Archive for September, 2007

BHUMI

Sunday, September 30th, 2007



   
Lahir saat matahari terbit di hari ke 21 bulan Juni tahun 2001.
Disebuah Rumah Sakit di Malang, Jawa Timur. Lelaki kecil dengan mata
besar mewarisi mata cantik ibunya Barmastya Bhumi Brawijaya. Panah Api
dari bhumi Brawijaya begitu kira-kira artinya. Lahir atas naungan cinta
ayah dan ibunya. Cinta yang besar sekali sekalipun pada akhirnya ayah
dan ibunya harus berpisah. Bukan karena tidak saling cinta. Tidak! Kami
sangat mencintai satu sama lain. Tapi untuk membangun sebuah keluarga,
ternyata tidak hanya cinta saja yang dibutuhkan.
    Bhumi namamu.
Bukan sekedar kegagahan nama itu kuberikan. Ada doa turut menyertai.
Doa agar selalu kuat, sabar dan ikhlas. Ya, Bhumi adalah Tanah yang
dengan kuat, sabar dan ikhlas diinjak oleh apapun dan siapapun. Dan
lelaki kecil itu memang sekuat yang aku bayangkan. Umur 3 tahun sudah
menerima kenyataan ayah dan ibunya berpisah. Kuingat saat aku ucapkan
‘Selamat Tinggal. Bapak harus pergi.’ Mata bulat itu tajam menatap
mataku. Lalu ketika harus ditinggal ibunya di Malang bersama
kakek-neneknya, Bhumi tetap tegar meski tangis pilu tetap ada.
    3
tahun Bhumi ada di Malang. Bersama kakek dan neneknya. Aku tidak bisa
menceritakan saat awal bhumi di Malang. Saat yang membuatku selalu
mengutuk diriku sendiri. Umur 3 tahun harus dipaksa merasakan perihnya
perpisahan. Tangis itu! Tuhanku. Aku tidak kuat mendengarnya. ‘Bapak,
Ibu pergi lagi ke Jakarta. Bhumi ditinggal lagi.’ Allohu Akbar! Berikan
Tangan Kasihmu ya Alloh. Lindungilah perasaannya. Lalu aku ingat
Muhammad saw. Sejak seumuran Bhumi, sudah tidak punya ayah dan ibu.
Lalu aku minta kakeknya mendongengkan kisah Muhammad saw kepadanya.
Agar dia tenang. Agar dia kuat. Tapi toh, bhumi tetap seorang anak yang
mendambakan kehadiran ayah dan ibunya. Sering bhumi bangun tengah malam
dan bilang ‘Uti, akung … kenapa bhumi ditinggal? Bhumi kan tidak
nakal?’ atau kadang dia berkata ‘Akung dan uti kan udah tua, sebentar
lagi meninggal. Nanti bhumi sama siapa? bapak dan ibu tidak ada.’
Subhanalloh! Siapa guru yang mengajari anak seumur itu merangkai
kalimat seperti itu?
    Hati siapa yang tidak robek mendengar itu?
   
