KISAH DI BALIK PRODUKSI AYAT-AYAT CINTA (bag.Akhir)

December 14th, 2007 by dearestmask

Shooting di Jakarta sudah selesai. Aku puas dengan kerja tim AAC yang
solid. Sekalipun berat, tetap commit untuk menyelesaikan film ini
apapun hambatannya. Padahal secara legal, kontrak crew sudah
habis 1 bulan sebelumnya. Artinya, mereka bekerja tanpa ikatan kontrak
lagi. Ini yang membuat aku terharu atas commitment mereka. Terlebih
lagi,  banyak diantara mereka  non-muslim. Tapi tidak satupun dari
mereka yang mengkaitkan keyakinan itu dengan kualitas kerja mereka.
   
Sebagaimana sudah direncanakan sebelumnya, meski Allan bisa menyulap
Semarang dan Jakarta jadi kairo. Secara geografis, tidak akan tergambar
jika tidak ada shooting di Kairo. Awalnya producer sudah puas dengan
hasil shooting di Indonesia tanpa perlu shooting di Kairo. Saya sangat
keberatan.
    Sebenarnya, dari hasil sisa adegan yang belum
diambil, hanya membutuhkan waktu 5 hari saja shooting di kairo.
Akhirnya producer mengerti dan menjalin hubungan dengan local
production lain di kairo. Local producer itu sering menangani film-film
asing yang shooting di Cairo. Sebuah perusahaan yang juga berpengalaman
d bidang produksi film. Setelah melihat konsep film AAC, dia menawarkan
harga untuk shooting disana selama 5 hari. Jumlah yang diajukan sebesar
3 Milyar untuk shooting 5 hari. Nilai yang bahkan di Indonesia bisa
membuat satu film.
    ‘Angka yang tidak masuk akal’ kata producerku.
Aku
sepakat dengan producerku, meski aku tahu konsekwensi membuat film
sesuai dengan novel Kang Abik memang berbujet besar. Tapi aku tetap
tidak percaya degan penawaran itu. Setelah kita cek quote yang
diajukan, aku melihat item-item yang tidak rasional. Misalnya, makan
per orang dia budjet kan 100 US$ sehari. Padahal pada saat riset di
sana, aku bisa makan dengan 25 ribu sehari. Bujet penawaran itu tidak
bisa ditawar kecuali kita mengurangi jumlah hari dan kru. Negosiasi
tertutup.
    Kemudian muncul gagasan shooting di India dari salah
seorang staf perusahaan MD yang orang India. Dia berjanji bisa
menyediakan lokasi yang kita butuhkan mirip Cairo. Semula aku ragu,
tapi setelah ditunjukkan foto-foto lokasi di India, saya jadi yakin.
Dalam foto itu tergambat Sungai Nil, sudut kota kairo, Taman Al azhar
University, Padang Pasir lengkap dengan unta-unta dan kafilah. Hanya
pyramid saja yang tidak ada. Tapi itu bisa dibuat di studio menggunakan
Computer Graphics Imagery (CGI) yang lebih dikenal dengan special effect.
   
Disaat persiapan menuju India, tercetus ide untuk tetap bisa shooting
di Kairo dengan dibarengi workshop film buat mahasiswa Indonesia-Al
Azhar. Lalu aku menghubungi PCIM (Pimpinan Cabang Islam Muhammadiyah).
Mereka setuju dengan ideku. Kita bahkan dibantu KBRI. Di Kairo, aku dan
PCIM berencana menggelar workshop dengan peserta anggota PCIM (mereka
adalah mahasiswa Indonesia yang sekolah di Azhar Univ yang menjadi
anggota Muhammadiyah) dan akan Shooting mengambil suasana kota dengan
kamera kecil bersama dengan mahasiswa peserta workshop tersebut.
Biasanya, kegiatan yang mengatasnamakan mahasiswa tidak perlu ijin
berbelit-belit. Maka segala sesuatu dipersiapkan. Dari Jakarta, tim
yang berangkat ke India 20 orang termasuk pemain, tetapi 6 diantaranya
berangkat duluan ke Kairo selama 4 hari. 6 orang tersebut adalah, Fedi
Nuril, Faozan Rizal (Kamera), Kasnan (Asisten Kamera), seorang pengawal
alat, Adi molana (tata suara) dan aku.
    Producer setuju dengan
rencana tersebut. Tapi ditengah persiapan itu, muncul kendala di
pengurusan Visa. Karena hari shooting di India dan Kairo berurutan,
membuat pengurusan visa tarik-tarikan antara keduanya. Waktu kita hanya
1 minggu sebelum keberangkatan shooting, sementara mengurus Visa di
India membutuhkan waktu 4 sampai 5 hari karena jumlah orang yang akan
berangkat banyak. Begitupun mengurus Visa Kairo. Akhirnya aku minta
tolong pihak PCIM dengan bantuan KBRI menguruskan visa on arrival.
KBRI setuju dan sudah menghubungi pihak emigrasi cairo bahwa akan
datang tim dari Indonesia berjumlah 6 orang untuk workshop. Kamipun
senang dengan kabar tersebut. Terbayang eksotisnya kota kairo,
kios-kiosnya, menara-menara masjid yang menjulang, jalan raya yang
macet, kampung- el giza. Bahkan pihak KBRI bisa menyediakan fasilitas
khusus masuk kawasan pyramid dengan bebas. Rasa optimisku bangkit lagi.
Akhirnya … aku bisa shooting di Kairo …
    Tapi, lagi-lagi semua
itu cuma mimpi. Sesampainya di bagian Check In Bandara Sukarno-Hatta,
aku dan 5 kru lainnya tidak boleh berangkat. Waktu itu kami berencana
terbang ke Kairo dengan Sinagpore Airlines (SQ). Pihak SQ tidak bisa
memberangkatkan kami dengan alasan tidak ada visa. Aku menjelaskan,
bahwa kita dapat fasilitas Visa on Arrival
dari KBRI Cairo. Mereka minta bukti tertulis dari pihak KBRI sebagai
pegangan. Aku tunjukkan undangan dari PCIM untuk workshop atas nama
Muhammadiyah ke pihak SQ. Mereka tidak mau terima. Yang mereka minta
adalah surat tertulis yang menjamin 6 orang yang diterbangkan SQ bisa
diterima di Kairo. Itu tanggungjawab Airlines atas keselamatan
penumpang. Aku segera telpon pihak PCIM untuk menghubungi KBRI.
Ternyata hari itu kantor KBRI libur. Sekalipun bisa terhubung secara
pribadi dengan bagian konsulat KBRI, tapi untuk urusan administrasi
harus melalui kantor. Akhirnya, kami tidak jadi berangkat. Kamera yang
sudah kita sewa, tiket yang sudah kita beli dan segala harapan untuk
bisa shooting di Kairo buyar … Dada ini terasa sakit sekali. Dalam
perjalanan meninggalkan bandara Soekarno-Hatta, tanpa sadar, air mataku
meleleh lagi. Ya Alloh, Apakah aku terlalu kotor memproduksi film ini, maka kau berikan hambatan buatku untuk yang terbaik?
   
