Archive for August, 2007

AYAT-AYAT CINTA

Wednesday, August 22nd, 2007

TENTANG KARAKTER FAHRI
Piramid_senja

Ini Film ketujuh setelah ‘Get Married’ dan ‘ Ledhek’. Dua-duanya akan
rilis lebaran ini. Ayat-ayat Cinta di proyeksikan untuk Idul Adha,
Natal dan Tahun Baru. Bisa kebayang bukan siapa yang akan menonton film
ini.

Membaca
Novel Ayat-Ayat Cinta, membuat saya mengantuk hingga setengah buku.
Kantuk itu hilang pada saat bab mulai mengarah ke konflik. Yaitu ketika
Fahri difitnah, masuk penjara dengan vonis mati, lalu seorang gadis
kristen koptik bernama Maria datang menyelamatkan dengan ’syarat’ kalau
dia harus dinikahi dulu. Padahal Fahri saat itu sudah beristeri seorang
gadis Turki-Jerman, Kaya dan cantik bernama Aisha. Kenapa mendadak saya
tidak mengantuk? Buat saya disitulah letak religiusnya. Buat saya,
religius bukan semata-mata mulut berucap doa dan puja-puji kepada
Tuhan; religius juga bukan aktifitas menyeru tentang kebaikan di atas
mimbar, di TV, Radio atau majalah sambil berdendang asik dengan
ayat-ayat Quran dan Hadist.  Bagi saya, religius adalah ketika manusia
berada dalam kesadaran penuh atas ketidaksempurnaan. Ketidaksempurnaan
itu membuat manusia merasa dirinya tolol, merunduk, bersujud dan …
bertawaqal. Saya merasa pada saat itu Fahri menjadi tokoh yang sangat
saya cintai. Sebelumnya, Fahri adalah malaikat. Fahri adalah lelaki
sempurna, yang menurut saya, tidak ada di dunia ini. Sekalipun
Habiburrahman bilang sosok Fahri banyak kita temui di Cairo, saya tetap
tidak percaya. Saya memang melihat banyak Fahri disana. Seorang dengan
pengetahuan agama Islam tinggi. Seorang rendah hati, pejuang hidup,
sederhana dan pintar. Sekalipun saya meragukan kemampuan menguasai 4
bahasa (Inggris, Jerman, Arab dan Indonesia) sekaligus.  Keraguan saya
juga bertambah ketika dirinya  dicintai oleh 4 orang gadis cantik
dengan karakteristik berbeda-beda: Maria, seorang gadis cantik, pintar,
kritis, sekalipun seorang kristen tetapi sangat mengagumi Al quran.
Nurul, seorang gadis Indonesia, anak kyai besar di Jombang, seorang
ketua Widah (sebuah perkumpulan anak-anak Al Azhar di Cairo), cantik,
sederhana dan tentunya pintar. Lalu Noura, seorang gadis mesir yang
dianiyaya ayahnya, dipaksa dijual menjadi pelacur. Juga seorang gadis
cantik dan pintar. Terakhir, Aisha, seorang gadis keturunan
Jerman-Turki-Palsetina. Sebuah paduan sempurna yang saya tidak perlu
menjelaskan seperti apa bentuknya. Pastinya  Cuantiik nemen rek,
begitu kata orang jawa timur. Tidak hanya itu, dia juga kaya raya,
setia, pintar dan solehah. Bahkan Aisha juga seorang perempuan yang
merelakan suaminya untuk poligami. Duhai, lelaki mana yang tidak jatuh
hati sama perempuan macam Aisha? Dan Fahri, tokoh ciptaan kang Abik
yang mendapatkan hidayah itu. Bagi kang Abik, Aisha adalah bidadari
yang pantas buat Fahri yang ’sempurna’. Sungguh, saya tidak tahan
melihat sosok Fahri yang tanpa cacat itu.

