Archive for December, 2007

KISAH DI BALIK PRODUKSI AYAT-AYAT CINTA (bag.Akhir)

Friday, December 14th, 2007

Shooting di Jakarta sudah selesai. Aku puas dengan kerja tim AAC yang
solid. Sekalipun berat, tetap commit untuk menyelesaikan film ini
apapun hambatannya. Padahal secara legal, kontrak crew sudah
habis 1 bulan sebelumnya. Artinya, mereka bekerja tanpa ikatan kontrak
lagi. Ini yang membuat aku terharu atas commitment mereka. Terlebih
lagi,  banyak diantara mereka  non-muslim. Tapi tidak satupun dari
mereka yang mengkaitkan keyakinan itu dengan kualitas kerja mereka.
   
Sebagaimana sudah direncanakan sebelumnya, meski Allan bisa menyulap
Semarang dan Jakarta jadi kairo. Secara geografis, tidak akan tergambar
jika tidak ada shooting di Kairo. Awalnya producer sudah puas dengan
hasil shooting di Indonesia tanpa perlu shooting di Kairo. Saya sangat
keberatan.
    Sebenarnya, dari hasil sisa adegan yang belum
diambil, hanya membutuhkan waktu 5 hari saja shooting di kairo.
Akhirnya producer mengerti dan menjalin hubungan dengan local
production lain di kairo. Local producer itu sering menangani film-film
asing yang shooting di Cairo. Sebuah perusahaan yang juga berpengalaman
d bidang produksi film. Setelah melihat konsep film AAC, dia menawarkan
harga untuk shooting disana selama 5 hari. Jumlah yang diajukan sebesar
3 Milyar untuk shooting 5 hari. Nilai yang bahkan di Indonesia bisa
membuat satu film.
    ‘Angka yang tidak masuk akal’ kata producerku.
Aku
sepakat dengan producerku, meski aku tahu konsekwensi membuat film
sesuai dengan novel Kang Abik memang berbujet besar. Tapi aku tetap
tidak percaya degan penawaran itu. Setelah kita cek quote yang
diajukan, aku melihat item-item yang tidak rasional. Misalnya, makan
per orang dia budjet kan 100 US$ sehari. Padahal pada saat riset di
sana, aku bisa makan dengan 25 ribu sehari. Bujet penawaran itu tidak
bisa ditawar kecuali kita mengurangi jumlah hari dan kru. Negosiasi
tertutup.
    Kemudian muncul gagasan shooting di India dari salah
seorang staf perusahaan MD yang orang India. Dia berjanji bisa
menyediakan lokasi yang kita butuhkan mirip Cairo. Semula aku ragu,
tapi setelah ditunjukkan foto-foto lokasi di India, saya jadi yakin.
Dalam foto itu tergambat Sungai Nil, sudut kota kairo, Taman Al azhar
University, Padang Pasir lengkap dengan unta-unta dan kafilah. Hanya
pyramid saja yang tidak ada. Tapi itu bisa dibuat di studio menggunakan
Computer Graphics Imagery (CGI) yang lebih dikenal dengan special effect.
   
