Dearest Mask
Wednesday, May 17th, 2006Tahun 1998 adalah tahun perubahan. Tidak hanya negeriku yang berobah kehidupan politik, ekonomi dan sosialnya. Tapi juga diriku. Setelah secara mengejutkan aku meraih juara 1 lomba film Alternative di Dewan Kesaenian Jakarta untuk film pendekku ‘Tlutur’, aku pertama kali menjelajah dunia dan memasuki dunia Industri Film dan TV lewat film pendek keduaku. ‘Topeng Kekasih’ (The Dearest Mask).
Di film, itu aku menemukan semuanya. Karier, idealisme, posisi dan cinta. The Dearest Mask, buat ku tidak sekedar film pendek. Dia adalah kehidupanku sebagai laki-laki jogja, yang selalu gagal dalam pendidikan. Tidak terpandang di keluarga. Gelisah dan kesepian yang akhirnya menemukan tempat dan sanggup Bicara di mata keluarga bahwa aku laki-laki yang bisa mereka banggakan.
The Dearest Mask bercerita tentang lelaki yang terjebak dalam kisah suram masa kecil. Bayangan kekerasan yang dilakukan ayahnya terhadap ibunya begitu membekas. Dia mencoba lari dari sejarah itu dengan menenggelamkan dirinya pada buku-buku Filsafat (Marx, Nietsche, Freud). Sehari-hari menatap TV 19 inch yang selalu menayangkan acara MTV ditemani satu paket Junk Food Mc Donald dan seorang gadis metropolis bertang top. Dia sadar bahwa bukan itu jiwanya. Dia bukan lelaki dengan simbol-simbol idealis dan pop gaya Jakarta. Dia hanya seorang lelaki jawa yang tak berdaya, yang kerap melihat kekerasaan di keluarganya, rapuh, bingung dan gamang menatap realitasnya sendiri. Dia mencoba lari dari realitas itu dan menutup wajahnya dengan topeng-topeng fana ciptaannya (Pop, Idealis, Berbobot, Valueable) yang dia sendiri membencinya.
The Dearest Mask adalah aku … Dia hidup dan membawaku mengarungi belantara Jakarta yang semakin merimbun. Dia tidak pernah peduli kalau aku lelah dalam perjalanan itu. Tidak pernah mau berhenti sekalipun aku meratap. Menutup mukaku dengan setia, membasuh wajahku menjadi secerah etalase-etalase Mal, TV-TV Flat, dan Baliho-Baliho. Merobah diriku menjadi ‘Lelaki Metrosexual’, bergaya, genit, melenggak-lenggok di cafe, diskotik, Mal-Mal, yang membuatku terlena dalam ranjang hedonisme gaya Jakarta. Hah … hah … hah …
The Dearest Mask benar-benar menutup wajah dan jiwaku. Membawaku menjauhi diriku sendiri. Meninggalkan rumahku … tempat bermainku … berkelana menjelajah lorong-lorong ketidakpastian … dan kosong … tidak bermakna …