KENAPA FILM?
Aku lahir di Jogja, di hari pertama bulan Oktober. Dulu,
sehari menjelang ulang tahunku, film G/30S/PKI di putar. Menakutkan. Tapi aku terus menerus ketagihan menontonnya. Kenapa? Aku tidak tahu. Mungkin karena actingnya, atau musiknya, atau penggarapannya, ah, mana mungkin aku dulu tahu itu?
Rumahku di gang-gang sempit. Di tengah kampung kadipaten. Keluargaku turun-temurun pengrajin dan pengusaha kulit. Kakekku pembuat sendal, sepatu, tas dan gesper dari kulit. Begitu juga bapaku. Ibuku Cina, masuk islam setelah menikah dengan bapakku. Tidak ada yang istimewa yang bisa dikaitkan dengan dunia film. Kecuali hanya sebuah grup teater masjid yang setiap habis ashar selalu menabuh gamelan pertanda latihan. Biasanya anak-anak kecil seumuranku berlarian ke masjid untuk menonton. Aku selalu duduk paling depan melihat mas lilik, mas pardjan, mbak ifa, mas Min, dan mas-mbak lain yang aku sudah lupa namanya. Karena teater masjid, maka cerita yang diangkat seputar kisah muslim dan kisah social. Aku sering terpana melihat mereka beracting. Saat itu mereka sedang latihan buat pentas di Senisono, satu-satunya gedung kesenian yang sekarang sudah tidak ada. Konon di Senisono lah tempat ngumpul para seniman Jogja. Setelah Senisono hilang, para seniman menjadi tersebar dimana-mana. Waktu itu cerita yang diangkat soal anak-anak gelandangan malioboro. Anak-anak sebayaku banyak yang ikut main. Kecuali aku.
‘Nung! Ayo ikut.’ Teriak Braman, teman seumurku yang sekarang jadi preman dan tukang parkir. Aku diam saja. Braman menarikku dan memaksa aku ikut gabung. Aku merasa minder. Tampangku yang Cina seolah membuat aku berada di lingkungan yang tidak tepat; Anak-anak Jawa!
‘Loh, anak Cina kok jadi gelandangan. Gak pantes!’ teriak seorang penonton disertai tawa yang lain. Aku diam saja. Malu. Sekali lagi Braman menyuruhku aku untuk cuek.
Itulah pertama kali aku berkenalan dengan dunia panggung. Dunia imajinasi. Ditonton orang banyak, ditonton ibuku dan teman-temanku. Aku senang sekali. Aku tidak menyangka, juga ibuku, mas lilik, mas pardjan, mbak ifa, dan mungkin Braman, kalau hal itu justru menjadi awal kecintaanku dengan dunia seni. Hingga SMA.
‘Aku mau keluar dari sekolah!’ Kataku di depan Bapakku. Waktu itu aku habis menonton Kusen, sahabatku saat SMP, pentas drama karya Arifin C Noor dalam acara Festival Teater remaja. Aku dan Kusen di waktu SMP menulis cerita, berdiskusi, lalu berpentas bersama secara keliling dari sekolah ke sekolah, dari acara ke acara. Kami juga bersama-sama nonton teater. Saat lulus SMP, kami berpisah. Kusen di SMA 1 teladan, dan aku di SMA Muhammadiyah 1. Di SMA 1, teater menjadi esktrakurikuler, sementara di SMA ku, teater diharamkan. Muhammadiyah tidak menyukai teater-teateran.
‘Aku mau keluar dari sekolah karena tidak ada teaternya!’ Aku ingat waktu itu suaruku setengah menangis.
Bapakku diam saja. Terlihat mukanya tidak sepakat.
‘Memangnya kenapa dengan teater?’ Tanyanya kemudian.
‘Aku tidak peduli teater penting atau tidak. Tapi aku suka!’
‘Kalau kamu suka, kenapa kamu tidak bikin sendiri teater itu di SMAmu? Kenapa kamu membiarkan dirimu menjadi pengecut?’
Aku diam saja. Kalimat bapakku aku cerna.
‘Kalau kamu suka, bikinlah! Kalau sudah jadi, kembangkan! Kalau sudah berkembang, pertahankan! Itu seorang pemimpin.’