Disaat persiapan menuju India, tercetus ide untuk tetap bisa shooting
di Kairo dengan dibarengi workshop film buat mahasiswa Indonesia-Al
Azhar. Lalu aku menghubungi PCIM (Pimpinan Cabang Islam Muhammadiyah).
Mereka setuju dengan ideku. Kita bahkan dibantu KBRI. Di Kairo, aku dan
PCIM berencana menggelar workshop dengan peserta anggota PCIM (mereka
adalah mahasiswa Indonesia yang sekolah di Azhar Univ yang menjadi
anggota Muhammadiyah) dan akan Shooting mengambil suasana kota dengan
kamera kecil bersama dengan mahasiswa peserta workshop tersebut.
Biasanya, kegiatan yang mengatasnamakan mahasiswa tidak perlu ijin
berbelit-belit. Maka segala sesuatu dipersiapkan. Dari Jakarta, tim
yang berangkat ke India 20 orang termasuk pemain, tetapi 6 diantaranya
berangkat duluan ke Kairo selama 4 hari. 6 orang tersebut adalah, Fedi
Nuril, Faozan Rizal (Kamera), Kasnan (Asisten Kamera), seorang pengawal
alat, Adi molana (tata suara) dan aku.
    Producer setuju dengan
rencana tersebut. Tapi ditengah persiapan itu, muncul kendala di
pengurusan Visa. Karena hari shooting di India dan Kairo berurutan,
membuat pengurusan visa tarik-tarikan antara keduanya. Waktu kita hanya
1 minggu sebelum keberangkatan shooting, sementara mengurus Visa di
India membutuhkan waktu 4 sampai 5 hari karena jumlah orang yang akan
berangkat banyak. Begitupun mengurus Visa Kairo. Akhirnya aku minta
tolong pihak PCIM dengan bantuan KBRI menguruskan visa on arrival.
KBRI setuju dan sudah menghubungi pihak emigrasi cairo bahwa akan
datang tim dari Indonesia berjumlah 6 orang untuk workshop. Kamipun
senang dengan kabar tersebut. Terbayang eksotisnya kota kairo,
kios-kiosnya, menara-menara masjid yang menjulang, jalan raya yang
macet, kampung- el giza. Bahkan pihak KBRI bisa menyediakan fasilitas
khusus masuk kawasan pyramid dengan bebas. Rasa optimisku bangkit lagi.
Akhirnya … aku bisa shooting di Kairo …
    Tapi, lagi-lagi semua
itu cuma mimpi. Sesampainya di bagian Check In Bandara Sukarno-Hatta,
aku dan 5 kru lainnya tidak boleh berangkat. Waktu itu kami berencana
terbang ke Kairo dengan Sinagpore Airlines (SQ). Pihak SQ tidak bisa
memberangkatkan kami dengan alasan tidak ada visa. Aku menjelaskan,
bahwa kita dapat fasilitas Visa on Arrival
dari KBRI Cairo. Mereka minta bukti tertulis dari pihak KBRI sebagai
pegangan. Aku tunjukkan undangan dari PCIM untuk workshop atas nama
Muhammadiyah ke pihak SQ. Mereka tidak mau terima. Yang mereka minta
adalah surat tertulis yang menjamin 6 orang yang diterbangkan SQ bisa
diterima di Kairo. Itu tanggungjawab Airlines atas keselamatan
penumpang. Aku segera telpon pihak PCIM untuk menghubungi KBRI.
Ternyata hari itu kantor KBRI libur. Sekalipun bisa terhubung secara
pribadi dengan bagian konsulat KBRI, tapi untuk urusan administrasi
harus melalui kantor. Akhirnya, kami tidak jadi berangkat. Kamera yang
sudah kita sewa, tiket yang sudah kita beli dan segala harapan untuk
bisa shooting di Kairo buyar … Dada ini terasa sakit sekali. Dalam
perjalanan meninggalkan bandara Soekarno-Hatta, tanpa sadar, air mataku
meleleh lagi. Ya Alloh, Apakah aku terlalu kotor memproduksi film ini, maka kau berikan hambatan buatku untuk yang terbaik?
   