Seorang kreator
adalah Tuhan bagi ciptaannya. Tidak hanya di film, dalam ranah sastra,
apalagi sastra modern, seorang penulis memiliki hak penuh (sebagaimana
Tuhan) untuk menciptakan karakter, set dan cerita. Tapi masalahnya
kreator bukan sepenuhnya Tuhan. Kreator punya tanggungjawab meyakinkan
penonton atau pembaca perihal karakternya. Ada logika ‘Ruang-Lingkup’
yang dihadirkan untuk mewujudkan kesinambungan dunia realitas karakter
dengan dunia realitas penonton ataupun pembaca. Dalam hal ini, Kang
Abik menciptakan tokoh Fahri yang jauh dari logika ‘Ruang-Lingkup’
tersebut, setidaknya cuma bab-bab awal sampai tengah. Selebihnya, Fahri
menjadi manusia biasa. Hal itu yang membuat saya tertarik.

Oleh
sebab itu pertama kali yang saya dan Salman Aristo lakukan sebelum
membuat film Ayat-Ayat Cinta, adalah membongkar tokoh Fahri. Itikad ini
saya lakukan bukan saya tidak respect dengan tokoh Fahri ciptaan kang
Abik. Melainkan justru saya ingin Fahri menjadi representasi lelaki
muslim. Representasi penonton.

Di dalam Novel digambarkan,
Fahri adalah seorang lelaki yang tidak hanya soleh. Tapi juga seorang
pemimpin Flat, panutan, kakak bagi yunior-yuniornya, seorang yang
optimistik dan percaya diri, ganteng dan pintar (menguasai 4 bahasa).
Apabila tokoh seperti ini dijabarkan lewat tulisan, akan dengan mudah
menarik simpatik pembaca. Tapi jika di visualkan? Mari kita lihat Ongky
Alexander di Catatan si Boy, atau Sakhru khan di film-film India.
Apakah saya akan membuat film yang meletakkan karakter dalam dunia
mimpi seperti sinetron-sinetron Indonesia? Tentu saja Tidak.

Fahri di Film Ayat-Ayat Cinta adalah sosok yang lugu, ragu dan tidak terlalu percaya diri. Lugu mencerminkan sifat sederhana dan apa adanya. Tidak neko-neko. Ragu
lebih kepada sikap yang selalu hati-hati. Karena itu Fahri selalu dekat
dengan Quran dan Hadist. Setiap menghadapi persoalan, Fahri bukan
seperti superman yang mendadak menjadi jagoan. Justru sebaliknya, Fahri
sangat hati-hati dan tidak show off. Hal ini tampak nanti pada saat
adegan di Metro. Di Novel, saya mendapatkan kesan Fahri seorang jagoan,
seorang Nabi yang sedang memberikan wejangan umatnya. Saya tidak bisa
membayangkan jika itu di filmkan.  Pasti jadinya akan seperti sinetron
religius yang berisi ceramah-ceramah secara verbal. Karena Film adalah
bahasa Visual, maka saya menghindari verbalitas. Di Film, Fahri menjadi
lelaki sederhana yang terlibat pertengkaran hanya karena membela
seorang perempuan. Quran dan Hadist menjelaskan itu yang memberikan
alasan Fahri bertindak. Tentu saja tidak menjadi pendekar Silat.
Melainkan sebagaimana dirinya yang sekolah di Azhar, Fahri mencoba
menjelaskan perihal adab seorang Muslim menghadapi Tamu (ahlul zimah)
yang senantiasa dilindungi kehormatannya. Tapi karena sikap Fahri yang
lugu menghadapi lelaki Arab besar yang emosional, Fahri justru
mendapatkan pukulan karena dianggap SOK TAHU dan SOK PINTAR. Bibir
Fahri sedikit berdarah akibat pukulan itu. Pada saat itulah Fahri
justru mendapatkan simpatik dari  Aisha-Alicia dan penumpang Metro.
Simpatik itu bukan karena Fahri bisa meredamkan emosi orang Arab
sebagaimana di Novel. melainkan karena keberanian fahri menghadapi
persoalan sekalipun kalah. Adegan itu juga meletakkan sosok Fahri
sebagai manusia yang tidak sempurna, bisa berdarah dan lemah. Buat
saya, ini lebih realistis.