Tidak ada harapan lagi kecuali shooting ke India saja. Untuk saat ini,
sebuah kemewahan bisa membayangkan film ini sesuai dengan harapan Kang
Abik dan pembaca fanatik AAC. Yang bisa aku lakukan hanyalah
menyelesaikan film ini semaksimal yang aku bisa.
    Pesawat
Malaysia Airlines take off  dari Jakarta membawa 20 Kru dan pemain AAC
beserta dua kopor berisi Kostum pemain, 3 kopor berisi property
keperluan Artistik dan dua kopor lain berisi bahan baku film 35mm serta
kabel-kabel. Kira-kira 8 jam perjalanan, kami mendarat di Banglore
untuk transit. Saat itu malam hari. Udara agak dingin. Pesawat yang
membawa kita ke Bombay baru besok pagi sekitar jam 10  take off dari
bandara. Menurut travel agent di Jakarta, di Banglore kita disediakan
penginapan. Tetapi kenyataannya bukan penginapan sebagaimana layaknya
sebuah hotel transit di bandara international. Kita disediakan satu
apartement dengan 6 kamar. Padahal kami berjumlah 20 orang dimana tidak
semuanya laki-laki. Kopor kami juga banyak. Tidak layak buat kami untuk
menempati satu apartement. Malam itu sudah jam 12 malam. Pihak
administrasi apartement sudah tutup untuk meminta tambahan satu
apartement lagi. Kami kebingungan sendiri. Setelah beberapa lama
terkatung-katung, salah seorang pembantu apartement lain menawari bisa
memakai apartementnya kalau cuma buat semalam, karena pemiliknya sedang
keluar kota. Akhirnya kami patungan menyewanya. Apartement itu untuk
crew dan pemain perempuan. Aku bersama crew laki-laki lainnya saling
tumpang tindih di apartement satunya. Aku dan Rajish (Make up artist)
tidur di sofa depan. Faozan Rizal dan tim kamera tumpuk-tumpukan satu
kamar. Fedi, Oka dan Iqbal tidur satu ranjang bertiga. Lainnya tidur
sekenanya.
    Tepat jam 11 siang kami meninggalkan Banglore
menuju Bombay. Kami sudah dijemput sebuah bis yang akan membawa kami 15
jam menuju Jodhpur. Bayangan kami, Jodhpur adalah kota kecil yang tidak
ada bandaranya disana. Tapi ternyata Jodhpur adalah kota wisata. Banyak
turis eropa-Amerika datang kesana menggunakan pesawat, apalagi di
bulan-bulan November. Bandaranya-pun lebih bagus dari Halim
Perdanakusuma. Jadi penggunaan bis semata-mata buat ngirit bujet
produksi, mengingat harga tiket Bombay-Jodhpur di bulan-bulan libur
naik. Kami cuma menghela nafas. 15 jam perjalanan, bayangan kami,
seperti perjalanan Jakarta Surabaya. Tidak apalah, aku bisa istirahat
di bis, pikirku.
    Setelah keluar dari bandara Bombay dengan
tumpukan kopor-kopor, kami melihat bis yang disediakan kami kecil.
Warnanya kuning. Bis tersebut bukan selayaknya kendaraan tempuh
Jakarta-Surabaya. Bis itu seperti bis Jakarta-Sukabumi yang diberi AC.
Tempat duduknya sempit hanya memuat 20 orang saja. Sedangkan
kopor-kopor kami banyak. Aku komplain dengan orang india (staff MD)
yang mengurusi kami disana. Dia bilang, bis ini disediakan berdasarkan
bujet dari producer. Kami tetap tidak mau naik. Aku melihat wajah
teman-teman kusut. Tika (line producer AAC) marah dan meminta local
unit menyediakan tiket pesawat. Sayangnya, tiket pesawat ke jodhpur
habis sampai 3 hari kedepan. Setelah berdebat lama, akhirnya kami
disediakan satu mobil kijang khusus untuk kopor-kopor. Allan menyertai
kopor-kopor itu di mobil Kijang. Yang lainnya naik bis. Fedi yang
berkaki panjang menduduki bagian belakang tepat di selasar tengah bis
diapit Rianti, Prita (Pencatat Script), dan Clarissa. Ditengah diisi
Oka, Pao, Tarmiji, Kasnan (tim kamera), Adi molana dan pak Rajish. Di
depan ada Aku, Retno Damayanti (kostum), mbak Tia (asisten Retno) dan
Tika. Seorang supir bernama Ganesh membawa kami membelah negeri India
melintasi Gujarat. Sebuah perjalanan panjang dan melelahkan terbayang …
   
Perjalanan Bombay-Jodhpur mirip seperti perjalanan Jakarta-Surabaya.
Padang Ilalang terbentang di kiri kanan. Rumah-rumah gubuk,
warung-warung tempat mangkal bis dan Container berderetan sepanjang
jalan seperti di film Iran Café Transit,
jajaran rumah-rumah pedesaan diselingi pohon-pohon besar dan
sawah-sawah tandus berseliweran. Pemandangan luar biasa buatku.
Eksotis. Bis kami melaju bersama dengan puluhan bahkan ratusan
truk-truk. Kadang bis kami berhenti sekedar minum teh hangat India yang
dicampur susu bersama sopir-sopir berkulit hitam. Di perbatasan
Gujarat. Kami mendapat persoalan. Bis kami dilarang melintasi
perbatasan karena dokumen tidak lengkap. Selama 2 jam kami dicuekin,
sementara Ganesh mondar-mandir dari post satu ke post lainnya yang
jaraknya 1 km untuk menyelesaikan administrasi. Terlihat dia begitu
stress, dia meminjam Hp Tika untuk menghubungi seseorang. Terlihat dari
cara bicaranya, Ganesh sedang bertengkar. Mungkin orang itu yang
menyebabkan Ganesh mendapat persoalan. Kami nyaris balik ke Bombay
karena tidak ada ijin melintas. Ditengah situasi panik itu Rianti,
Clarrisa, Oka dan Fedi didatangi militer bersenapan karena mereka
foto-foto.
    ‘Ini bukan tempat wisata!’ kata Militer itu.
   