Tidak ada harapan lagi kecuali shooting ke India saja. Untuk saat ini,
sebuah kemewahan bisa membayangkan film ini sesuai dengan harapan Kang
Abik dan pembaca fanatik AAC. Yang bisa aku lakukan hanyalah
menyelesaikan film ini semaksimal yang aku bisa.
    Pesawat
Malaysia Airlines take off  dari Jakarta membawa 20 Kru dan pemain AAC
beserta dua kopor berisi Kostum pemain, 3 kopor berisi property
keperluan Artistik dan dua kopor lain berisi bahan baku film 35mm serta
kabel-kabel. Kira-kira 8 jam perjalanan, kami mendarat di Banglore
untuk transit. Saat itu malam hari. Udara agak dingin. Pesawat yang
membawa kita ke Bombay baru besok pagi sekitar jam 10  take off dari
bandara. Menurut travel agent di Jakarta, di Banglore kita disediakan
penginapan. Tetapi kenyataannya bukan penginapan sebagaimana layaknya
sebuah hotel transit di bandara international. Kita disediakan satu
apartement dengan 6 kamar. Padahal kami berjumlah 20 orang dimana tidak
semuanya laki-laki. Kopor kami juga banyak. Tidak layak buat kami untuk
menempati satu apartement. Malam itu sudah jam 12 malam. Pihak
administrasi apartement sudah tutup untuk meminta tambahan satu
apartement lagi. Kami kebingungan sendiri. Setelah beberapa lama
terkatung-katung, salah seorang pembantu apartement lain menawari bisa
memakai apartementnya kalau cuma buat semalam, karena pemiliknya sedang
keluar kota. Akhirnya kami patungan menyewanya. Apartement itu untuk
crew dan pemain perempuan. Aku bersama crew laki-laki lainnya saling
tumpang tindih di apartement satunya. Aku dan Rajish (Make up artist)
tidur di sofa depan. Faozan Rizal dan tim kamera tumpuk-tumpukan satu
kamar. Fedi, Oka dan Iqbal tidur satu ranjang bertiga. Lainnya tidur
sekenanya.
    Tepat jam 11 siang kami meninggalkan Banglore
menuju Bombay. Kami sudah dijemput sebuah bis yang akan membawa kami 15
jam menuju Jodhpur. Bayangan kami, Jodhpur adalah kota kecil yang tidak
ada bandaranya disana. Tapi ternyata Jodhpur adalah kota wisata. Banyak
turis eropa-Amerika datang kesana menggunakan pesawat, apalagi di
bulan-bulan November. Bandaranya-pun lebih bagus dari Halim
Perdanakusuma. Jadi penggunaan bis semata-mata buat ngirit bujet
produksi, mengingat harga tiket Bombay-Jodhpur di bulan-bulan libur
naik. Kami cuma menghela nafas. 15 jam perjalanan, bayangan kami,
seperti perjalanan Jakarta Surabaya. Tidak apalah, aku bisa istirahat
di bis, pikirku.
    Setelah keluar dari bandara Bombay dengan
tumpukan kopor-kopor, kami melihat bis yang disediakan kami kecil.
Warnanya kuning. Bis tersebut bukan selayaknya kendaraan tempuh
Jakarta-Surabaya. Bis itu seperti bis Jakarta-Sukabumi yang diberi AC.
Tempat duduknya sempit hanya memuat 20 orang saja. Sedangkan
kopor-kopor kami banyak. Aku komplain dengan orang india (staff MD)
yang mengurusi kami disana. Dia bilang, bis ini disediakan berdasarkan
bujet dari producer. Kami tetap tidak mau naik. Aku melihat wajah
teman-teman kusut. Tika (line producer AAC) marah dan meminta local
unit menyediakan tiket pesawat. Sayangnya, tiket pesawat ke jodhpur
habis sampai 3 hari kedepan. Setelah berdebat lama, akhirnya kami
disediakan satu mobil kijang khusus untuk kopor-kopor. Allan menyertai
kopor-kopor itu di mobil Kijang. Yang lainnya naik bis. Fedi yang
berkaki panjang menduduki bagian belakang tepat di selasar tengah bis
diapit Rianti, Prita (Pencatat Script), dan Clarissa. Ditengah diisi
Oka, Pao, Tarmiji, Kasnan (tim kamera), Adi molana dan pak Rajish. Di
depan ada Aku, Retno Damayanti (kostum), mbak Tia (asisten Retno) dan
Tika. Seorang supir bernama Ganesh membawa kami membelah negeri India
melintasi Gujarat. Sebuah perjalanan panjang dan melelahkan terbayang …
   
Perjalanan Bombay-Jodhpur mirip seperti perjalanan Jakarta-Surabaya.
Padang Ilalang terbentang di kiri kanan. Rumah-rumah gubuk,
warung-warung tempat mangkal bis dan Container berderetan sepanjang
jalan seperti di film Iran Café Transit,
jajaran rumah-rumah pedesaan diselingi pohon-pohon besar dan
sawah-sawah tandus berseliweran. Pemandangan luar biasa buatku.
Eksotis. Bis kami melaju bersama dengan puluhan bahkan ratusan
truk-truk. Kadang bis kami berhenti sekedar minum teh hangat India yang
dicampur susu bersama sopir-sopir berkulit hitam. Di perbatasan
Gujarat. Kami mendapat persoalan. Bis kami dilarang melintasi
perbatasan karena dokumen tidak lengkap. Selama 2 jam kami dicuekin,
sementara Ganesh mondar-mandir dari post satu ke post lainnya yang
jaraknya 1 km untuk menyelesaikan administrasi. Terlihat dia begitu
stress, dia meminjam Hp Tika untuk menghubungi seseorang. Terlihat dari
cara bicaranya, Ganesh sedang bertengkar. Mungkin orang itu yang
menyebabkan Ganesh mendapat persoalan. Kami nyaris balik ke Bombay
karena tidak ada ijin melintas. Ditengah situasi panik itu Rianti,
Clarrisa, Oka dan Fedi didatangi militer bersenapan karena mereka
foto-foto.
    ‘Ini bukan tempat wisata!’ kata Militer itu.
   
