menjelaskan,
bahwa kita dapat fasilitas Visa on Arrival
dari KBRI Cairo. Mereka minta bukti tertulis dari pihak KBRI sebagai
pegangan. Aku tunjukkan undangan dari PCIM untuk workshop atas nama
Muhammadiyah ke pihak SQ. Mereka tidak mau terima. Yang mereka minta
adalah surat tertulis yang menjamin 6 orang yang diterbangkan SQ bisa
diterima di Kairo. Itu tanggungjawab Airlines atas keselamatan
penumpang. Aku segera telpon pihak PCIM untuk menghubungi KBRI.
Ternyata hari itu kantor KBRI libur. Sekalipun bisa terhubung secara
pribadi dengan bagian konsulat KBRI, tapi untuk urusan administrasi
harus melalui kantor. Akhirnya, kami tidak jadi berangkat. Kamera yang
sudah kita sewa, tiket yang sudah kita beli dan segala harapan untuk
bisa shooting di Kairo buyar … Dada ini terasa sakit sekali. Dalam
perjalanan meninggalkan bandara Soekarno-Hatta, tanpa sadar, air mataku
meleleh lagi. Ya Alloh, Apakah aku terlalu kotor memproduksi film ini, maka kau berikan hambatan buatku untuk yang terbaik?
Tidak ada harapan lagi kecuali shooting ke India saja. Untuk saat ini,
sebuah kemewahan bisa membayangkan film ini sesuai dengan harapan Kang
Abik dan pembaca fanatik AAC. Yang bisa aku lakukan hanyalah
menyelesaikan film ini semaksimal yang aku bisa.
Pesawat
Malaysia Airlines take off dari Jakarta membawa 20 Kru dan pemain AAC
beserta dua kopor berisi Kostum pemain, 3 kopor berisi property
keperluan Artistik dan dua kopor lain berisi bahan baku film 35mm serta
kabel-kabel. Kira-kira 8 jam perjalanan, kami mendarat di Banglore
untuk transit. Saat itu malam hari. Udara agak dingin. Pesawat yang
membawa kita ke Bombay baru besok pagi sekitar jam 10 take off dari
bandara. Menurut travel agent di Jakarta, di Banglore kita disediakan
penginapan. Tetapi kenyataannya bukan penginapan sebagaimana layaknya
sebuah hotel transit di bandara international. Kita disediakan satu
apartement dengan 6 kamar. Padahal kami berjumlah 20 orang dimana tidak
semuanya laki-laki. Kopor kami juga banyak. Tidak layak buat kami untuk
menempati satu apartement. Malam itu sudah jam 12 malam. Pihak
administrasi apartement sudah tutup untuk meminta tambahan satu
apartement lagi. Kami kebingungan sendiri. Setelah beberapa lama
terkatung-katung, salah seorang pembantu apartement lain menawari bisa
memakai apartementnya kalau cuma buat semalam, karena pemiliknya sedang
keluar kota. Akhirnya kami patungan menyewanya. Apartement itu untuk
crew dan pemain perempuan. Aku bersama crew laki-laki lainnya saling
tumpang tindih di apartement satunya. Aku dan Rajish (Make up artist)
tidur di sofa depan. Faozan Rizal dan tim kamera tumpuk-tumpukan satu
kamar. Fedi, Oka dan Iqbal tidur satu ranjang bertiga. Lainnya tidur
sekenanya.
Tepat jam 11 siang kami meninggalkan Banglore
menuju Bombay. Kami sudah dijemput sebuah bis yang akan membawa kami 15
jam menuju Jodhpur. Bayangan kami, Jodhpur adalah kota kecil yang tidak
ada bandaranya disana. Tapi ternyata Jodhpur adalah kota wisata. Banyak
turis eropa-Amerika datang kesana menggunakan pesawat, apalagi di
bulan-bulan November. Bandaranya-pun lebih bagus dari Halim
Perdanakusuma. Jadi penggunaan bis semata-mata buat ngirit bujet
produksi, mengingat harga tiket Bombay-Jodhpur di bulan-bulan libur
naik. Kami cuma menghela nafas. 15 jam perjalanan, bayangan kami,
seperti perjalanan Jakarta Surabaya. Tidak apalah, aku bisa istirahat
di bis, pikirku.
Setelah keluar dari bandara Bombay dengan
tumpukan kopor-kopor, kami melihat bis yang disediakan kami kecil.
Warnanya kuning. Bis tersebut bukan selayaknya kendaraan tempuh
Jakarta-Surabaya. Bis itu seperti bis Jakarta-Sukabumi yang diberi AC.