Tapi Bhumi bukan anak bodoh. Dia pintar. Sekalipun disaat belajar
membaca dia agak lambat mengingat huruf satu dengan yang lain. Bhumi
juga bukan anak penakut. Dengan orang asing, dia gampang adaptasi.
Kebanyakan anak takut sama dokter, Bhumi justru bisa berdialog soal
penyakitnya. Pernah disaat dokter menyuruh Bhumi buka mulut, biasanya
si anak selalu rewel, tapi Bhumi justru bertanya ‘Kenapa harus buka
mulut?’.
Soal pendidikan agama, di Malang Bhumi sangat dididik
islami. Berkat ketekunan kakeknya, Bhumi bisa menghafal doa-doa dan
surat-surat pendek. Bahkan Bhumi bisa menghafal ayat Kursi dan aqyat
terakhir surah Al Baqoroh. Pernah suatu ketika kakeknya yang ada di
Jogja sakit, lalu Bhumi menelphone dan mendoakan. Disaat Bhumi
membacakan doa, sang kakek menangis dan Bhumi tidak jadi melanjutkan
doanya malah bertanya. ‘Akung jogja kok nangis? Bhumi kan doain buat
akung.’
    Kadang aku membayangkan hal-hal menyedihkan soal Bhumi:
kesepian, murung, gelisah. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Bhumi
aktif, lincah, penyegar suasana. Terkadang dia melamun sendiri. Ketika
ditanya kenapa melamun, dia hanya tertawa. Bhumi pandai menyembunyikan
perasaannya. Dia juga pandai menjaga perasaan bapak-ibunya. Ketika aku
ke Malang tengok dia, Bhumi tidak pernah bertanya soal ibunya. Begitu
juga saat Ibunya pulang ke Malang, juga tidak pernah bertanya soal
bapaknya. Padahal kami berdua tidak saling membenci. Begitulah Bhumi.
Semua mencintai Bhumi: Kakek-Neneknya, saudara sepupu, teman-teman dan
guru sekolah di TK Al Ghoniyah Malang. Kamipun mencintai Bhumi.
Sekalipun Kami tidak bersatu dalam keluarga. Tapi kami berdua sudah
berjanji untuk selalu bersama, saling komunikasi, saling memberi dan
menerima meski tidak dalam rumah yang sama. Dan yang lebih penting kami
berdua tidak akan meninggalkan Bhumi.
Kini, Bhumi sudah di Jakarta.
3 tahun sudah lewat. Rumah kontrakan sekalipun kecil di daerah kelapa
ijo, Jakarta Selatan aku sewa buat Bhumi dan Ibunya. Kami tetap
keluarga, sekalipun memiliki rumah terpisah. Kadang aku sering ke sana.
Tidur sana. Saat aku harus pergi keluar negeri buat proses Film, tidak
lupa oleh-oleh buat Bhumi dan Ibunya. Tiap pagi, mobilku selalu
mengantar Bhumi sekolah di Al Azhar Kebagusan. Kondisi Jakarta sedikit
merubah sifat Bhumi menjadi pemalu dan sangat sensitive. Terhadap suara
keras, bhumi sangat takut. Karena itu dia tidak mau nonton bioskop.
Pernah suatu kali aku ajak nonton bioskop dengan iming-iming dibelikan
mainan, dia malah bilang ‘Dibeliin mainan aja tapi tidak nonton
bioskop.’
    Sampai saat ini aku melihat Bhumi tumbuh menjadi
lelaki dewasa dan bertanggung jawab. Kalau pagi Bhumi membantu ibunya
masak, membelikan bumbu penyedap dengan sepeda kesukaannya ke warung
sebelah. Jika kangen dengan bapaknya, sepulang sekolah dia sering ke
kantor atau ke lokasi shooting. Tapi lagi-lagi, Bhumi menjadi pemalu.
Mungkin orang-orang Jakarta lebih keras perangainya dibanding orang
Malang. Tidak apa. Aku percaya waktu yang akan turut membentuk karakter
Bhumi. Doa dan ikhtiarku selalu bersamanya.
Allohumaghfirlana ya ghoffar … ya ghoffar!!!

Bangkok, 30 September 2007
Ditulis saat aku sedang kangen sekali padanya.

CINTA

Saturday, September 29th, 2007



 
Waktu itu jam 7 malam ketika aku berangkat dari rumah dengan motor.
Tahun 1993 akhir, cuaca di Yogya tidak sepanas sekarang. Apalagi curah
hujan masih stabil. Malam itu benar-benar dingin. Dengan jaket jeans
belel favoritku, aku lindungi tubuhku dari angin malam, menuju rumah N
di Jl Kaliurang.
    ‘Aku tunggu jam 8 di rumah. Bapakku tidak
ada. Pengajian. Lebih dari jam itu kita bakal gak bebas ketemuan.’ kata
N siang itu sepulang sekolah.
    ‘Aku pengen lebih lama dari itu.’
    ‘Berarti kamu gak ngerti kondisiku.’
    ‘Yeah, I Know!’
    Ayah N seorang tokoh agama terpandang di Yogya. Buat ayah N, pacaran itu dosa.
    ‘Manusia gurun!’ Kataku dalam hati.
 