Terlihat wajah Rianti pucat karena takut. Akhirnya Ganesh menjelaskan
ketidaktahuan kami. Merekapun mengerti. Setelah 2 jam lewat dengan
perasaan tidak menentu, kami bisa melintasi perbatasan, melanjutkan
perjalanan atas perjuangan Ganesh. Malam yang panjang terasa. Sekalipun
sulit buat kami tidur di tempat sempit seperti itu, kami tidak bisa
melewatkan rasa ngantuk. Pagi berikutnya kami berhenti di sebuah kota
kecil. Kami menyewa losmen kecil buat mandi dan sarapan. Kami istirahat
selama 4 jam memberikan kesempatan Ganesh tidur. Di tempat itu kami
diliatin penduduk sekitar. Apalagi Rianti dan Clarissa. Orang-orang
India memiliki keramahan berbeda dengan Indonesia. Apalagi bukan di
kota besar seperti Bombay, Delhi atau Madrass. Suara mereka yang keras
membuat kami mengira mereka marah. Tetapi sebenarnya tidak. Di tempat
itu kami baru sadar bahwa kami sudah menempuh 15 jam perjalanan. Tetapi
kami masih berada setengah perjalanan menuju Jodhpur. Setelah membuka
peta baru kami sadar berapa jarak sebenarnya dan berapa waktu tempuh
sebenarnya antara Bombay-Jodhpur. Bombay-Jodhpur berjarak 850km,
Kira-kira 24 jam waktu perjalanan darat jika ditempuh secara non-stop.
Kami merasa ditipu. Fedi yang biasanya diam, kini marah-marah, dia
protes ke producer atas perlakuan ini. Jawab producerku, pihak MD tidak
tahu menau soal ini. Mereka juga minta maaf. Pak Rajish, salah satu
karyawan MD dari India bagian make up artis banyak membantu kami.
Setidaknya membantu kami berkomunikasi. Ternyata, dibalik semua itu ada
yang tidak jujur, memanfaatkan situasi ini untuk mengambil keuntungan.
Aku marah, tetapi aku tahu itu tidak ada gunanya. Akibat dari
kesalahpahaman ini kami kehilangan waktu dan tenaga yang seharusnya
bisa dimanfaatkan buat Shooting. Kami cuma bisa pasrah …
    Jam 8 malam, tepat 30 jam perjalanan dari Bombay, kami masuk Hotel. Alhamdulillah,
akhirnya kami bisa merebahkan diri di tempat yang layak. Diatas tempat
tidur aku melepaskan pikiran. Sepanjang hidupku, tidak pernah aku
membayangkan melintasi negeri Gujarat naik bis. Tanpa asuransi, tanpa
perlindungan apapun. Untung tidak ada teroris menghadang kami. Sungguh,
aku sudah tidak kuat. Aku ingin lari saja dari produksi. Toh, tidak ada
jaminan apapun buatku untuk menyelesaikan film ini? Uang? Demi Alloh,
gajiku tidak sebanding dengan persoalan yang aku hadapi. Kalau orang
mengira aku melakukan ini semua demi uang? Demi jualan? Kehormatan? Wallohi,
orang itu benar-benar picik. Tidak ada keuntungan materi yang aku dapat
di film ini. Semata-mata hanya idealismeku saja yang berharap Film
Indonesia tidak hanya diisi oleh Horor dan percintaan remaja Kota. Tapi
apa itu idealisme? Apakah Kang Abik dan jutaan pembaca AAC mengerti
soal idealisme ini? Apa yang mereka bisa berikan buat mengganti
segudang persoalan kami disini? Mereka tidak lebih dari sekedar
penonton yang menuntut hiburan atau membanding-bandingkan Film dengan
Novelnya. Lantas jika tidak sama dengan Novelnya terus mencaci maki,
menganggap bodoh dan kafir sutradara yang membuat. Karena hal-hal
islami dalam Novel tidak tampak, tidak terasa.
    Lagi-lagi dadaku
sesak. Tapi aku tidak bisa lari. Aku sudah berjanji kepada diriku,
anakku dan ibuku untuk memberikan yang terbaik.
    ‘Kalau kamu sudah bisa membuat film. Buatlah film tentang agamamu.’ Kata ibuku yang terus menerus terngiang.
   