Oleh sebab itu pemilihan Fedy Nuril
menjadi Fahri adalah hal yang menurut saya tepat. Dalam diri Fedy ada
keraguan dan kepolosan. Fedy bahkan tidak mengerti bagaimana meletakkan
kakinya pada saat tahiyat akhir. Tapi justru dengan begitu, Fedy
terlihat berusaha. Fedy yang tidak sempurna mencoba belajar menjadi
sempurna. Kebanyakan yang casting menjadi Fahri, salah menafsirkan
Fahri sebagai sosok religius. Mereka menampilkan diri mereka sangat
suci. bahkan ketika melantunkan satu ayat, terlalu over dramatic
sebagaimana ustadz-ustadz yang ada di TV dan Radio. Padahal tanpa
mereka berbuat begitupun, sesungguhnya ayat Quran sangat Indah dan
menyentuh hati.

Di Flatnya, dalam Novel ditulis kalau Fahri
seorang pemimpin sekligus abang bagi yunior-yuniornya. Terus terang
saya sangat risih dengan tingakatan Senior-Junior. Hal ini menampakkan
sisi feodalisme yang justru bukan ciri Islam. Padahal saya kerap
menemui itu di pesantren-pesantren. Di Film, saya menempatkan Fahri
tetap seorang pemimpin Flat yang bertanggungjawab atas kebersihan dan
kelangsungan aturan di Flat. Tapi bukan seorang Senior yang men jadi
panutan seperti seorang kyai menjadi panutran Santri. Sosok Saiful yang
di gambarkan kang Abik sebagai Yunior, justru saya tempatkan menjadi
sparing partner Fahri. Tingkat pendidikan Saiful sama dengan Fahri.
Keduanya sama-sama belajar agama. Bedanya, Fahri terlihat sebagai
karakter yang konservatif, Saiful justru lebih moderat. seperti Gus Dur
dan Gus Solah (solahudin Wahid). Gus Dur yang kadang nyeleneh dan
berani adalah Saiful, Gus Solah yang hati-hati dan cenderung lurus
adalah Fahri. Dengan demikian, Fahri tidak menjadi sosok paling benar
di Flatnya. Saiful menjadi teman tidak hanya dalam diskusi Islam,
tetapi teman curhat ketika Fahri mendapatkan masalah. Pada saat Syeh
Ustman menawari talaqi ke Fahri. Saiful yang diajak bicara. Begitu juga
saat Fahri di fitnah dan masuk penjara. Saiful menjadi sahabat setia.

Perobahan
karakter tersebut didasari atas berbagai pengamatan kami terhadap
penonton Indonesia. Sudah jarang kita temukan film-film sekarang yang
menempatkan sosok seperti si Boy dalam Catatan Si Boy. Film paling
laris Indonesia Ada Apa Dengan Cinta yang melahirkan idola Nikolas
Saputra, juga bukan seorang yang sempurna. Lelaki tanpa teman, sinis,
terkesan kasar sama perempuan, hanya punya seorang ayah yang hidup
dalam idealismenya, tetapi memiliki kelembutan dan cinta yang tulus.
Kesempurnaan di era paska reformasi justru menjadi pertanyaan. Bahkan
di negara berkembang sekalipun.

Saya mempunyai harapan film
ini tidak hanya sekedar film alternative di tengah bombardir Horor dan
roman cinta remaja. Film ini saya harapkan menjadi citra muslim di
Indonesia bahkan Internasional. Bahwa Islam adalah agama penuh cinta
kasih. Penuh perenungan atas ketidaksempurnaan manusia-manusia muslim
didalamnya. Bukan justru sebaliknya, radikal, terlalu meyakini atas
kebenaran, dan tidak toleran.

Wala tusho’ir khaddakallinas, wa la tansyi fil ardhi maroha, Innalloha la yuhibbu kulla mukhtalin fakhur’ (Lukman 18)


Dan janganlah kamu memalingkan wajahmu dari manusia, dan janganlah
berjalan di bumi dengan Angkuh. Sungguh Alloh tidak menyukai orang yang
sombong dan membanggakan diri …