Tempat duduknya sempit hanya memuat 20 orang saja. Sedangkan
kopor-kopor kami banyak. Aku komplain dengan orang india (staff MD)
yang mengurusi kami disana. Dia bilang, bis ini disediakan berdasarkan
bujet dari producer. Kami tetap tidak mau naik. Aku melihat wajah
teman-teman kusut. Tika (line producer AAC) marah dan meminta local
unit menyediakan tiket pesawat. Sayangnya, tiket pesawat ke jodhpur
habis sampai 3 hari kedepan. Setelah berdebat lama, akhirnya kami
disediakan satu mobil kijang khusus untuk kopor-kopor. Allan menyertai
kopor-kopor itu di mobil Kijang. Yang lainnya naik bis. Fedi yang
berkaki panjang menduduki bagian belakang tepat di selasar tengah bis
diapit Rianti, Prita (Pencatat Script), dan Clarissa. Ditengah diisi
Oka, Pao, Tarmiji, Kasnan (tim kamera), Adi molana dan pak Rajish. Di
depan ada Aku, Retno Damayanti (kostum), mbak Tia (asisten Retno) dan
Tika. Seorang supir bernama Ganesh membawa kami membelah negeri India
melintasi Gujarat. Sebuah perjalanan panjang dan melelahkan terbayang …
Perjalanan Bombay-Jodhpur mirip seperti perjalanan Jakarta-Surabaya.
Padang Ilalang terbentang di kiri kanan. Rumah-rumah gubuk,
warung-warung tempat mangkal bis dan Container berderetan sepanjang
jalan seperti di film Iran Café Transit,
jajaran rumah-rumah pedesaan diselingi pohon-pohon besar dan
sawah-sawah tandus berseliweran. Pemandangan luar biasa buatku.
Eksotis. Bis kami melaju bersama dengan puluhan bahkan ratusan
truk-truk. Kadang bis kami berhenti sekedar minum teh hangat India yang
dicampur susu bersama sopir-sopir berkulit hitam. Di perbatasan
Gujarat. Kami mendapat persoalan. Bis kami dilarang melintasi
perbatasan karena dokumen tidak lengkap. Selama 2 jam kami dicuekin,
sementara Ganesh mondar-mandir dari post satu ke post lainnya yang
jaraknya 1 km untuk menyelesaikan administrasi. Terlihat dia begitu
stress, dia meminjam Hp Tika untuk menghubungi seseorang. Terlihat dari
cara bicaranya, Ganesh sedang bertengkar. Mungkin orang itu yang
menyebabkan Ganesh mendapat persoalan. Kami nyaris balik ke Bombay
karena tidak ada ijin melintas. Ditengah situasi panik itu Rianti,
Clarrisa, Oka dan Fedi didatangi militer bersenapan karena mereka
foto-foto.
‘Ini bukan tempat wisata!’ kata Militer itu.
Terlihat wajah Rianti pucat karena takut. Akhirnya Ganesh menjelaskan
ketidaktahuan kami. Merekapun mengerti. Setelah 2 jam lewat dengan
perasaan tidak menentu, kami bisa melintasi perbatasan, melanjutkan
perjalanan atas perjuangan Ganesh. Malam yang panjang terasa. Sekalipun
sulit buat kami tidur di tempat sempit seperti itu, kami tidak bisa
melewatkan rasa ngantuk. Pagi berikutnya kami berhenti di sebuah kota
kecil. Kami menyewa losmen kecil buat mandi dan sarapan. Kami istirahat
selama 4 jam memberikan kesempatan Ganesh tidur. Di tempat itu kami
diliatin penduduk sekitar. Apalagi Rianti dan Clarissa. Orang-orang
India memiliki keramahan berbeda dengan Indonesia. Apalagi bukan di
kota besar seperti Bombay, Delhi atau Madrass. Suara mereka yang keras
membuat kami mengira mereka marah. Tetapi sebenarnya tidak. Di tempat
itu kami baru sadar bahwa kami sudah menempuh 15 jam perjalanan. Tetapi
kami masih berada setengah perjalanan menuju Jodhpur. Setelah membuka
peta baru kami sadar berapa jarak sebenarnya dan berapa waktu tempuh
sebenarnya antara Bombay-Jodhpur. Bombay-Jodhpur berjarak 850km,
Kira-kira 24 jam waktu perjalanan darat jika ditempuh secara non-stop.
Kami merasa ditipu. Fedi yang biasanya diam, kini marah-marah, dia
protes ke producer atas perlakuan ini. Jawab producerku, pihak MD tidak
tahu menau soal ini. Mereka juga minta maaf. Pak Rajish, salah satu
karyawan MD dari India bagian make up artis banyak membantu kami.
Setidaknya membantu kami berkomunikasi. Ternyata, dibalik semua itu ada
yang tidak jujur, memanfaatkan situasi ini untuk mengambil keuntungan.