Pagi harinya aku mulai shooting. Dan persoalan seperti tidak selesai.
Dari mulai peralatan yang kami pakai sudah ditinggalkan industri India
5 tahun yang lalu alias butut: Lampu-lampu yang fliker (menghasilkan
cahaya kelap-kelip seperti neon yang habis watt nya), Kamera tua yang
ketika dipakai mengeluarkan bunyi berisik, generator kami yang lebih
layak dipakai buat menyalakan mesin pemarut kelapa dibanding buat
shooting. Lalu kru-kru India yang disediakan untuk membantu kami bukan
kru profesional. Di bagian akomodasi makanan kami selalu datang telat
sehingga banyak yang protes. Tidak hanya kru Jakarta saja yang protes,
kru India juga begitu. Suatu kali pernah mereka mogok kerja tidak
shooting karena hanya di kasih makan sekali sehari. Padahal shooting
sampai jam 12 malam. Di lokasi gurun, kami harus mendaki gunung pasir
dengan jalan kaki sebelum menuju lokasi utama. Kami menggunakan Unta
buat mengangkat Kamera dan perlengkapannya. Kaki-kaki kami sakit
tertusuk tanaman duri. Bibir kami banyak yang pecah karena panas
matahari. Sebelum mencapai tempat lokasi, kami istirahat mirip
kafilah-kafilah yang kehausan ditengah sahara.   
    Tapi dari
semua kesulitan itu, Alhamdulillah aku bisa menyelesaikannya dengan
baik. Lokasi yang aku dapatkan luar biasa. Kecuali lokasi Gurun, lokasi
Nil, Taman, Rumah Sakit berada di satu hotel peninggalan Kasultanan
Pakistan. Lokasi gurun Pasir kami tempuh 4 jam perjalanan dari Jodhpur.
Melelahkan tapi juga menyenangkan.
    3 hari kami melakukan
shooting dan 2 hari sisanya adalah perjalanan. Di hari ketiga,
rombongan kembali ke Jakarta. Aku bersama 20 cann film hasil shooting
di Jodhpur terbang menuju Madras untuk editing dan processing lab.
Sastha Sunu, editor Ayat-Ayat Cinta sudah menungguku disana. Sampai
tulisan ini dikirim, aku masih menyelesaikan proses film Ayat-Ayat
Cinta yang semakin lama semakin rumit secara teknis. Sehingga
mengakibatkan jadwal Tayang Ayat-Ayat Cinta mundur di bulan Januari.
Aku tidak berani menjelaskan kerumitan itu, karena sifatnya technical
sekali. Pendeknya, produksi Ayat-Ayat Cinta adalah produksi yang penuh
dengan cobaan dibandingkan 6 filmku sebelumnya.

Semoga Cobaan ini membuktikan Cinta Alloh masih bersama Kami semua …

KISAH DI BALIK PRODUKSI AYAT-AYAT CINTA (bag.3)

Wednesday, December 5th, 2007

    Bukan sekali ini aku mendapatkan persoalan pada saat membuat film.
Persoalan buatku adalah sahabat karib. Di Dapur Film aku menekankan ke
teman-teman, jika mau terjun ke dunia film, persoalan adalah bagian
hidup kita. Bukan berarti kita mencari persoalan, tapi persoalan harus
kita sikapi sebagai tantangan. Akan tetapi persoalan yang menimpaku
sekarang ini seolah tak berujung. Menangis sudah bukan suatu yang luar
biasa lagi.
    Sejak kabar kita bakal sulit shooting di kairo aku
jadi tidak bergairah. Tapi kabar film AAC bakal diproduksi sudah
beredar. Posisiku sulit. Bersamaan dengan itu film produksi pertama MD
yang berbujet besar drop di pasaran. Sebuah film yang dianggap idealis,
bahkan tidak mampu menembus angka 100 ribu penonton. Keyakinan producer
mulai goyah.
    ‘Apakah kamu masih yakin AAC akan diproduksi?’ Kata producer padaku,
    ‘Iya’ jawabku yakin. Sekalipun aku sendiri tidak tahu apakah keyakinan itu sekuat dulu.
    ‘Apakah AAC adalah film yang bakal di tonton?’ tanyanya kemudian.
 
Aku lalu ingat pernyataannya tentang 80% penduduk Indonesia adalah
muslim. Kemudian aku membalikkan pernyataan itu kepadanya. Jawabnya …
    ‘Ya, tetapi setelah melihat realitas, penonton kita masih belum bisa menerima film-film berat.’
 