Terlihat wajah Rianti pucat karena takut. Akhirnya Ganesh menjelaskan
ketidaktahuan kami. Merekapun mengerti. Setelah 2 jam lewat dengan
perasaan tidak menentu, kami bisa melintasi perbatasan, melanjutkan
perjalanan atas perjuangan Ganesh. Malam yang panjang terasa. Sekalipun
sulit buat kami tidur di tempat sempit seperti itu, kami tidak bisa
melewatkan rasa ngantuk. Pagi berikutnya kami berhenti di sebuah kota
kecil. Kami menyewa losmen kecil buat mandi dan sarapan. Kami istirahat
selama 4 jam memberikan kesempatan Ganesh tidur. Di tempat itu kami
diliatin penduduk sekitar. Apalagi Rianti dan Clarissa. Orang-orang
India memiliki keramahan berbeda dengan Indonesia. Apalagi bukan di
kota besar seperti Bombay, Delhi atau Madrass. Suara mereka yang keras
membuat kami mengira mereka marah. Tetapi sebenarnya tidak. Di tempat
itu kami baru sadar bahwa kami sudah menempuh 15 jam perjalanan. Tetapi
kami masih berada setengah perjalanan menuju Jodhpur. Setelah membuka
peta baru kami sadar berapa jarak sebenarnya dan berapa waktu tempuh
sebenarnya antara Bombay-Jodhpur. Bombay-Jodhpur berjarak 850km,
Kira-kira 24 jam waktu perjalanan darat jika ditempuh secara non-stop.
Kami merasa ditipu. Fedi yang biasanya diam, kini marah-marah, dia
protes ke producer atas perlakuan ini. Jawab producerku, pihak MD tidak
tahu menau soal ini. Mereka juga minta maaf. Pak Rajish, salah satu
karyawan MD dari India bagian make up artis banyak membantu kami.
Setidaknya membantu kami berkomunikasi. Ternyata, dibalik semua itu ada
yang tidak jujur, memanfaatkan situasi ini untuk mengambil keuntungan.
Aku marah, tetapi aku tahu itu tidak ada gunanya. Akibat dari
kesalahpahaman ini kami kehilangan waktu dan tenaga yang seharusnya
bisa dimanfaatkan buat Shooting. Kami cuma bisa pasrah …
    Jam 8 malam, tepat 30 jam perjalanan dari Bombay, kami masuk Hotel. Alhamdulillah,
akhirnya kami bisa merebahkan diri di tempat yang layak. Diatas tempat
tidur aku melepaskan pikiran. Sepanjang hidupku, tidak pernah aku
membayangkan melintasi negeri Gujarat naik bis. Tanpa asuransi, tanpa
perlindungan apapun. Untung tidak ada teroris menghadang kami. Sungguh,
aku sudah tidak kuat. Aku ingin lari saja dari produksi. Toh, tidak ada
jaminan apapun buatku untuk menyelesaikan film ini? Uang? Demi Alloh,
gajiku tidak sebanding dengan persoalan yang aku hadapi. Kalau orang
mengira aku melakukan ini semua demi uang? Demi jualan? Kehormatan? Wallohi,
orang itu benar-benar picik. Tidak ada keuntungan materi yang aku dapat
di film ini. Semata-mata hanya idealismeku saja yang berharap Film
Indonesia tidak hanya diisi oleh Horor dan percintaan remaja Kota. Tapi
apa itu idealisme? Apakah Kang Abik dan jutaan pembaca AAC mengerti
soal idealisme ini? Apa yang mereka bisa berikan buat mengganti
segudang persoalan kami disini? Mereka tidak lebih dari sekedar
penonton yang menuntut hiburan atau membanding-bandingkan Film dengan
Novelnya. Lantas jika tidak sama dengan Novelnya terus mencaci maki,
menganggap bodoh dan kafir sutradara yang membuat. Karena hal-hal
islami dalam Novel tidak tampak, tidak terasa.
    Lagi-lagi dadaku
sesak. Tapi aku tidak bisa lari. Aku sudah berjanji kepada diriku,
anakku dan ibuku untuk memberikan yang terbaik.
    ‘Kalau kamu sudah bisa membuat film. Buatlah film tentang agamamu.’ Kata ibuku yang terus menerus terngiang.
   
Pagi harinya aku mulai shooting. Dan persoalan seperti tidak selesai.
Dari mulai peralatan yang kami pakai sudah ditinggalkan industri India
5 tahun yang lalu alias butut: Lampu-lampu yang fliker (menghasilkan
cahaya kelap-kelip seperti neon yang habis watt nya), Kamera tua yang
ketika dipakai mengeluarkan bunyi berisik, generator kami yang lebih
layak dipakai buat menyalakan mesin pemarut kelapa dibanding buat
shooting. Lalu kru-kru India yang disediakan untuk membantu kami bukan
kru profesional. Di bagian akomodasi makanan kami selalu datang telat
sehingga banyak yang protes. Tidak hanya kru Jakarta saja yang protes,
kru India juga begitu. Suatu kali pernah mereka mogok kerja tidak
shooting karena hanya di kasih makan sekali sehari. Padahal shooting
sampai jam 12 malam. Di lokasi gurun, kami harus mendaki gunung pasir
dengan jalan kaki sebelum menuju lokasi utama. Kami menggunakan Unta
buat mengangkat Kamera dan perlengkapannya. Kaki-kaki kami sakit
tertusuk tanaman duri. Bibir kami banyak yang pecah karena panas
matahari. Sebelum mencapai tempat lokasi, kami istirahat mirip
kafilah-kafilah yang kehausan ditengah sahara.   
    Tapi dari
semua kesulitan itu, Alhamdulillah aku bisa menyelesaikannya dengan
baik. Lokasi yang aku dapatkan luar biasa. Kecuali lokasi Gurun, lokasi
Nil, Taman, Rumah Sakit berada di satu hotel peninggalan Kasultanan
Pakistan. Lokasi gurun Pasir kami tempuh 4 jam perjalanan dari Jodhpur.
Melelahkan tapi juga menyenangkan.
    3 hari kami melakukan
shooting dan 2 hari sisanya adalah perjalanan. Di hari ketiga,
rombongan kembali ke Jakarta. Aku bersama 20 cann film hasil shooting
di Jodhpur terbang menuju Madras untuk editing dan processing lab.
Sastha Sunu, editor Ayat-Ayat Cinta sudah menungguku disana. Sampai
tulisan ini dikirim, aku masih menyelesaikan proses film Ayat-Ayat
Cinta yang semakin lama semakin rumit secara teknis. Sehingga
mengakibatkan jadwal Tayang Ayat-Ayat Cinta mundur di bulan Januari.
Aku tidak berani menjelaskan kerumitan itu, karena sifatnya technical
sekali. Pendeknya, produksi Ayat-Ayat Cinta adalah produksi yang penuh
dengan cobaan dibandingkan 6 filmku sebelumnya.

Semoga Cobaan ini membuktikan Cinta Alloh masih bersama Kami semua …

KISAH DI BALIK PRODUKSI AYAT-AYAT CINTA (bag.3)

December 5th, 2007 by dearestmask

    Bukan sekali ini aku mendapatkan persoalan pada saat membuat film.
Persoalan buatku adalah sahabat karib. Di Dapur Film aku menekankan ke
teman-teman, jika mau terjun ke dunia film, persoalan adalah bagian
hidup kita. Bukan berarti kita mencari persoalan, tapi persoalan harus
kita sikapi sebagai tantangan. Akan tetapi persoalan yang menimpaku
sekarang ini seolah tak berujung. Menangis sudah bukan suatu yang luar
biasa lagi.
    Sejak kabar kita bakal sulit shooting di kairo aku
jadi tidak bergairah. Tapi kabar film AAC bakal diproduksi sudah
beredar. Posisiku sulit. Bersamaan dengan itu film produksi pertama MD
yang berbujet besar drop di pasaran. Sebuah film yang dianggap idealis,
bahkan tidak mampu menembus angka 100 ribu penonton. Keyakinan producer
mulai goyah.
    ‘Apakah kamu masih yakin AAC akan diproduksi?’ Kata producer padaku,
    ‘Iya’ jawabku yakin. Sekalipun aku sendiri tidak tahu apakah keyakinan itu sekuat dulu.
    ‘Apakah AAC adalah film yang bakal di tonton?’ tanyanya kemudian.
 