Tiba-tiba hujan deras datang memecah lamunanku. Awalnya aku bermaksud
berhenti. Tp kepalang tanggung karena sudah terlanjur basah. Malam yang
dingin menjadi semakin dingin sekarang. Aku rasakan bibirku mulai
bergetar. Stupid! pikirku. Hujan. Cewek. Backstreet. Cinta! Cinta! Shit!
    ‘kenapa kamu datang kalau hujan begini?’ kata N sambil menyeka kepalaku dengan handuk.
    ‘Aku janji mau datang. Apapun keadaannya.’
    ‘Kamu emang dramatis. Dasar Aktor.’
 
N terus menatapku. Senyumnya mengembang. Aku beranikan diri mencium
pipinya. Dia diam saja. Tapi kemudian setelah kurasakan, dia tidak
sekedar diam saja.
    Malam itu kami lepaskan semuanya. Bersama.

***

    ‘Aku senang bisa makan bakso di sini sama kamu setelah lulus.’ Kata D.
    ‘Aku juga.’ Jawabku.
    ‘Bohong!’
    ‘Sumpah. Aku selalu ngebayangin makan bakso disini sama kamu seperti dulu saat kita masih SMA.’
    ‘Gombal! dasar Aktor!’
    ‘Beneran. Swear!’
    ‘N masih sering telp?’
    ‘Gak pernah. Pas kita masih pacaran juga gak pernah. Dia selalu minta di telp.’
    ‘Tidak seperti aku ya. Selalu telp kamu. Malah datang ke tempatmu.’
    ‘Itu kelebihanmu dibanding dia.’
    ‘Kamu gak anggap kalau itu murahan?’
    ‘Sama sekali tidak! Aku justru hormat sama kamu.’
    ‘Masa sih. Aku ngerasa terlalu agresif.’
    ‘Kamu baik. Tulus. Jujur. Apa adanya. Tidak seperti N. Selalu menganggap dirinya harus dihargai.’
    ‘Tapi kamu cinta sama dia, kan?’
    ‘Dulu. Aku sekarang mengharap bisa pacaran sama cewek seperti kamu.’
    ‘Wah, telat!’
    ‘Kenapa sih kamu mau pacaran sama Z?’
    ‘karena kamu balik lagi sama N.’
    ‘Sekarang aku udah putus lagi sama N. Tapi kamu masih pacaran ama Z.’
    ‘Aku bisa putusin Z buat kamu?’
    ‘Jangan, Jangan. Z temen ku juga soalnya.’
    ‘Dia selalu cemburu kalau aku bicara soal kamu.’
    ‘Ngapain kamu bicara soal aku di depan dia.’
    ‘Biar dia bertingkah seperti kamu.’
    ‘Kamu gila.’
    ‘Kamu yang membuat aku gila.’
 
Entah kenapa tidak hanya sate kambing yang membuat gairahku bangkit.
Semula aku pikir dia bercanda ‘mengajak’ ku. Tapi ternyata sentuhan itu
begitu jujur. Dan sore itu kamarku kembali menjadi saksi.

***

 
Sepucuk surat aku terima. Awal 1995 yang bergairah. Setelah aku baca
alamat pengirim dari Melbourne, baru aku sadar surat ini dari siapa.
Aku buka segera dan kubaca:
    ‘Sungguh, aku terkejut mendengar
kabar bahwa kamu memutuskan untuk keluar dari Kuliahmu di teknik dan
lebih serius diteater. Menjadi seorang aktor, katamu. Aku pikir,
setelah aku memutuskan hubungan dengan Z, aku bisa meletakkan masa
depanku kepadamu. Bahkan sampai aku harus sekolah di luar negeri
semata-mata untuk masa depan kita. Maafkan aku. Aku keberatan. Aku
tidak ingin kamu menjadi seniman. Buatku, terlalu besar pertaruhannya
di masa depan. Mungkin aku terlalu egois. Tapi itu keputusanku.
Barangkali dengan berpisah, kita berdua justru saling menghargai.
Salam. D’