Beberapa detik aku sempet bingung dengan istilah film berat. Aku tahu
pada waktu itu kondisi psikologis producerku sedang drop. Tidak hanya
satu-dua juta kerugian yang dia tanggung di film pertama. Wajar jika
sudah menggoyahkan keyakinannya. Aku berusaha meyakinkan dia lagi
kalau AAC adalah film yang ditunggu penonton. Aku juga meyakinkan kalau
kita di dukung oleh Muhammadiyah. Tapi alasan itu tidak cukup buat dia.
Sebuah dukungan bisa dengan gampang dicabut. Tetapi sebuah produk yang
sudah diproduksi tidak bisa diuangkan. Investor tetap menanggung beban
besar. Intinya, dia butuh keyakinan kalau AAC adalah film yang bakal
ditonton lebih dari 1 juta penonton. Jumlah tersebut diperhitungkan
secara bisnis untuk balik modal, mengingat bujet yang dipersiapkan
untuk memproduksi AAC duakali lipat bujet standart Film Indonesia. Yah,
sekitar 7 Milyar.
    Lalu produk seperti apa yang ditonton oleh satu juta penonton?
    Pertanyaan itu yang akan merobah karakter Film Ayat-Ayat Cinta yang selanjutkan menjadi persoalanku kemudian.
 
Pertama yang dilakukan untuk menset-up produk agar ditonton oleh satu
juta penonton adalah mengubah scenario menjadi light. Scenariopun
dirombak total. Producer sempat menghubungi Musfar Yasin untuk
menggantikan Salman Aristo, karena pada saat itu Nagabonar jadi 2
meraih 1,3 juta penonton. Musfar menolak dengan alasan tidak etis.
Salman Aristo kemudian bersedia merubah scenario dengan catatan sedikit
keluar dari novel. Kita sepakat. Dalam hal ini Kang Abik sedikit kita
abaikan dengan maksud segalanya berjalan lancar. Mengingat kang Abik
kondisinya waktu itu tidak di Jakarta, sehingga untuk melakukan diskusi
scenario harus menghadirkannya dari semarang.
    Skenario dibuat
dalam 2 minggu.  Selama 2 minggu itu kegiatan persiapan menjelang
shooting dihentikan. Di minggu ketiga seharusnya kita sudah melakukan
shooting, terpaksa dilakukan persiapan lagi. Jadwal akhirnya mundur
satu bulan. Keberatan muncul dari para pemain. Sebagian pemain
Ayat-Ayat Cinta adalah pemain dengan jadwal ketat. Fedi Nuril sibuk
dengan album dan tour Garasi. Ryanti sibuk dengan jadwal MTV, Carissa
dan tante Marini  sibuk dengan sinteron striping, Melanie putria dan
Surya Saputra sibuk dengan presenter. Kalau produksi ini mundur
schedule pemain yang akan sulit. Di bulan kedepan para pemain tersebut
sudah masuk schedule lain diluar Ayat-Ayat Cinta. Hal itu membuat Iqbal
Rais, asistenku kelabakan mengatur schedule. Dalam 2 minggu itu
pekerjaan Iqbal berkali-kali melakukan revisi schedule dan breakdown
shooting. Sedangkan Amelia Oktavia (amek) dan Ruth Damai Pakpahan
(Iyuth) yang bertugas sebagai casting director me-loby pemain kembali.
Itu tidak mudah tentunya. Schedule di luar AAC sudah terlanjur di
booking oleh para manajer. Malah beberapa ada yang sudah kontrak.
 
Seperti yang disepakati bersama, scenario rampung dalam 2 minggu. Tapi
bukan berarti persoalan selesai disitu. Tahap berikutnya adalah
menentukan dimana shooting dilakukan, mengingat kairo sudah tertutup
buat MD. Oh,ya … Hal mendasar yang membuat produksi ini mengalami
kendala kreatif adalah producer mulai menekan bujet produksi akibat
kerugian di film pertama. Pemindahan shooting di Indonesia dilakukan
dengan asumsi bujet produksi tidak semahal di Kairo. Padahal kenyataan
di lapangan tidak semudah asumsi itu. Sesuatu yang diciptakan dengan
set akan lebih mahal dibanding kita menggunakan set yang sudah jadi.
Kalau toh ditemukan rumah yang mirip dengan yang ada di Kairo, perabot
didalam rumah itu tidak bisa dipakai.
    Menjelang shooting aku
dan producer banyak bertengkar soal itu. Pengajuan bujet untuk tata
artistic di potong. Begitupun dengan pengajuan lampu. Aku seperti
berada dalam ruang isolasi yang semakin lama dinding itu bergerak
menghimpit. Pada awal persiapan, konsep film AAC adalah menghadirkan
keindahan kota kairo dengan memotret lansekap sebagaimana tertulis di
novelnya kang Abik. Kini, terpaksa harus aku persempit mengingat lokasi
shooting tidak memadai dan peralatan pendukung dikurangi. Aku dan
Salman Aristo memutuskan memperkuat dramatik cerita daripada keindahan
gambar. Oleh sebab itu beban jatuh pada para pemain. Pemain harus mampu
secara meyakinkan membawakan karakter yang diperankan. Disini muncul
persoalan baru. Sekalipun Amek dan Iyuth berhasil me-loby pemain untuk
mundur shooting, tapi tidak bisa dapat waktu untuk latihan. Jangankan
untuk melakukan riset dan observasi peran, untuk melakukan reading
scenario saja waktunya terbatas. Kepalaku mendadak berat sekali.
Hari-hari shooting tinggal beberapa hari, tapi permainan mereka masih
jauh dari harapanku. Ya Alloh, selamatkan aku. Selamatkan film ini …
   