Aku tidak menyangka bapakku bicara begitu. Mulai saat itu, bapakku menjadi teman diskusi dan curhatku. Aku sering mendengar anak lelaki selalu berseberangan dengan bapaknya, tapi aku … tidak. Bapakku yang mendukung aku. Ketika dalam perjalanannya mendirikan teater di sekolah aku berhadapan dengan birokrasi yang rumit, melelahkan dan membosankan, bapakku justru memberikan kemudahan dengan mengijinkan aku latihan teater di rumah, memukul gamelan sekencangnya. Bahkan pada saat WS Rendra pentas di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, bapakku mengijinkan aku bolos sekaligus menemani aku menonton di Jakarta. Bapakku juga yang mengantarku ke sanggar Teguh Karya untuk magang Film. Kemudian Bapakku yang mengantar aku ujian masuk IKJ. Tapi anehnya, bapakku tidak pernah menonton drama-drama dan film-filmku. Ketika aku pentas, bapakku sibuk mengecek jumlah penonton, mengecek relasi-relasi bisnisnya apakah pada datang menonton atau tidak, melihat respon penonton apakah suka atau tidak dengan pentasku. Saat filmku di putar di TV, bapakku juga tidak menonton, tapi sibuk menelpon teman-teman dan saudara-saudaranya untuk menonton Filmku. Pada saat bapakku datang dari jogja di Gala Premiere filmku, bapakku tidur di gedung bioskop. Begitulah bapakku. Dia punya cara sendiri untuk mendukungku. Tanpa harus bertanya soal pilihanku, Kenapa teater? Kenapa Seni? Kenapa Film? Sesuatu yang katanya tidak memberikan masa depan baik.
Pernah suatu kali bapakku meminta aku untuk kuliah di Ekonomi. Aku menolak. Aku tidak akan menjadi pengusaha seperti bapakku. Bapakku marah. Dia bilang: ‘Pernah aku melarangmu melakukan kesukaanmu? Tetapi kenapa kamu tidak mau melakukan yang bapak suka?’
Aku tahu, sudah tugas orang tua untuk memberi tanpa punya keinginan meminta dari anaknya. Tentu saja kalimat itu tidak aku keluarkan mengingat apa yang sudah bapakku berikan buatku. Akhirnya aku kuliah di Fakultas Ekonomi, Universitas Islam Indonesia. Sayangnya, aku hanya bisa berdamai dengan keinginan bapakku cuma sampai semester 5. Aku menyerah, dan pindah ke Jakarta.
Kenapa Film, Hanung?
Aku tidak tahu. Aku hanya mencintai kesukaanku. Buatku, Film adalah rohku. Ketika itu hilang. Maka aku tidak ada. Waktu aku melihat Kusen pentas di atas panggung, aku menangis. Seolah aku keluar dari duniaku sendiri. Dunia imajinasi. Teater! Film! Aku harus selalu terlibat dalam persetubuhan dengannya. Kalau kau bertanya Kenapa Film? Kepadaku, Maka sama saja kau bertanya kepada Tuhan: ‘kenapa bumi, Tuhan? yang kau ciptakan. Kenapa manusia?

January 15th, 2007 at 3:44 am
mas,, mantepp.. mantepp.. banget.
so this what i can get from your “kenapa film?”
>>> “do what you can do the best”, kira2 begitu toh??
January 15th, 2007 at 5:00 am
setelah membaca………..
cukup lama terdiam.
asyik…keren…seandainya…
January 15th, 2007 at 5:45 am
‘Kalau kamu suka, bikinlah! Kalau sudah jadi, kembangkan! Kalau sudah berkembang, pertahankan! Itu seorang pemimpin.’
Aku suka komentar ini!
Sukses bt mas Hanung…
January 15th, 2007 at 12:55 pm
saya kok keinget judul lagunya si sheila on tujuh:
kisah klasik untuk masa depan.
saya yakin, sebagai orang kreatif, mas hanung pasti pengen memilih jalan cerita yang lain dalam perjalanan hidupnya. harusnya sih gitu.
soalnya kisah sampeyan itu seolah mengulang kembali kisah2 perjuangan orang-orang sukses terdahulu. klise, monoton mengenai memilih hidup, sadar atau tidak. untungnya berhasil pula. saya tidak tahu, mungkin banyak juga orang berproses sama tapi tak berhasil.
tapi perjalanan hidup kan emang bukan fiktif ya mas.
saya pun gak bisa memilih yang lain karena sudah menjalani yang itu.
gejolak jiwa, menangis pada teater, bingung pada pilihan tapi berusaha yakin….
halah, kisah sampeyan kok sama karo aku ya mas.
aku kok jadi pengen berharap;
mudah2an aku juga bisa ketularan sukses sampeyan.
sukses selalu, mas.
terhadap karya.
terhadap perjuangan MFI.
terhadap pilihan.
terhadap kebanggaan pada seorang ayah dengan segala keunikan pertanggungjawabannya pada seorang anak.
merdeka!
