Dearest Mask
Tahun 1998 adalah tahun perubahan. Tidak hanya negeriku yang berobah kehidupan politik, ekonomi dan sosialnya. Tapi juga diriku. Setelah secara mengejutkan aku meraih juara 1 lomba film Alternative di Dewan Kesaenian Jakarta untuk film pendekku ‘Tlutur’, aku pertama kali menjelajah dunia dan memasuki dunia Industri Film dan TV lewat film pendek keduaku. ‘Topeng Kekasih’ (The Dearest Mask).
Di film, itu aku menemukan semuanya. Karier, idealisme, posisi dan cinta. The Dearest Mask, buat ku tidak sekedar film pendek. Dia adalah kehidupanku sebagai laki-laki jogja, yang selalu gagal dalam pendidikan. Tidak terpandang di keluarga. Gelisah dan kesepian yang akhirnya menemukan tempat dan sanggup Bicara di mata keluarga bahwa aku laki-laki yang bisa mereka banggakan.
The Dearest Mask bercerita tentang lelaki yang terjebak dalam kisah suram masa kecil. Bayangan kekerasan yang dilakukan ayahnya terhadap ibunya begitu membekas. Dia mencoba lari dari sejarah itu dengan menenggelamkan dirinya pada buku-buku Filsafat (Marx, Nietsche, Freud). Sehari-hari menatap TV 19 inch yang selalu menayangkan acara MTV ditemani satu paket Junk Food Mc Donald dan seorang gadis metropolis bertang top. Dia sadar bahwa bukan itu jiwanya. Dia bukan lelaki dengan simbol-simbol idealis dan pop gaya Jakarta. Dia hanya seorang lelaki jawa yang tak berdaya, yang kerap melihat kekerasaan di keluarganya, rapuh, bingung dan gamang menatap realitasnya sendiri. Dia mencoba lari dari realitas itu dan menutup wajahnya dengan topeng-topeng fana ciptaannya (Pop, Idealis, Berbobot, Valueable) yang dia sendiri membencinya.
The Dearest Mask adalah aku … Dia hidup dan membawaku mengarungi belantara Jakarta yang semakin merimbun. Dia tidak pernah peduli kalau aku lelah dalam perjalanan itu. Tidak pernah mau berhenti sekalipun aku meratap. Menutup mukaku dengan setia, membasuh wajahku menjadi secerah etalase-etalase Mal, TV-TV Flat, dan Baliho-Baliho. Merobah diriku menjadi ‘Lelaki Metrosexual’, bergaya, genit, melenggak-lenggok di cafe, diskotik, Mal-Mal, yang membuatku terlena dalam ranjang hedonisme gaya Jakarta. Hah … hah … hah …
The Dearest Mask benar-benar menutup wajah dan jiwaku. Membawaku menjauhi diriku sendiri. Meninggalkan rumahku … tempat bermainku … berkelana menjelajah lorong-lorong ketidakpastian … dan kosong … tidak bermakna …
May 24th, 2006 at 6:24 am
Pertama2..kenalan dulu yah mas..namaku novie…
menurut v..perubahan yg terjadi sangat banyak sekali…semua bakal berubah apabila kita ada usaha kan???
Mas hanung,kalo v seh ga setuju ttg perubahan menjadi lelaki metroseksual karena ga musti gt kan perubahan yg terjadi???
itu kan negatif banget…
Tp v bangga banget deh ama mas hanung…karena mas bisa membuat bangga keluarga menjadi seorang sutradara terbaik…v salut banget…
Moga mas hanung nanti mau dengar cerita v,thx banget…
May 30th, 2006 at 8:33 pm
yah…begitulah sutradara, lihai menuang fikiran kedalam kata-kata kemudian menampilkannya kedalam karya sinema..! Sesuatu yang tidak semua orang bisa kerjakan; bikin ngiri ngiri and ngiri! Karena buat aku, khayalan2 itu hanya berseliweran dikepala…bisa berhari2, berbulan2, bahkan bertahun untuk menuntaskan endingnya..tetapi hanya berseliweran dikepala, menuangkannya kedalam tulisan jadinya nggak oke, apalagi mewujudkannnya seperti ‘The Dearest Mask, Brownies,Lentera Merah, (Walaaah…gak sanggup aku Mas!). Semoga mas Hanung tidak ingin berhenti berjalan walau The Dearest Mask sampai meleleh tak berbentuk !!!
Best Wishes,
wilma_wijaya@yahoo.com
June 10th, 2006 at 10:50 pm
Thanks banget buat commentnya, my friends. My best.