Aku lalu ingat pernyataannya tentang 80% penduduk Indonesia adalah
muslim. Kemudian aku membalikkan pernyataan itu kepadanya. Jawabnya …
    ‘Ya, tetapi setelah melihat realitas, penonton kita masih belum bisa menerima film-film berat.’
 
Beberapa detik aku sempet bingung dengan istilah film berat. Aku tahu
pada waktu itu kondisi psikologis producerku sedang drop. Tidak hanya
satu-dua juta kerugian yang dia tanggung di film pertama. Wajar jika
sudah menggoyahkan keyakinannya. Aku berusaha meyakinkan dia lagi
kalau AAC adalah film yang ditunggu penonton. Aku juga meyakinkan kalau
kita di dukung oleh Muhammadiyah. Tapi alasan itu tidak cukup buat dia.
Sebuah dukungan bisa dengan gampang dicabut. Tetapi sebuah produk yang
sudah diproduksi tidak bisa diuangkan. Investor tetap menanggung beban
besar. Intinya, dia butuh keyakinan kalau AAC adalah film yang bakal
ditonton lebih dari 1 juta penonton. Jumlah tersebut diperhitungkan
secara bisnis untuk balik modal, mengingat bujet yang dipersiapkan
untuk memproduksi AAC duakali lipat bujet standart Film Indonesia. Yah,
sekitar 7 Milyar.
    Lalu produk seperti apa yang ditonton oleh satu juta penonton?
    Pertanyaan itu yang akan merobah karakter Film Ayat-Ayat Cinta yang selanjutkan menjadi persoalanku kemudian.
 
Pertama yang dilakukan untuk menset-up produk agar ditonton oleh satu
juta penonton adalah mengubah scenario menjadi light. Scenariopun
dirombak total. Producer sempat menghubungi Musfar Yasin untuk
menggantikan Salman Aristo, karena pada saat itu Nagabonar jadi 2
meraih 1,3 juta penonton. Musfar menolak dengan alasan tidak etis.
Salman Aristo kemudian bersedia merubah scenario dengan catatan sedikit
keluar dari novel. Kita sepakat. Dalam hal ini Kang Abik sedikit kita
abaikan dengan maksud segalanya berjalan lancar. Mengingat kang Abik
kondisinya waktu itu tidak di Jakarta, sehingga untuk melakukan diskusi
scenario harus menghadirkannya dari semarang.
    Skenario dibuat
dalam 2 minggu.  Selama 2 minggu itu kegiatan persiapan menjelang
shooting dihentikan. Di minggu ketiga seharusnya kita sudah melakukan
shooting, terpaksa dilakukan persiapan lagi. Jadwal akhirnya mundur
satu bulan. Keberatan muncul dari para pemain. Sebagian pemain
Ayat-Ayat Cinta adalah pemain dengan jadwal ketat. Fedi Nuril sibuk
dengan album dan tour Garasi. Ryanti sibuk dengan jadwal MTV, Carissa
dan tante Marini  sibuk dengan sinteron striping, Melanie putria dan
Surya Saputra sibuk dengan presenter. Kalau produksi ini mundur
schedule pemain yang akan sulit. Di bulan kedepan para pemain tersebut
sudah masuk schedule lain diluar Ayat-Ayat Cinta. Hal itu membuat Iqbal
Rais, asistenku kelabakan mengatur schedule. Dalam 2 minggu itu
pekerjaan Iqbal berkali-kali melakukan revisi schedule dan breakdown
shooting. Sedangkan Amelia Oktavia (amek) dan Ruth Damai Pakpahan
(Iyuth) yang bertugas sebagai casting director me-loby pemain kembali.
Itu tidak mudah tentunya. Schedule di luar AAC sudah terlanjur di
booking oleh para manajer. Malah beberapa ada yang sudah kontrak.
 
Seperti yang disepakati bersama, scenario rampung dalam 2 minggu. Tapi
bukan berarti persoalan selesai disitu. Tahap berikutnya adalah
menentukan dimana shooting dilakukan, mengingat kairo sudah tertutup
buat MD. Oh,ya … Hal mendasar yang membuat produksi ini mengalami
kendala kreatif adalah producer mulai menekan bujet produksi akibat
kerugian di film pertama. Pemindahan shooting di Indonesia dilakukan
dengan asumsi bujet produksi tidak semahal di Kairo. Padahal kenyataan
di lapangan tidak semudah asumsi itu. Sesuatu yang diciptakan dengan
set akan lebih mahal dibanding kita menggunakan set yang sudah jadi.
Kalau toh ditemukan rumah yang mirip dengan yang ada di Kairo, perabot
didalam rumah itu tidak bisa dipakai.
    Menjelang shooting aku
dan producer banyak bertengkar soal itu. Pengajuan bujet untuk tata
artistic di potong. Begitupun dengan pengajuan lampu. Aku seperti
berada dalam ruang isolasi yang semakin lama dinding itu bergerak
menghimpit. Pada awal persiapan, konsep film AAC adalah menghadirkan
keindahan kota kairo dengan memotret lansekap sebagaimana tertulis di
novelnya kang Abik. Kini, terpaksa harus aku persempit mengingat lokasi
shooting tidak memadai dan peralatan pendukung dikurangi. Aku dan
Salman Aristo memutuskan memperkuat dramatik cerita daripada keindahan
gambar. Oleh sebab itu beban jatuh pada para pemain. Pemain harus mampu
secara meyakinkan membawakan karakter yang diperankan. Disini muncul
persoalan baru. Sekalipun Amek dan Iyuth berhasil me-loby pemain untuk
mundur shooting, tapi tidak bisa dapat waktu untuk latihan. Jangankan
untuk melakukan riset dan observasi peran, untuk melakukan reading
scenario saja waktunya terbatas. Kepalaku mendadak berat sekali.
Hari-hari shooting tinggal beberapa hari, tapi permainan mereka masih
jauh dari harapanku. Ya Alloh, selamatkan aku. Selamatkan film ini …
   