Aku marah, tetapi aku tahu itu tidak ada gunanya. Akibat dari
kesalahpahaman ini kami kehilangan waktu dan tenaga yang seharusnya
bisa dimanfaatkan buat Shooting. Kami cuma bisa pasrah …
Jam 8 malam, tepat 30 jam perjalanan dari Bombay, kami masuk Hotel. Alhamdulillah,
akhirnya kami bisa merebahkan diri di tempat yang layak. Diatas tempat
tidur aku melepaskan pikiran. Sepanjang hidupku, tidak pernah aku
membayangkan melintasi negeri Gujarat naik bis. Tanpa asuransi, tanpa
perlindungan apapun. Untung tidak ada teroris menghadang kami. Sungguh,
aku sudah tidak kuat. Aku ingin lari saja dari produksi. Toh, tidak ada
jaminan apapun buatku untuk menyelesaikan film ini? Uang? Demi Alloh,
gajiku tidak sebanding dengan persoalan yang aku hadapi. Kalau orang
mengira aku melakukan ini semua demi uang? Demi jualan? Kehormatan? Wallohi,
orang itu benar-benar picik. Tidak ada keuntungan materi yang aku dapat
di film ini. Semata-mata hanya idealismeku saja yang berharap Film
Indonesia tidak hanya diisi oleh Horor dan percintaan remaja Kota. Tapi
apa itu idealisme? Apakah Kang Abik dan jutaan pembaca AAC mengerti
soal idealisme ini? Apa yang mereka bisa berikan buat mengganti
segudang persoalan kami disini? Mereka tidak lebih dari sekedar
penonton yang menuntut hiburan atau membanding-bandingkan Film dengan
Novelnya. Lantas jika tidak sama dengan Novelnya terus mencaci maki,
menganggap bodoh dan kafir sutradara yang membuat. Karena hal-hal
islami dalam Novel tidak tampak, tidak terasa.
Lagi-lagi dadaku
sesak. Tapi aku tidak bisa lari. Aku sudah berjanji kepada diriku,
anakku dan ibuku untuk memberikan yang terbaik.
‘Kalau kamu sudah bisa membuat film. Buatlah film tentang agamamu.’ Kata ibuku yang terus menerus terngiang.
Pagi harinya aku mulai shooting. Dan persoalan seperti tidak selesai.
Dari mulai peralatan yang kami pakai sudah ditinggalkan industri India
5 tahun yang lalu alias butut: Lampu-lampu yang fliker (menghasilkan
cahaya kelap-kelip seperti neon yang habis watt nya), Kamera tua yang
ketika dipakai mengeluarkan bunyi berisik, generator kami yang lebih
layak dipakai buat menyalakan mesin pemarut kelapa dibanding buat
shooting. Lalu kru-kru India yang disediakan untuk membantu kami bukan
kru profesional. Di bagian akomodasi makanan kami selalu datang telat
sehingga banyak yang protes. Tidak hanya kru Jakarta saja yang protes,
kru India juga begitu. Suatu kali pernah mereka mogok kerja tidak
shooting karena hanya di kasih makan sekali sehari. Padahal shooting
sampai jam 12 malam. Di lokasi gurun, kami harus mendaki gunung pasir
dengan jalan kaki sebelum menuju lokasi utama. Kami menggunakan Unta
buat mengangkat Kamera dan perlengkapannya. Kaki-kaki kami sakit
tertusuk tanaman duri. Bibir kami banyak yang pecah karena panas
matahari. Sebelum mencapai tempat lokasi, kami istirahat mirip
kafilah-kafilah yang kehausan ditengah sahara.
Tapi dari
semua kesulitan itu, Alhamdulillah aku bisa menyelesaikannya dengan
baik. Lokasi yang aku dapatkan luar biasa. Kecuali lokasi Gurun, lokasi
Nil, Taman, Rumah Sakit berada di satu hotel peninggalan Kasultanan
Pakistan. Lokasi gurun Pasir kami tempuh 4 jam perjalanan dari Jodhpur.
Melelahkan tapi juga menyenangkan.
3 hari kami melakukan
shooting dan 2 hari sisanya adalah perjalanan. Di hari ketiga,
rombongan kembali ke Jakarta. Aku bersama 20 cann film hasil shooting
di Jodhpur terbang menuju Madras untuk editing dan processing lab.
Sastha Sunu, editor Ayat-Ayat Cinta sudah menungguku disana. Sampai
tulisan ini dikirim, aku masih menyelesaikan proses film Ayat-Ayat
Cinta yang semakin lama semakin rumit secara teknis. Sehingga
mengakibatkan jadwal Tayang Ayat-Ayat Cinta mundur di bulan Januari.
Aku tidak berani menjelaskan kerumitan itu, karena sifatnya technical
sekali. Pendeknya, produksi Ayat-Ayat Cinta adalah produksi yang penuh
dengan cobaan dibandingkan 6 filmku sebelumnya.
Semoga Cobaan ini membuktikan Cinta Alloh masih bersama Kami semua …