January 15th, 2007 at 3:33 pm
semoga sukses selalu ya mas
,moga2 gw dapet kesempatan mejeng lagi kaya di CAS hehehe, makasih atas kesempatannya mas.
January 15th, 2007 at 8:59 pm
Thanks buat commentnya. Tulisanku diatas emang rada emosional. Tapi itu beneran. Bukan gaya-gayaan. Buat tebe, setiap orang punya jalannya sendiri. Kadang jalan yang satu dengan yang lainnya sama persis. Tapi hasilnya beda. Mungkin yang ngebedain cuma soal waktu. inget right man in the wrong place. Atau Wrong man in the Right place? maksudnya, seorang bisa berhasil tergantung bagaimana dia memposisikan dirinya di tempat, waktu dan peristiwa yang tepat. Nah, itu soal kejelian melangkah.
January 18th, 2007 at 9:41 pm
sekali lagi aku jadi teringat buku alkemist, setiap orang bahagia ketika mengikuti legenda pribadinya.
tak peduli betapa aneh atau rumit jalan yang ditempuh. namun ketika itu adalah “sebuah panggilan jiwa” kita terus mengikutinya,menyelaminya, berkubang dengannya dan anehnya itu yang membuat bahagia!
hanung,aku iri denganmu!
kamu memiliki bapak….
January 19th, 2007 at 1:35 am
kenapa film? saya pun sebenarnya suka dan sangat tertarik bahkan mungkin sejak SD yang dulu masih serng diputer layar tancep, bela-belain ga tidur ampe jam 3 or pagi.
tapi ternyata jalan yang ada aku nggak bisa sekolah film.
sekarang aku masuk sastra, but anyhow aku tetep enjoy dan sembari terus berusaha mewujudkan impian yang itu…sutradara. taon ni rencananya mau mulai nulis skenario film panjang.
btw mas nggak buka kesempatan buat magang ya ?
January 22nd, 2007 at 9:00 pm
kalo pak Salim ikut baca pasti akan terharu,..
selamt ya pak ..anakmu jadi ‘orang’ sekarang…
[donybiggro]
January 24th, 2007 at 11:56 pm
Buat Asrul, aku selalu buka magang. Saat ini sudah ada beberapa orang, semua dari luar jakarta: Surabaya, Makasar, Jogja, Bogor. Hub saya di 08158973021.
Buat mas Dony, Thanks buat commentnya.
January 24th, 2007 at 11:57 pm
Buat Asrul, aku selalu buka magang. Saat ini sudah ada beberapa orang, semua dari luar jakarta: Surabaya, Makasar, Jogja, Bogor. Hub saya di 08158973021.
Buat mas Dony, Thanks buat commentnya.
January 25th, 2007 at 5:05 am
mas hanuung,,
trus berkarya ya untuk perfilman indonesia,,!!
February 5th, 2007 at 6:05 pm
Mas Hanung…
salute salute salute…
Aku suka karya2nya Mas Hanung, inovatif, punya ciri khas dan ga pasaran..
sukses yah mas, kalo ada film2nya yg baru bole donk mas aku ikutan castingnya
February 6th, 2007 at 12:00 pm
Setelah membaca artikel Kenapa Film ?
milik mas Hanung, saat ini saya sedang berpikir keras, bagaimana caranya agar ayah saya yg sudah beberapa tahun ini tinggal di cilacap juga bisa membaca artikel ini, tanpa saya yg harus mengajaknya ke warnet,karena ia tdk akrab dengan dunia internet. Maksud saya adalah supaya mata hatinya lebih terbuka, agar ia bisa belajar dari ayah mas Hanung, bagaimana selayaknya seorang ayah mendukung cita2 anaknya,bukan malah melarang keras apa keinginan anaknya. Buat para orang tua yg membaca artikel mas Hanung, semoga mereka yg selama ini melarang anaknya berkesenian menjadi sadar akan pilihan anaknya untuk berkesenian, dan syukur2 mendukung. Mata Hati mereka juga lebih terbuka bahwa seni juga sangat layak untuk dijadikan sebagai sandaran hidup.