Pernah suatu kali aku minta mundur lagi karena pemain belum siap,
terutama Rianti dan Carrisa. Producer tidak memberikan ijin. Aku
bingung. Aku melihat Rianti dan Cariisa masih jauh dari harapanku. Pada
awalnya tokoh Aisha diperankan Carrisa dan Rianti sebagai Maria. Saat
latihan berlangsung, aku merasa keduanya tidak pernah mencapai klimaks.
Selalu saja ada yang salah. Kemudian mas Whani Darmawan selaku acting
coach (Penata laku) mencoba merobah posisi. Rianti sebagai Aisha dan
Carrisa sebagai Maria. Aku melihat ada perubahan ke lebih baik. Mungkin
tepatnya: Lebih pas … Tapi aku masih belum yakin dengan itu,
dikarenakan banyak persoalan kreatif lain yang menghimpitku. Aku tidak
bisa dengan jernih memutuskan. Lalu Aku minta bantuan Salman Aristo
untuk ikut memutuskan. Setelah melewati test kamera, aku, Salman Aristo
dan Producer bersama-sama melihat dan memutuskan siapa yang pantas
menjadi Aisha. Aku ingat waktu itu rapat untuk memutuskan siapa yang
pantas menjadi Aisha dilakukan 10 menit sebelum acara pers conference
yang menghadirkan PP Muhammdiyah Din Sayamsudin dan wartawan dari media
cetak dan TV. Di ruang lain, Rianti dan Carisa menunggu keputusan itu,
karena berhubungan dengan siapa yang akan memakai cadar dan jilbab pada
saat acara pers conference. Akhirnya, kami memutuskan Rianti yang
menjadi Aisha. Cadarpun terpasang menutup sebagian wajah cantik Rianti
   
Ketika hari Shooting ditentukan, pemain sudah disiapkan secara
schedule, Set sudah dibangun, mendadak ada kabar Ryanti akan di
deportasi karena masa tinggalnya sudah habis (Rianti masih menjadi
warag Negara Inggris saat ini), sehingga dia harus kabur ke Singapura
beberapa hari sambil mengurus perpanjangan masa tinggalnya di
Indonesia. Shooting yang sudah kita tentukan harus mundur lagi. Set
yang sudah dibangun harus dibongkar. Kepalaku mulai berat. Mataku mulai
kabur. Allohu akbar! Apa lagi yang harus aku hadapi? Berapa tetes lagi
air mataku kutumpahkan dan berapa lapang lagi dadaku aku rentangkan?
Ingin rasanya aku lari dari semua ini. Tapi aku selalu ingat pesan
ayahku, wong lanang kui kudu mrantasi … (Lelaki itu harus menyelesaikan
segala persoalan). Aku melihat sisi positif dari kemunduran ini. Aku
bisa focus latihan buat pemain. Akhirnya kamipun mundur. Karena set
yang sudah dibuat tidak bisa dibongkar, kita terpaksa shooting satu
hari tapi setelah itu break seminggu.
Pada saat shooting, aku
melihat kairo berdiri di Jakarta dan semarang. Aku melihat metro yang
dibangun bangsa Prancis di stasiun Manggarai. Aku melihat perpustakaan
Al Azhar dan ruang Talaqi masjid Al Azhar di Gedung Cipta Niaga Jakarta
Kota. Flat Fahri, Flat Maria dan Pasar El Khalili di kota lama dan
Gedung Lawang Sewu Semarang. Ruang sidang pengadilan Fahri di Gereja
Imanuel Jakarta. Apa yang dibangun Allan, art directorku, berhasil
meski dengan berbagai kendala keuangan yang tidak lancar. Untuk
membangun set dan menyediakan property, Allan sering mengeluarkan uang
pribadinya untuk menutup aliran uang yang tidak lancar. Gajinya yang
seharusnya di bagi-bagikan kepada krunya, habis buat belanja property
dan membangun set. Karenanya banyak krunya pada marah-marah dan kabur.
   
Pada saat shooting berlangsung, tidak begitu saja mulus dan on
schedule. Hari-hari pertama kami berhasil menghadirkan suasana kairo
dengan menyewa orang-orang arab sebagai extras. Karena shooting selalu
selesai tengah malam, orang-orang arab lama-lama tidak mau diajak
shooting lagi. Maklumlah, mereka bukan berprofesi sebagai pemain.
Kebanyakan dari mereka pedagang, mahasiswa, karyawan bahkan ada yang
dokter. Suatu kali pernah si dokter marah-marah karena shooting sampai
malam, padahal sebagai dokter dia tidak pernah berpraktek sampai malam.
Di hari-hari menjelang akhir shooting AAC, bahkan untuk mengajak gembel
Arab pasar Tanah Abang pun tidak bisa. Masya Alloh!!
    Di Kota
lama dan Lawang sewu Semarang, kami menghadapi persoalan kamera
terbakar, hujan, berhadapan dengan preman Kota Lama, ruang sempit dan
lapuk karena tua yang membuat set lampu lama. Dengan begitu scene yang
seharusnya diambil jadi banyak terhutang. Untuk membayarnya, kita
menunggu jadwal pemain kosong, Amek dan Iyuth kembali me-loby, iqbal
rais kembali membongkar break down. Hal itu terus menerus mereka
lakukan sampai-sampai Amek dan Iyuth kehilangan muka di hadapan manajer
dan pemain. Tidak jarang aku melakukan improvisasi demi efisiensi.
Banyak adegan aku sederhanakan. bahkan dibuang. Tapi aku cukup senang
karena aku bisa merobah salah satu sudut kota lama semarang menjadi
pasar di El-Giza. Aku menghadirkan unta dari Kebun Binatang Gembiraloka
Jogjakarta. Penduduk kota lama Semarang dibikin heboh dengan munculnya
unta secara tiba-tiba di sana.
    Shooting paling berat yang aku
rasakan pada saat adegan sidang Fahri. Aku memilih gereja Imanuel
Jakarta untuk di set sebagai ruang pengadilan. Aku menghadirkan lebih
dari 300 ekstrass. Semua pemain utama kumpul jadi satu. Penata kostum,
penata make up kewalahan menghadapi banyaknya pemain. Ini salah satu
scene dengan jumlah pemain paling banyak. Aku melihat hal yang unik di
sana. Banyak pemain memakai Jilbab bahkan bercadar, tapi mereka berada
di dalam gereja. Tanda salib bertebaran di atas kepala mereka. Suatu
yang lucu dan menarik aku lihat. Lalu aku ingat, pada saat aku masuk
masjid Al Azhar, bahkan untuk ijin memotret saja tidak mudah. Apalagi
shooting. Tapi di gereja Imanuel ini, aku tidak hanya membawa kamera
dan lighting. Aku bahkan memasukkan teralis penjara sebesar 3 meter
persegi didalamnya. Aku tertawa kalau memikirkan itu …
    Tidak
terasa, persoalan sudah menjadi bagian dari produksi ini. Malah, ketika
persoalan tidak muncul aku merasa ada yang aneh. Terlepas dari semua
itu, aku senang bisa terlibat dalam persoalan. Terlebih lagi, persoalan
itu bisa terpecahkan sekalipun dengan air mata. Semoga kedepan, aku
bisa lebih dewasa.