****

    ‘kok masih ada ya perempuan seperti
itu?’ Kata E yang saat itu telanjang di pelukanku. Sore itu hujan.
Cuaca di akhir tahun 1995 mulai tidak stabil.
    ‘Gak tau. Mungkin emang gak jodoh.’ Jawabku sekenanya sambil memainkan jariku disela-sela payudaranya.
    ‘Kalau aku bersikap begitu gimana?’
    ‘kamu pernah bilang ke aku kalau teater itu hidup kamu.’
    ‘Sebenarnya masih ragu juga sih.’
    ‘Seenggaknya kamu tidak menganggap seniman itu punya masa depan buruk. Seperti anggapan D.’
    ‘Aku pernah beranggapan begitu loh. Sering malah.’
    ‘Trus kenapa kamu mau pacaran sama aku?’
    ‘Gak tau ya. Kamu cute sih. Gak kayak anak-anak teater lainnya.’
    ‘Gombal! Cewek tidak ditakdirkan buat ngegombal!’
    ‘Terus ditakdirkan buat apa?’ E mengubah posisinya diatasku, menempelkan pahanya di selangkanganku dan menggesek-geseknya.
 
aku cuma tersenyum. Dia pandai membuat gairahku bangkit. Padahal itu
sudah putaran ketiga. Kami bercinta lagi. 3 jam kemudian aku sudah
berada di atas panggung, memainkan drama Rusia.   

***

    Tok! Tok! Tok!
    Pintu kamarku aku buka. Saat itu tidak bisa aku sembunyikan keterkejutanku melihat siapa yang datang.
    ‘D?’
    Dia tersenyum. 10 bulan tidak bertemu, sikapnya tidak berobah kecuali kenyataan bahwa dia bertambah cantik.
    ‘Boleh aku masuk?’
    Benar-benar seperti dulu. Lugu, jujur, apa adanya.
    ‘Maaf kalau aku bikin kaget kamu.’
    Aku diam saja. Tidak tahu harus berbuat apa.
    ‘Aku tahu kamu marah sama aku. Tapi aku gak peduli. Aku ngerti kok.’
    Sialan! Dia membuat aku benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa. luar biasa!
 
‘Aku mau minta maaf. Aku salah. Seharusnya aku tidak bicara begitu ke
kamu sekalipun lewat surat. Aku bodoh. Aku minta kamu bisa maafin aku.’
     Sampai sekitar 15 menit setelah dia mengakhiri bicaranya, aku tetap tidak bisa berbuat apa-apa.

***

    Kriiiing! Kriiiing! Kriiiiiiiiiiiiinggg!!!

   
‘Kenapa tidak kau angkat’ Tanya D sambil merobah posisi tidurnya
disampingku. Kulitnya masih seperti dulu. Kuning gading dengan
bulu-bulu tipis di bagian paha atas.
    ‘Males.’
    ‘Siapa tahu itu E.’
    ‘Dia udah dapat jatahnya semalem hehehe.’
    Terlihat D tersenyum pahit. Aku tiba-tiba sadar kalau itu bukan sekedar gurauan buat dia.
    ‘Maaf.’ Kucium keningnya dengan lembut.
    ‘Gak apa-apa. Aku ngerti kok. aku anggap ini sebagai hukumanku.’
    ‘Kamu gak salah kok.’
    ‘Aku salah. Seandainya aku tidak menulis surat itu, tentunya aku sudah bisa memiliki kamu seutuhnya.’
     Aku mengusap rambutnya yang wangi. Tuhanku! Bau itu! Yeah, Bau yang tidak dimiliki siapapun. Juga N. Juga E …
    ‘Lusa aku berangkat ke Melbourne lagi.’
    ‘Aku pengen kamu disini terus. Kalau kamu jauh, kamu pasti lupa sama aku.’
    ‘Tidak. Aku janji! Tapi percuma. Kamu pasti lupa sama aku karena kamu ada yang lain.’
    ‘Sekalipun ada yang lain, tapi kamu beda. Itu yang tak bisa aku lupa.’
    D tersenyum. Terbayang deru pesawat meninggalkan bandara Adisucipto, membawanya menembus langit dan tak akan kembali lagi.

***

   
Nafas itu kembali memburu. Sprei-sprei kembali basah oleh keringat.
Acak-acakan. Rintihan kecil. Tertahan. Lalu lenguhan. Saling tumpang
tindih. Seperempat jam kemudian keheningan tampak.
    ‘Terima kasih ya.’ Suara R keluar di sela-sela desah kecapaian. Tangannya mengusap dadaku perlahan.
    ‘Terima kasih Buat apa?’
    ‘Seenggaknya aku gak akan bunuh diri lagi.’
    Aku tercenung …..
   