Pernah suatu kali aku minta mundur lagi karena pemain belum siap,
terutama Rianti dan Carrisa. Producer tidak memberikan ijin. Aku
bingung. Aku melihat Rianti dan Cariisa masih jauh dari harapanku. Pada
awalnya tokoh Aisha diperankan Carrisa dan Rianti sebagai Maria. Saat
latihan berlangsung, aku merasa keduanya tidak pernah mencapai klimaks.
Selalu saja ada yang salah. Kemudian mas Whani Darmawan selaku acting
coach (Penata laku) mencoba merobah posisi. Rianti sebagai Aisha dan
Carrisa sebagai Maria. Aku melihat ada perubahan ke lebih baik. Mungkin
tepatnya: Lebih pas … Tapi aku masih belum yakin dengan itu,
dikarenakan banyak persoalan kreatif lain yang menghimpitku. Aku tidak
bisa dengan jernih memutuskan. Lalu Aku minta bantuan Salman Aristo
untuk ikut memutuskan. Setelah melewati test kamera, aku, Salman Aristo
dan Producer bersama-sama melihat dan memutuskan siapa yang pantas
menjadi Aisha. Aku ingat waktu itu rapat untuk memutuskan siapa yang
pantas menjadi Aisha dilakukan 10 menit sebelum acara pers conference
yang menghadirkan PP Muhammdiyah Din Sayamsudin dan wartawan dari media
cetak dan TV. Di ruang lain, Rianti dan Carisa menunggu keputusan itu,
karena berhubungan dengan siapa yang akan memakai cadar dan jilbab pada
saat acara pers conference. Akhirnya, kami memutuskan Rianti yang
menjadi Aisha. Cadarpun terpasang menutup sebagian wajah cantik Rianti
   
Ketika hari Shooting ditentukan, pemain sudah disiapkan secara
schedule, Set sudah dibangun, mendadak ada kabar Ryanti akan di
deportasi karena masa tinggalnya sudah habis (Rianti masih menjadi
warag Negara Inggris saat ini), sehingga dia harus kabur ke Singapura
beberapa hari sambil mengurus perpanjangan masa tinggalnya di
Indonesia. Shooting yang sudah kita tentukan harus mundur lagi. Set
yang sudah dibangun harus dibongkar. Kepalaku mulai berat. Mataku mulai
kabur. Allohu akbar! Apa lagi yang harus aku hadapi? Berapa tetes lagi
air mataku kutumpahkan dan berapa lapang lagi dadaku aku rentangkan?
Ingin rasanya aku lari dari semua ini. Tapi aku selalu ingat pesan
ayahku, wong lanang kui kudu mrantasi … (Lelaki itu harus menyelesaikan
segala persoalan). Aku melihat sisi positif dari kemunduran ini. Aku
bisa focus latihan buat pemain. Akhirnya kamipun mundur. Karena set
yang sudah dibuat tidak bisa dibongkar, kita terpaksa shooting satu
hari tapi setelah itu break seminggu.
Pada saat shooting, aku
melihat kairo berdiri di Jakarta dan semarang. Aku melihat metro yang
dibangun bangsa Prancis di stasiun Manggarai. Aku melihat perpustakaan
Al Azhar dan ruang Talaqi masjid Al Azhar di Gedung Cipta Niaga Jakarta
Kota. Flat Fahri, Flat Maria dan Pasar El Khalili di kota lama dan
Gedung Lawang Sewu Semarang. Ruang sidang pengadilan Fahri di Gereja
Imanuel Jakarta. Apa yang dibangun Allan, art directorku, berhasil
meski dengan berbagai kendala keuangan yang tidak lancar. Untuk
membangun set dan menyediakan property, Allan sering mengeluarkan uang
pribadinya untuk menutup aliran uang yang tidak lancar. Gajinya yang
seharusnya di bagi-bagikan kepada krunya, habis buat belanja property
dan membangun set. Karenanya banyak krunya pada marah-marah dan kabur.
   