   

Robbana afrigh alaina shabran wa tsabit aghda mana fanshurnaa ala qaumil kafiriin …
    ( …Ya Alloh, limpahkan kami kesabaran. tegakkanlah kaki kami kembali. Lindungilah kami
atas orang-orang yang membenci kami …)

   
Hingga shooting ini selesai, kami masih berhadapan dengan puluhan
persoalan lagi. Nantikan di bagian IV (AAC hijrah ke India untuk
menghadirkan Sungai Nil, Padang Pasir dan kota) …

KISAH DI BALIK PRODUKSI AYAT-AYAT CINTA (bag.2)

November 29th, 2007 by dearestmask

   

L_masjid_al_azhar_1
Kairo adalah kota dimana manusia-manusia Fahri, Aisha, Maria, Noura, Nurul, dan segudang manusia-manusia ciptaan Kang Abik bertebaran, hidup, saling bicara dan saling mencinta. Kairo sangat indah kata kang Abik. Sudut-sudut pasar El Khalili, jalanan di Down Town, Menara-menara masjid termasuk didalamnya Masjid Al Azhar dan University of Azhar Cairo. Sangat detil kang Abik menggambarkan itu dalam novelnya, yang membuat aku tertantang untuk mewujudkan dalam gambar: Bangunan-bangunan tua peninggalan 3 Dinasti (Firaun, kesultanan dan Penjajah Perancis), Kios-kios berdempetan berhadapan dengan trotoar-trotoar sempit yang penuh dengan pejalan kaki, terkadang diisi kursi-kursi rotan café pinggir jalan yang meletakkan seorang tua sedang menyedot shisa. Lalu 5 jam dari tempat itu, menuju matahari terbit, kita melihat kampung tua El Giza dengan aroma kotoran unta yang … hmmm, sekilas menjijikkan, tetapi … tertutup oleh eksotisnya lingkungan khas kairo. Bangunan  itu berdiri dari tumpukan bata-bata merah yang dipoles campuran semen dan pasir. Menjadikan warna coklat muda dominan, berpadu selaras dengan warna tanah, warna kain-kain yang dipakai membalut tubuh gadis-gadis kairo, dan warna kulit unta. Bangunan itu ada banyak. Bertebaran. Saling berdiri begitu saja. Tidak begitu rapi seperti bangunan-bangunan kuno di Itali atau paris, tapi sangat menarik bagiku. Apalagi dengan latar belakang sepasang pyramid yang gagah menjulang menyentuh langit.
Kairo … ah, Kairo. Di kota ini aku akan meletakkan kamera, melukis dengan cahaya, membangun set dan meletakkan pemain-pemain didalamnya. Pemain Indonesia yang bergaya selayaknya orang kairo asli.
    Aku datang bersama tim kecil, menjalin kerjasama dengan local production house, Egypt Production. Mereka sangat senang menyambut kedatangan kami.  Kata mereka, tidak mudah membuat film di kairo. Skenario film harus dapat ijin dari sensor film. Tidak seperti di Indonesia. Bisa dengan gampang membuat film apa aja. Karena waktu yang kita punya sangat sempit, ijin yang seharusnya 3 bulan, bisa diurus dalam 2 minggu oleh seorang local producer bernama Tammer Abbas; seorang muslim kairo, cerdas, berpengalaman di bidang film dan kharismatis. Tammer mem-provide apa yang kita butuhkan: Hunting Lokasi, akomodasi dan transportasi hingga penyewaan alat. Di benankku, sedemikian jelas tergambar film ini akan sedetil seperti yang kang abik tuliskan di novel.
    Setelah riset selesai dan scenario jadi, 20 tim dari Jakarta datang untuk melakukan hunting lokasi sekaligus test kamera. Kami melakukan shooting di sebuah tempat di El Giza. Alat-alat yang di sediakan buat kami jauh lebih bagus dari yang sering kita pakai di Indonesia. Kami sangat di support disana. Kami melakukan persiapan di kairo selama 2 minggu. Tammer akan mensupport semua shooting di Kairo berikut kostum, lokasi, crew dan pemain pendukung. Film ini benar-benar akan menjadi film Indonesia yang shooting total di Luar Negeri. Baru pertama kali terjadi dalam sejarah perkembangan film nasional. Bisa dibayangkan, bagaimana perasaanku waktu itu. Ibu, aku akan persembahkan yang terbaik buatmu … sebuah film agama yang indah dan bersahaja. Yang akan kau kenang … dan semua umat muslim Indonesia dan dunia tentunya …
    `Mendadak semua berhenti begitu saja. Impian itu kandas. Producer membatalkan shooting di Kairo dengan alasan bujet produksi yang ditawarkan Egypt Production tidak masuk akal. Tammer Abbas menawarkan angka 3 kali lipat produksi standart Film Indonesia. 1 Film AAC di produksi sama saja memproduksi 3 film layar lebar di Jakarta. Siapapun producer di negeri ini akan berfikiran sama: Membatalkan produksi Film.
    Seakan runtuh bangunan  mimpi yang sudah aku bangun. Satu persatu menimpaku.
    Tapi producerku tidak begitu saja berniat membatalkan produksi film ini.
    ‘Kita sudah terlanjur berjanji dengan banyak orang.’ Katanya …
    Bersama-sama kita mulai memikirkan bagaimana AAC bisa diproduksi sesuai dengan apa yang kita inginkan. Kemudian kita mencari sponsor untuk bisa tetap shooting di Kairo. Kita menjalin kerjasama dengan The Embassy of Egypt di Jakarta. Lewat hubungan baik dengan ketua PP Muhammadiyah Din Syamsudin, mereka setuju dengan tawaran ini. Kata Dubesnya, Film ini akan dikelola oleh dua Negara: Indonesia dan mesir. Sebelum di putar di bioskop, film ini harus diputar dihadapan presiden Negara-Negara Islam di Asia dan Timur Tengah, begitu kata Dubes. Betapa senangnya aku mendengar kabar ini. Impianku bangkit. Ku kabarkan berita ini ke teman-teman crew dan pemain. Mereka kembali semangat. Akhirnya dibuatkan kesepakatan antara dua Negara melalui Dubes Mesir-DepBudPar-PP Muhammadiyah. Bersama-sama kita melakukan pers conference, mengabarkan berita gembira ini ke masyarakat.
    Namun lagi-lagi semua itu tidak ada artinya. Pemerintah mesir, sekalipun memberikan dukungan buat kerjasama ini, tidak bisa melakukan intervensi terhadap harga-harga termasuk di dalamnya Equiptment, lokasi, property. Itu adalah hak perusahaan swasta. Artinya, sekalipun di dukung pemerintah, tetap tidak bisa mempengaruhi harga. Harapan shooting di Kairo akhirnya kandas. Terlebih lagi pihak Egypt Production tiba-tiba mengirimkan tagihan atas hunting, pelayanan persiapan dan test kamera selama di kairo sebesar 500 juta rupiah. Angka yang tidak masuk akal buat producer untuk harga test kamera dan hunting. Biasanya di Jakarta kami melakukan hunting sekitar 5 juta sampai 10 juta. Test kamera gratis kita lakukan karena itu salah satu fasilitas perusahaan penyewaan alat.
Akhirnya producer tidak mau membayarnya. Terjadilah perselisihan antara keduanya. Pihak Egypt Production melayangkan surat gugatan ke pihak KBRI di Kairo. Pihak KBRI kairo mengirimkan surat ke Departemen Luar Negeri Indonesia dan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata yang isinya terjadi penipuan pihak MD kepada perusahaan Kairo. Berita ini membuat Deplu dan Depbudpar menarik kembali dukungannya. Begitu juga dengan pihak Dubes Mesir. Seperti sebuah drama tragedy saja, nasib produksi Ayat-Ayat cinta tidak terselamatkan. 
    Terbayang olehku bangunan-bangunan  bersejarah, menara-menara masjid Azhar yang tinggi menjulang, kios-kios berjajar, pasar-pasar tradisional, pyramid, guran sahara, pantai Alexandria yang indah … hilang … hilang ditelan angin begitu saja. Lalu pesan ibu terngiang : … Kalau kamu sudah bisa membuat film, buatlah film agama …
    Ana aasif … ya ummi …