Tiba-tiba teringat suara tangis itu. Tangis seorang anak kecil umur 4
tahun. Keras. Melengking. Lalu gedoran pintu yang keras. Karena tidak
dibuka pintu didobrak oleh dua orang lelaki. Mereka tetangga samping
rumah yang biasa dimintai tolong oleh R. Dibalik pintu yang sudah roboh
itu R tergeletak tak sadar. Bau Baygon menyengat. Aku semakin panik.
    ‘Suaminya dimana?’ Tanyaku
   
Dua orang itu menggeleng sambil membawa tubuh R keluar rumah. Setengah
jam kemudian, R sudah berada di atas brankar menuju UGD.
    R selamat ….

    ‘Kamu emang gila! Nekad! Dan konyol!’ Kataku kemudian.
    ‘Aku udah putus asa. Aku tidak bisa sendirian. Dia punya selingkuhan. Aku dibiarin aja. Tidak ada alasan buatku untuk hidup’
    ‘Anakmu gimana?’
    ‘yaa, pada awalnya cuma dia yang bisa bikin aku terus hidup. Tapi lama-lama aku menyerah. Tapi sekarang sudah ada kamu.’
    R membalikkan tubuhnya yang telanjang menghadapku. Sekali lagi dia mencium bibirku.
    ‘Sekarang apa bedanya kamu sama suamimu?’
    ‘Biarin aja! Aku juga manusia!’
   
Aku menatap langit-langit kamarnya. Putih dengan noda-noda hitam. Noda
itu menjadi memudar ketika aku menyipitkan mataku. Seolah warna putih
itu menjadi bersih. Aku tersenyum sendiri.
     ‘Makasih sekali lagi.’
***

    ‘N?’ Nyaris saja aku berteriak.
    ‘Kemana saja kamu?’
    Suaranya tidak berubah sejak lulus SMA. Begitu juga matanya. Selalu melihat kiri kanan. Seperti dulu takut terlihat ayahnya.
    ‘Aku … disini saja.’
    ‘Aku sering melihat mukamu di koran. Di poster-poster pentas. Tapi aku selalu tidak pernah bisa menonton.’
    ‘Kamu sama siapa?’
    ‘Sendirian. Pacarmu siapa?’
    ‘Pacar? Tidak ada.’
    ‘Mana mungkin laki-laki kayak kamu tidak punya pacar.’
    ‘Apa aku terlihat lelaki aneh jika tidak punya pacar?’
    ‘Iya.’
    ‘Berarti kamu tidak tahu aku.’
    ‘Oh ya?’
    ‘Pacarmu siapa?’
    ‘Sedang tidak sama aku.’
    ‘Akhirnya kamu bisa temukan laki-laki yang pas buat kamu. Juga buat ayahmu’
    ‘Begitu ya?’
    ‘Iya.’
    ‘Berarti kamu tidak tahu aku.’
   
Aku tercenung. Mataku dan matanya beradu. Ada serangkaian kata yang
terbaca di matanya. Bukan! Bukan hanya sekedar kata! Tapi seperti
pekikan. Ya! Dia memekik. Kencang sekali. Sore itu, aku tunda latihanku
dan pergi bersamanya ke suatu tempat. Ke Selatan.

***

    Aaaah!!!
    ‘Kenapa?’ Tanya E
    ‘Aku … Tidak apa-apa.’
    ‘Sudah tiga kali aku lihat kamu bangun tiba-tiba. Kenapa?’
    ‘Tidak apa-apa. Cuma mimpi’

***

    ‘Aku sayang kamu. Aku ingin kawin sama kamu.’ Kata D
    ‘Pulanglah. Tinggalkan Melbourne.’
    ‘Tidak bisa. Masih satu semester lagi.’
    ‘Sebentar saja. 3 hari. Aku yang bayar. Kemaren aku sempat main sinetron produksi Jakarta. Bayarannya lumayan.’
    ‘Tidak bisa, sayang.’

