Archive for March, 2007

WORKSHOP

Monday, March 12th, 2007

Sebuah catatan kecil dari Workshop Penyutradaraan …

5 hari sudah lewat. 5 hari yang gak pernah bisa aku lupakan. Mereka datang dari jauh. Surabaya, Bogor, bahkan Bantul-Jogjakarta (juga korban gempa jogja 9 bulan silam). Mengharukan. Selama lima hari itu aku benar-benar disadarkan bahwa membuat film merupakan aktifitas melelahkan dan membosankan. Tampak dari wajah-wajah mereka yang semakin memucat ketika melakukan praktek shooting film pendek. Tapi tidak ada yang mengeluh. Mereka tetap semangat. Sampai lupa waktu makan. Sampai mbak Maya (koordinator Workshop) harus teriak-teriak menyuruh makan. Akhirnya, setelah beberapa hari yang melelahkan itu, kami bisa melihat hasilnya. Diluar dugaan! Mereka membuat film lebih baik dari aku saat semester dua di IKJ. Padahal tugas yang aku berikan sama dengan yang pernah aku dapat di semester 2. Yaitu membuat film pendek durasi 5 menit, dengan kamera handycam, tanpa suara, dengan edit di kamera. Semula mereka sulit memahami sebuah film yang dibuat tanpa suara dan diedit  di kamera. Tapi setelah mereka melakukan, mereka menjadi mengerti bahwa awal pertama kali film ditemukan belum ada teknik suara dan editing.

Bts15_93_8‘Mencoba memahami film dalam arti yang sebenarnya’ adalah motto yang sengaja aku berikan di Workshop.  Penting untuk dipahami bahwa Film bukan hanya yang diproduksi Hollywood, Sinemart, Miles, Rexinema, Star Vision atau Multivision. Film juga bukan hanya yang ada di gedung bioskop 21 yang apabila kita menonton harus bayar tiket. Tapi Film, adalah bahasa gambar (dan suara). Seperti kita menulis surat cinta. Jika kebiasaan kita menulis menggunakan kata-kata, maka di film, sutradara menulis dengan kamera, tata cahaya, aktor, props dan Suara. Tentunya mau tidak mau aku harus memulai workshop itu dengan sejarah film. Wuih! Hari pertama yang melelahkan dan membosankan, buatku. Bicara sejarah film dan teori film dalam waktu 5 jam. Materi yang pernah aku dapatkan selama 8 semester di IKJ, di kerutkan dalam 5 hari. Sangat ambisius! Tidak heran jika temen-temenku menilai workshopku ini sia-sia. Buang-buang waktu dan uang.  Tapi biarlah. Aku yakin mereka bukan anak bodoh. Mereka sadar bahwa workshop bukan jalan pintas menuju sukses. Gurumu adalah dirimu sendiri, begitulah Teguh Karya selalu bilang ke semua murid-muridnya. Termasuk bilang ke aku. Jadi dalam workshop, aku bukan guru, sekalipun aku menyampaikan materi. Ketika mereka sukses membuat film, bukan karena aku. Tapi karena mereka punya bakat dan ketekunan. Aku … hanya perangsang saja.

Aku bilang ini awal yang mengagumkan. Selanjutnya, aku berharap akan ada terus. Tentunya tergantung apakah workshop ini ada peminatnya. Sebab ada beberapa teman dan calon peserta mengeluh dan nyinyir kenapa harus membayar 1,5 juta. Yah, aku harus minta maaf dengan sangat. Ada yang bilang Uang bukanlah ukuran keberhasilan. Puluhan pengangguran di Indonesia bukan didominasi mereka yang tidak berpendidikan. Banyak juga yang sarjana. Artinya, ada pengorbanan materi untuk ‘Pendidikan’. Dalam Formal maupun non Formal. Bukan tidak pernah sama sekali aku mengajar tanpa di bayar. Pernah aku sampai Makasar maupun Banjarmasin untuk mengajar tanpa bayaran. Hanya transportasi, hotel dan makan saja yang ditanggung. Pernah juga aku membuka kelas gratis di Dapur Film Community. Ah, kita tidak akan pernah selesai secara bijak jika melihat sesuatu diukur dari besar kecilnya materi. Toh, uang 1,5 juta juga akan kembali ke peserta dalam bentuk sewa kamera, makan-minum dan kelas yang layak. Justru dengan membayar 1,5 juta, para peserta menjadi semangat. Karena pernah terjadi ketika aku buka kelas gratis di Dapur Film Community peserta menjadi tidak serius. Datang terlambat. Selalu beralasan jika tidak datang. Ah, sekali lagi, kita tidak akan pernah selesai dengan bijak jika mengukur segala sesuatu berdasarkan besar kecilnya materi.

5 hari sudah lewat bersama peserta. Sebentar lagi mereka akan mendapatkan sertifikat dan kesempatan magang di film-filmku. Mereka juga bisa belajar film di tempat lain atas rekomendasiku. Mereka bukan lagi orang baru di film dengan pemahaman Nol. Hal ini tentunya akan mempermudah produksiku maupun produksi yang lain dimana nantinya mereka akan magang. Jujur saja, kadang aku direbetkan sama anak-anak magang yang tidak tahu apa-apa tentang film. Oleh sebab itu workshop ini dibuat. Salah satunya sebagai pra kondisi bagi mereka yang akan magang. Usai workshop bukan berarti selesai Tanya-jawab. Selesai belajar. Bagi yang memilih tidak magang tapi langsung membuat film sendiri, aku akan dengan senang hati menjadi tempat bertanya. Bukankah esensi belajar itu justru di Tanya-Jawab itu sendiri? Menurutku, itulah makna sebenarnya sebuah Workshop.