KISAH DI BALIK PRODUKSI AYAT-AYAT CINTA (bag.1)

November 28th, 2007 by dearestmask

Suasana_giza3

    Aku mulai sadar bahwa tidak mudah membuat film agama. Itulah kenapa ibuku dulu berpesan kalau kamu sudah bisa membuat film, buatlah film tentang agamamu: Islam. Awalnya aku cuma tersenyum mendengar kata-kata ibuku. Senyum yang menyangsikan. Sebab pada waktu itu buatku film agama tidak lebih dari sekedar petuah-petuah yang membosankan. Lelaki berpeci dengan baju koko, bertasbih, kadang berewokan, mulutnya nerocos soal ayat dengan cara menghadap kamera. Membuat dirinya tampak suci dengan mengumbar ayat-ayat Quran. Ah, tidak terbayang olehku sebuah film agama. Tapi aku tidak begitu saja lantas menyerah. Aku coba berangkat dari apa yang aku kenal: Muhammadiyah. Lalu merentet ke sebuah nama: Ahmad Dahlan. Hmm, aku memang menyukai film yang mengangkat satu tokoh: Gandhi, Erin Brokovich, Henry V, Shakespeare, Baghad Sigh, Malcom X, dan mungkin juga nanti Sukarno (kalau memang jadi difilmkan oleh Hollywood). Film yang mengangkat tokoh bisa membuat penonton bercermin. Dan Agama adalah cermin bagi manusia untuk senantiasa melihat kembali dirinya: Kotor atau bersih?
    Lalu aku membuat proposal Ahmad Dahlan untuk aku tawarkan ke PP Muhammadiyah. Ditolak! Muhammadiyah tidak ada uang, katanya 
. Aku cuma bengong saja. Tidak ada uang? Kataku dalam hati. Ah, sudahlah. Mungkin waktu itu aku belom dipercaya. maklum masih kuliah di IKJ semester Akhir.
Lalu kutinggalkan itikadku membuat film Agama. Aku terjun membuat film Cinta: Brownies, Catatan Akhir Sekolah, Jomblo, dsb … dsb … Tapi aku tetap yakin bahwa suatu saat akan datang masa aku membuat film tentang agama.
    Alhamdulillah, benar. MD Entertainment menawari membuat Film Ayat-Ayat Cinta (AAC).
    ‘Kenapa anda membuat film ini?’ Tanyaku
    ‘Sederhana. Pertama, Ini film dari Novel best seller. Kedua, penduduk indonesia 80 persen muslim. Kenapa saya tidak membuat film tentang mereka? Kalau saya minta 1 persen dari 80 persen masak tidak bisa.’
    1% dari 80% penduduk muslim Indonesia berarti sekitar 2 juta penonton. dikalikan 10 ribu per tiket. Berarti pendapatan kotor 20 milyar. Kalau bujet produksinya 10 milyar, keuntungan yang didapat 10 milyar.
    Aku jadi berfikir, kenapa Muhammadiyah tidak berfikiran begitu ya? Kalau cuma mengumpulkan 2 juta penonton, masa Muhammadiyah tidak sanggup? Bukankah dari 80% tersebut 40% adalah warga Muhammadiyah? Ah, dasar stupid pikirku. Banyak orang Islam tidfak berfikir luas seperti orang-orang Yahudi. Oleh sebab itu Islam selalu dimarjinalkan, mudah diadu domba, dibohongi … diakali.
    Lalu aku mulai memasuki tahap persiapan dan riset.
    Wallohu … Aku melihat islam dari dekat sekali. Sangat dekat. Di Kairo, aku menatap Menara Azhar, aku menyentuh dinding dan lantai Azhar university, aku mencium bau apek baju-baju dan karpet mahasiswa Alzhar tetapi memiliki roman muka bersih dan santun. Aku melihat keikhlasan mereka saat bersujud diatas sajadah buluk. Bibir mereka pecah-pecah oleh panas sekaligus dingin hawa Kairo, tetapi dibalik bibir pecah itu terlantun dzikir panjang menyebut: Alloh … Alloh …
    Lalu aku melihat seorang syaih duduk bersila dihadapan murid-muridnya. ‘Tallaqi’ mereka menyebutnya. Aku mendengar seorang melantunkan ayat-ayat Al quran di sudut masjid. Dan juga di pinggiran jalan. Seolah quran bagaikan bacaan novel. Allohu Akbar … Allohu Akbar. Inikah caramu membuatku dekat dengan agamaku, Ibu?
    Darahku menggelora membuat mataku terbelalak. Islam sangat indah. Islam sangat eksotis. Tapi orang-orang islam seperti tidak mengerti semua itu. Orang-orang Islam di Jakarta lebih memilih jalan-jalan ke eropa daripada ke Kairo.
    ‘Saya akan membuat film ini eksotis, pak’ begitu kata saya ke producer.
    Dan mulailah persiapan dimulai. Semangatku menggelora. Aku baca buku-buku tentang Fiqih dan sunnah. Aku libatkan mahasiswa Al Azhar untuk mendampingiku. Aku sangat hati-hati sekali melakukan ini agar apa yang tertulis dalam novel dengan indah pula tersampaikan lewat gambar. Sebuah film yang lembut, yang indah, yang suci tergambar di depan mataku dan aku yakin sekali bisa mewujudkannya.
    Namun semua impianku itu tidak begitu saja mudah diwujudkan.
    Pertama kali berita tentang pembuatan film AAC tersebar, halangan pertama datang justru dari pembaca. Diantara banyak yang berharap, mereka juga menyangsikan, sinis, dan mencemooh. Bahkan ada yang bilang : ‘Wah, sayang sekali novel sebagus ini akan difilmkan. Jadi ill Feel, deh’. ada juga yang bilang ‘Tidak pernah aku lihat Novel yang di filmkan hasilnya bagus, sekalipun Harry Potter. Apalagi ini.’
    Pada suatu hari ada sekelompok orang datang ke kantor MD, mereka bilang dari organisasi Islam. Mereka datang dengan membawa seorang lelaki berwajah putih dan seorang gadis berjilbab. Mereka bilang …
    ‘Ini calon pemain Fahri dan ini calon pemain Aisha’ sambil menunjuk ke lelaki berwajah putih dan gadis berjilbab itu.