***

    Aahh!!!
    ‘Lagi, sayang!’ Desah R
    Aaaaaahhh!!!
    ‘Lag … gi!!!’
    Aaahh!!!
    ‘Makasih, sayang.’

***

    ‘Kenapa kamu tidak pernah menelponku?’ Tanya N
    ‘Kenapa tidak kamu yang menelponku?’
    ‘Kamu tahu kalau aku tidak bisa.’
    ‘kenapa? Karena ayahmu?’
    ‘Ya.’
    ‘Sampai sebegitunya ayahmu memperlakukan kamu?’
    ‘begitulah ayahku. Begitu juga aku.’

***

    ‘Kita bakal kawin?’ Tanya E tiba-tiba
    ‘Menurutmu perlu?’
    ‘Sepertinya perlu.’
    ‘Kenapa sepertinya?’
    ‘Karena budaya yang membuat seperti itu.’
    ‘Begitu ya?’

***
    ‘Aaaahhhh!!!!’
    ‘Aaaaaaaaahhhhh!!!!’

****

    ‘Sayang … sayang … bangun’
    ‘Sayang … kenapa kamu? Aku sudah disini. Dari Melbourne langsung kesini. Ketempatmu. Bangun.’
    ‘Sayang … aku gak peduli ayahku melarangku. Aku tetap mau kemari. Melihatmu. Bangun … Bangun sayang’
   
‘Kapan kita bisa latihan teater lagi? Lalu setelah itu kita
jalan-jalan. Tidur dikasur yang sama. Lalu ngobrol soal seni, politik,
dan cinta. Bangun … bangun, sayang.’
    ‘Sayangku, sayangku, jangan tinggalin aku. Suamiku sudah lama ninggalin aku. Aku tidak mau kamu tinggalin aku. Bangun …’

****
   
Desir udara. Gelap pekat. Hambar bau menyergap. Tak bermakna. Tak
berarti apa-apa. Aku melayang-layang disana. Tak ada sayap yang
menopang angin. Pun juga tali yang menarik. Tapi aku tetap melayang.
   
Cinta? Apa itu Cinta? Kudengar suara-suara itu sekarang. Sambil kurasa
tubuhku mulai membeku. Cinta yang orang sering sebutkan itu, menjadi
penjaraku sekarang. Membawaku berada dalam ruang penuh jeruji sekaligus
tembok tebal menghadang.
    Cinta? Apakah itu?
    Hanya suara
angin semilir yang ku dengar. Tidak merdu seperti dalam film-film
Amerika yang menggambarkan adegan orang lagi mabuk kepayang. Juga tidak
ada musik mengalun. Hanya angin … angin yang hambar.

Jakarta-Bangkok, 29 September 2007

NOVEL dan FILM

Saturday, September 22nd, 2007


    Ini bukan pertama kali aku membuat film dari Novel.
   