Pada saat shooting berlangsung, tidak begitu saja mulus dan on
schedule. Hari-hari pertama kami berhasil menghadirkan suasana kairo
dengan menyewa orang-orang arab sebagai extras. Karena shooting selalu
selesai tengah malam, orang-orang arab lama-lama tidak mau diajak
shooting lagi. Maklumlah, mereka bukan berprofesi sebagai pemain.
Kebanyakan dari mereka pedagang, mahasiswa, karyawan bahkan ada yang
dokter. Suatu kali pernah si dokter marah-marah karena shooting sampai
malam, padahal sebagai dokter dia tidak pernah berpraktek sampai malam.
Di hari-hari menjelang akhir shooting AAC, bahkan untuk mengajak gembel
Arab pasar Tanah Abang pun tidak bisa. Masya Alloh!!
    Di Kota
lama dan Lawang sewu Semarang, kami menghadapi persoalan kamera
terbakar, hujan, berhadapan dengan preman Kota Lama, ruang sempit dan
lapuk karena tua yang membuat set lampu lama. Dengan begitu scene yang
seharusnya diambil jadi banyak terhutang. Untuk membayarnya, kita
menunggu jadwal pemain kosong, Amek dan Iyuth kembali me-loby, iqbal
rais kembali membongkar break down. Hal itu terus menerus mereka
lakukan sampai-sampai Amek dan Iyuth kehilangan muka di hadapan manajer
dan pemain. Tidak jarang aku melakukan improvisasi demi efisiensi.
Banyak adegan aku sederhanakan. bahkan dibuang. Tapi aku cukup senang
karena aku bisa merobah salah satu sudut kota lama semarang menjadi
pasar di El-Giza. Aku menghadirkan unta dari Kebun Binatang Gembiraloka
Jogjakarta. Penduduk kota lama Semarang dibikin heboh dengan munculnya
unta secara tiba-tiba di sana.
    Shooting paling berat yang aku
rasakan pada saat adegan sidang Fahri. Aku memilih gereja Imanuel
Jakarta untuk di set sebagai ruang pengadilan. Aku menghadirkan lebih
dari 300 ekstrass. Semua pemain utama kumpul jadi satu. Penata kostum,
penata make up kewalahan menghadapi banyaknya pemain. Ini salah satu
scene dengan jumlah pemain paling banyak. Aku melihat hal yang unik di
sana. Banyak pemain memakai Jilbab bahkan bercadar, tapi mereka berada
di dalam gereja. Tanda salib bertebaran di atas kepala mereka. Suatu
yang lucu dan menarik aku lihat. Lalu aku ingat, pada saat aku masuk
masjid Al Azhar, bahkan untuk ijin memotret saja tidak mudah. Apalagi
shooting. Tapi di gereja Imanuel ini, aku tidak hanya membawa kamera
dan lighting. Aku bahkan memasukkan teralis penjara sebesar 3 meter
persegi didalamnya. Aku tertawa kalau memikirkan itu …
    Tidak
terasa, persoalan sudah menjadi bagian dari produksi ini. Malah, ketika
persoalan tidak muncul aku merasa ada yang aneh. Terlepas dari semua
itu, aku senang bisa terlibat dalam persoalan. Terlebih lagi, persoalan
itu bisa terpecahkan sekalipun dengan air mata. Semoga kedepan, aku
bisa lebih dewasa.

   

Robbana afrigh alaina shabran wa tsabit aghda mana fanshurnaa ala qaumil kafiriin …
    ( …Ya Alloh, limpahkan kami kesabaran. tegakkanlah kaki kami kembali. Lindungilah kami
atas orang-orang yang membenci kami …)

   
Hingga shooting ini selesai, kami masih berhadapan dengan puluhan
persoalan lagi. Nantikan di bagian IV (AAC hijrah ke India untuk
menghadirkan Sungai Nil, Padang Pasir dan kota) …