January 1st, 2007 at 11:12 pm
salut buat om hanung atas pengwujudan ide dan cita-citanya
.. saya juga ingin share puisi saya ttg kejamnya ibukota saat dulu pertama ke jakarta…hehe…boleh yak…
ah…aku tak peduli dengan ibu kota
yang semakin membiaskan cahaya dari debu
dan berlintang besi dan untaian kabel berjarak tak hingga
hingga membuat mata terpana dan tertahan oleh keajaiban
keajaiban yang bukan untukku
keajaiban pun bukan untuk orang yang datang sebelumku
keajaiban yang hanya milik penguasa
yang kebetulan belum melangkahi mayatku
setiap jejak langkah
dan setiap deru asap kendaraan
seolah mengejar mimpi
dan tak hiraukan debu
yang membuat nafas sesak
aku hanya ingin meminta
atau haruskah aku berdoa
pada sesama manusia..?
semakin banyak keinginan dalam kata-kata ini
semakin banyak kemuakan yang harus dimuntahkan
bukan didepanmu wahai pengotor
bukan dibelakangku wahai pencari pujian
akan kau lihat genang kebencian
dan genangan mimpi yang mengambang
di banjir-banjir mimpi ibukota
..begitulah…setelah agak lama di jakarta..ternyata jakarta teh ga kejam..cuman kota yang aneh aja kali ya?…
http://zakajekjon.blogs.friendster.com/my_blog/
January 1st, 2007 at 11:13 pm
salut buat om hanung atas pengwujudan ide dan cita-citanya
.. saya juga ingin share puisi saya ttg kejamnya ibukota saat dulu pertama ke jakarta…hehe…boleh yak…
ah…aku tak peduli dengan ibu kota
yang semakin membiaskan cahaya dari debu
dan berlintang besi dan untaian kabel berjarak tak hingga
hingga membuat mata terpana dan tertahan oleh keajaiban
keajaiban yang bukan untukku
keajaiban pun bukan untuk orang yang datang sebelumku
keajaiban yang hanya milik penguasa
yang kebetulan belum melangkahi mayatku
setiap jejak langkah
dan setiap deru asap kendaraan
seolah mengejar mimpi
dan tak hiraukan debu
yang membuat nafas sesak
aku hanya ingin meminta
atau haruskah aku berdoa
pada sesama manusia..?
semakin banyak keinginan dalam kata-kata ini
semakin banyak kemuakan yang harus dimuntahkan
bukan didepanmu wahai pengotor
bukan dibelakangku wahai pencari pujian
akan kau lihat genang kebencian
dan genangan mimpi yang mengambang
di banjir-banjir mimpi ibukota
..begitulah…setelah agak lama di jakarta..ternyata jakarta teh ga kejam..cuman kota yang aneh aja kali ya?…
http://zakajekjon.blogs.friendster.com/my_blog/
January 13th, 2007 at 1:03 am
yeah, great! thanks. cuma agak terlalu berlebihan kata-katanya, padahal bisa lebih efektif. tapi it’s oke kok.
January 15th, 2007 at 3:40 pm
Ayo kapan mau di bikin versi layar lebarnya mas?
January 17th, 2007 at 2:04 am
hi..hi. Baru neh baca2 blog nya om sutradara. Gak tahu seh yang om Hanung tulis bener ratapan hati(cieh ratapan hati,dangdut banget ya?)atau ngga.Well, life is fragile handle it with prayer.Dan topeng itu akan meleleh seiring iman dan cinta yang mengental dalam dada. Moga kau tetap menemukan Allah dalam lorong2 ketidakpastian, maka selalu ada ruang untuk kembali melepas semua penat, tidak lagi sepi. Sukses om, raih citamu. Jangan biarkan topeng itu tak dapat lepas dari dahi wajahmu..
January 18th, 2007 at 2:11 am
Emang sih susah nglepas topeng itu. Tapi lama-lama jadi keenakan pakai topeng nih. Hehehe. Sakit kali gua ya?
Eh, Jangan panggil om lagi. hehehe
February 7th, 2007 at 12:58 pm
Biarkan saja topeng menutupi wajah kita, namun jangan pernah biarkan ia menutupi hati kita.
February 23rd, 2007 at 10:56 am
“The Dearest Mask benar-benar menutup wajah dan jiwaku. Membawaku menjauhi diriku sendiri. Meninggalkan rumahku … tempat bermainku …”
Itu gpp mas, asal jangan sampai ninggalin orang2 yang berada di dalamnya…
February 24th, 2007 at 2:55 am
waduh, nek keenakan ya suseh ngelepasnya. Pake wajah sendiri enak lagi feel free. Selalu ada waktu buat kembali. Hope, ull back, mas Hanung. Kayanya kalo inget Bhumi teruas, bisa manjur tuih buat terapi ngelepas topeng. He..he.Jarnag2 orang ditiitpin malaikat dunia. ya, anakmu itu malaikat dunia.Chayo.ganbate:)
June 27th, 2007 at 4:24 am
apa yang salah dengan “bertopeng” ?
seandainya menggunakan topeng itu salah, maka Tuhan tidak akan memberikan kita wajah dengan ribuan syaraf yang memungkinkan kita tersenyum saat hati menangis, tertawa saat terluka.
Gunakan topeng kita…karena hidup ini sekarang bukan lagi sekedar hidup!
August 10th, 2007 at 8:59 am
tena ku pikkiriki mas. yam penting, mas hanung itu tukang bikin film bukan tukang bikin topeng. jalan duluan meki’ mas, saya dibelakangta’ mo dulu. sorry belum bisa banyak bantuki’…oh ya, kapan bisa bikin workshop yang mas janjikan waktu di batu licin?