Sulit? Tentu saja. Bukan hal aneh ketika novel di filmkan pasti
mengecewakan atau ‘tidak sesuai ekspektasi pembaca’, sekalipun ada
juga film lebih bagus dari Novelnya. Bicara soal bagus mana antara
Novel dengan Film, saya tertarik dengan ungkapan Andrea Hirata (Penulis
Lasykar pelangi yang akan difilmkan oleh Riri Riza): ‘Jika Filmnya
nanti tidak sesuai dengan expectasi saya, maka yang saya pertanyakan
justru ekspektasi saya.’ Sering gambaran imajinasi kita saat membaca
novel menjadi sebuah tuntutan atas visual yang tampak di layar film.
Jika visual yang tampak tidak sesuai dengan gambaran imajinasi kita
saat baca novel, maka kita kecewa. Secara tidak langsung kita
membandingkan Novel dengan film. Padahal usaha membanding-bandingkan
Novel dengan Film adalah tindakan kurang tepat. Kenapa? Karena Novel
dan  Film adalah dua hal berbeda.
    Film adalah bahasa visual
sedangkan Novel adalah bahasa tulis (baca: teks). Teks mampu membimbing
imajinasi kita secara bebas, sedangkan visual memberikan bentuk
‘Nyata’. Teks juga mampu menggambarkan secara detil suasana hati, sudut
lokasi secara berurutan berikut kiasan-kiasannya, juga memaparkan latar
belakang persoalan secara berkelindan, meloncat ke masa silam atau
mendadak menjamah masa depan seolah tanpa ada beban. Tapi visual,
dengan sifatnya yang nyata, bukan berarti tidak mampu menggambarkan
detil persoalan, suasana hati dan latar belakang, akan tetapi memiliki
karakteristik yang berbeda. Kita bisa melihat teks yang dibuat Ayu
Utami dalam Saman. Lomptan bahasa antara orang pertama, kedua dan
ketiga dengan bebas Ayu mainkan yang mana belum tentu memiliki kekuatan
sama ketika itu di visualkan. Pendeknya, membaca Novel dengan menonton
Film adalah dua pengalaman yang berbeda.
    Dari pemahaman diatas,
saya memiliki kepercayaan diri untuk kembali menerima tantangan
memfilmkan sebuah Novel. Tepatnya, melakukan adaptasi (secara bebas)
sebuah novel ke dalam Film.
    Hal pertama yang saya lakukan ketika
membedah Novel Ayat-Ayat Cinta untuk dijadikan Film adalah memahami
bahwa menonton Film berbeda dengan membaca Novel. Ketika membaca Novel,
kita bisa melakukan interupsi, menghentikan sementara membaca novel dan
dilanjutkan kembali dilain waktu. Tapi di film, tidak ada interupsi
seperti itu. Ketika film diputar, penonton seperti penumpang sebuah
kapal yang terbawa arus emosi cerita selama kurang lebih 2 jam. Karena
itu hal terpenting ketika menuliskan scenario dari Novel adalah
menentukan ‘Benang merah plot’, sehingga bisa disusun struktur dramatik
film. Struktur dramatik menjadi ‘perahu’ bagi penonton. Jika dalam
struktur dramatik terlihat kendor, maka seperti kapal yang tersendat
lajunya. Oleh sebab itu susunan adegan dalam struktur dramatik menjadi
penting untuk menjaga intensitas penonton mengikuti cerita. Dengan
demikian Plot-plot yang tergambar di novel melalui bab-bab, tidak bisa
dijadikan patokan secara mutlak untuk filmnya nanti. Disini saya dan
Salman Aristo melakukan ‘seleksi’. Tidak semua adegan dalam novel
muncul di Film. Ini bukan pekerjaan mudah. Habiburrahman (Penulis Novel
Ayat-Ayat Cinta) secara teks cukup detil menggambarkan suasana hati,
lokasi dan latar belakang tokoh utama. Teks yang ditulis Habib meluncur
secara bebas. Sering saya menemukan deskripsi tentang kondisi kairo
ditengah paragraph yang berisi adegan romantis antara Fahri dengan
Maria. Atau tiba-tiba saja, muncul deskripsi latar belakang Fahri yang
anak penjual tape ditengah paragraph yang menggambarkan pernikahan.
   
Tentu saja scenario yang ditulis tidak semata-mata menuliskan seperti
apa yang tertulis di novel. Kita mengurai adegan-adegan tersebut,
kemudian kita kelompok-kelompokkan ke dalam sequence.  Setelah itu baru
dipilih adegan mana yang bisa masuk di film, dan adegan mana yang
tidak. Dalam merangkai scene-scene di scenario, tidak jarang saya dan
Aris melakukan improvisasi, disamping membuang dan menyingkatnya. Upaya
itu kami lakukan semata-mata untuk menutup ruang interupsi bagi
penonton. Sebab jika ada celah untuk interupsi, maka film menjadi
kendor irama dramatikanya.
    Tidak jarang scenario yang sudah
kita sepakati bersama, kita rombak lagi dan kita ulang dari awal. Oleh
sebab itu, mengadaptasi Novel ke Film lebih rumit daripada membuat film
itu sendiri. Mengadaptasi Novel ke Film merupakan karya tersendiri yang
terbebas dari karya novel itu sendiri. Sebab ketika teks dalam Novel
sudah muncul berbentuk gambar, itu merupakan bagian dari proses kreatif
penciptaan.

    Karena itu, masihkah kita membandingkan Novel dengan Film?