February 23rd, 2007 at 10:50 am
Mas, bikin film “perjalanan”mu wae mas, at least film yg ada maknany mirip “perjalananmu”. bagus tuh cerita di film in. ada pertemanan (sosial), sedikit racial, dukungan ortu ke anak, “perjuangan” anak untuk mencapai keinginannya, banyak banget tuh nilainya. It would b great!! Tapi lakone aja Brahman, diganti Sunjas wae! huehehehehehe..
June 30th, 2007 at 3:59 pm
setelah baca “kenapa Film”,wow..perjalanan panjang yang membuahkan hasil ya Mas, seandainya dulu aku seperti mas hanung berikeras menentukan sendiri jalan hidupnya, mungkin aku enggak akan terpaksa menelusuri buku-buku accounting yang menyebalkan…but life is going on, aku jadi terinspirasi untuk bisa sukses seperti mas Hanung,i hope so. thanks ya mas… aku jadi semangat lagi nih…
July 16th, 2007 at 6:53 pm
Luar biasa, kamu pantang menyerah banget yah, eh ngomong2 dulu Muhammadiyah mengharamkan teater yah, wah ..gak bener tuh, kadang2 pemahaman agama yang keliru bikin kita sempit. apa yang salah dengan teater?. itu kan alat dakwah juga?.Ngomong2 aku pengurus Muhammadiyah muda lho.Di setiap acara, aku usahakan, ada acara musiknya. bahkan aku pingin bikin teater juga. Tapi yang nglatih siapa ya..? hanung mau gak? hehe… .Tolong yang ini dijawab ya nung, dulu hanung di MUHI Jogja atau Prambanan sih, aku dulu sekolah di MUHI jogja, punya adik kelas namanya hanung juga, mirip banget ama elo.suer.sampe sekarang aku masih penasaran. Sumpah mati aku jadi penasaran…, soalnya gue cerita-cerita kalo elo itu adik kelas gue…hehe(suka ngarang)Tapi kalo ternyata bukan…yah sudahlah..(aku sudah melakukan kesaksian palsu nih…:).Pengalamanmu memang pantes buat difilemkan nung, aku juga hampir mirip dg itu, cuman aku tidak sekeras kamu berjuang. Aku suka banget ama musik dan filem . Cuma lingkungan dan keluarga tidak mendukung.apalagi kamu nekat ke IKJ segala. kalo aku, udah ambil teknik ya udah, tinggal diterusin aja, kata ortuku. yah gimana lagi, yang biayain kan ortu kita. Tapi sekarang aku sudah bisa beli piano sendiri, hampir setiap hari,aku memainkannya, aku tidak bisa lepas dari dia…
September 10th, 2007 at 11:35 pm
Terus berkarya berkarya adalah sebuah keharusan. congratulation mas hanung. BRAVO
September 10th, 2007 at 11:36 pm
Terus berkarya berkarya adalah sebuah keharusan. congratulation mas hanung. BRAVO
November 26th, 2007 at 9:40 pm
bersama2 temen2 aku mencoba mengaplikasikan dan mengembangkan apa yang pernah mas hanung berikan ke aku..saat inipun aku masih berusaha dengan seluruh kekuatanku untuk mewujudkannya…
mas hanung adalah mak comblang yang sukses, yang bisa membuat aku jatuh hati dengan film. sat ini pun aku sedang menikmati masa- masa pacaran dengannya tanks mas hanung
June 30th, 2008 at 8:10 pm
key mas,, saya akui sekali,, pemikiran mas hanung mank selalu original,,, salutku sesama insan manusia untuk mas hanung.. saya berharap,, saya pun akan egera menemukan,, “siapa aku ??..”,,
February 5th, 2009 at 9:52 pm
aku punya banyak tulisan yang nggak banyak orang suka kata mereka nggak ngerti alur tulisanku…
tapi…setelah membaca karya mas hanung, aku sadar..membuat orang mengerti apa yang kita mau itu sulit…tapi nggak ada yang nggak mungkin