    ‘Kami dari organisasi Islam’ lanjutnya ‘Kami sangat concern terhadap dakwah islamiah. Kami tidak ingin film Ayat-Ayat Cinta melenceng dari novel dan ajaran Islam. Kang Abik (Nama panggilan Habiburrahman El Shirasy) sudah tahu tentang ini.’
    Kami hanya saling pandang dan tersenyum. Aku … malu sekali.
    Tentu saja kami menolaknya. Kami tahu bahwa film ini harus dibuat dengan hati-hati sekali. Kami juga tidak begitu saja memilih pemain hanya semata-mata ganteng dan ‘menjual’. Karena itu kami menggandeng ketua PP Muhammadiyah Din Syamsudin sebagai penasehat kami.
    Sebelum aku melakukan casting, aku berdiskusi dulu dengan kang Abik. Kang abik sangat concern dengan sosok Fahri. Dia harus turut serta memilih tokoh Fahri. Semula kami membuka casting di pesantren-pesantren. Tetapi hasilnya Nol. Bukan berarti para santri tidak ada yang ganteng dan pintar seperti fahri. Tetapi banyak diantara mereka sudah menganggap ‘Film’ adalah produk sekuler. Oleh sebab itu banyak diantara mereka tidak mau ikut casting. Saya pernah membaca satu hadist, jangankan membuat film, menggambar manusia saja hukumnya Haram. Nanti di Neraka hasil gambar yang kita buat harus kita hidupkan. Kalau tidak bisa, Malaikat Jibril akan mencambuk kita dengan cambuk api.
    Kami melakukan casting lebih dari 5 bulan. Semua yang ikut casting adalah pemain-pemain terkenal. Tapi diantara mereka banyak terjebak pada tuntutan atas ‘Kesucian Fahri’. Banyak diantara mereka beracting ’sok suci’ dengan melantunkan ayat-ayat dan menyebut asma Alloh dengan berlebihan, mirip seperti ustadz-ustadz di TV-TV. Pernah aku menemukan seorang yang menurutku pas bermain sebagai Fahri. Tetapi lelaki itu tidak beragama Islam. Kang Abik tidak setuju. Lalu ditengah keputusasaan kami datang seorang lelaki. Ganteng, tetapi tidak sombong (tidak merasa dirinya ganteng). Sering kita lihat di Mal-Mal, banyak lelaki pesolek, sadar sekali bahwa dirinya ganteng. Tetapi lelaki ini tidak . Dia sangat santun. Bahasanya pun santun. Ketika berucap Alloh, dia agak-agak canggung. Bahkan tidak fasih seperti ustadz. Pada saat dia sholat aku melihat gerakannya jauh dari sempurna. Tetapi lelaki itu punya mata yang didalamnya mengandung semangat belajar. Dia adalah Fedi Nuril. Aku berdiskusi dengan kang Abik. Terjadi tarik ulur dan perdebatan panjang. Akhirnya kita sepakat memutuskan dia yang main sebagai Fahri. Alasanku adalah, Fahri bukan lelaki sempurna. Tapi yang membuat Fahri tampak sempurna karena dia sadar bahwa dirinya tidak sempurna. Keputusan Fedi Nuril sebagai Fahripun mengundang banyak kesangsian di kalangan pembaca fanatik AAC, terutama di Malaysia. Karena film Fedi Nuril sebelumnya menampilkan Fedi ciuman dengan perempuan bukan muhrim. Fedi pun mengakui itu. Yang membuat aku terharu, Fedi menganggap film AAC sebagai media dia buat dekat dengan Islam. Belajar kembali tentang Islam. Karena film ini, Fedi jadi rajin membuka-buka lagi buku tentang Islam. Bahkan Fedi menyadari segala tingkah lakunya yang tidak Islami selama ini setelah memerankan Fahri. Sungguh, baru kali ini aku rasakan dampak film yang begitu besar mempengaruhi keimanan seseorang. Terima kasih kang abik. terima kasih Ibu.
    Pada saat kami mencari sosok Aisha dan Maria, semula kami bersepakat untuk mencari pemain Mesir. Tetapi setelah kami melakukan riset disana, sangat mengagetkan. Perempuan-perempuan Mesir lebih tua dari umurnya. Aku mengcasting seorang perempuan mesir bernama Roughda untuk berperan sebagai Aisha. Tidak hanya cantik, tetapi mainnya luar biasa. Tetapi setelah di sejajarkan dengan Fahri, terlihat Roughda lebih pas sebagai kakaknya daripada isteri Fahri. Padahal umurnya lebih muda 3 tahun dari Fedi Nuril. Lalu kami mencari pemain dengan umur 8 tahun lebih muda dari Fedi. Pada saat kami sejajarkan, sangat pas. Tetapi disaat dia berdialog tentang perkawinan, tidak bisa dipungkiri ‘kedewasaannya’ tidak tampak. Alias belum matang. Kami bingung dan akhirnya kami sepakat untuk mencari pemain indonesia saja.
    Tidak gampang mencari pemain indonesia yang cantik sekaligus solihah. Pak Din Syamsudin berpesan kalau bisa pemain Aisha kesehariannya ber jilbab. Lihatlah siapa artis kita yang bertampang Bule yang seperti itu. Hanya Zaskia Meca saja yang berjilbab dan cantik. Selebihnya tidak ada. Sementara itu Zascia tidak bertampang bule. Dia sangat sunda. Pernah kita meng casting Nadine Candrawinata. Dia sangat cantik dan bermain bagus. Dangat cocok pula berdampingan dengan Fedi Nuril. Tapi Nadine bukan Muslim. Padahal Nadine sudah mau bermain sebagai perempuan Muslim. Aku pernah berdiskusi panjang dengan kang abik soal itu. Aku bilang padanya …
    ‘Suatu hal yang unik, ketika tokoh Maria yang kristen dimainkan oleh seorang muslim, sementara tokoh Aisha yang Islam dimainkan seorang kristen. Ini akan memperlihatkan sikap toleransi dan demokratisasi dalam Islam seperti di India.’
    Tetapi kang abik dan pak Din Syamsudin menyarankan untuk jangan bertaruh terlalu besar di film ini. Masyarakat Islam di Indonesia berbeda dengan India. Di India, masyarakat moslem dan  Non Moslem sudah terdidik tingkat kedewasaan dalam toleransi, sementara di Indonesia belum. Akhirnya dipilihlah Ryanti sebagai Aisha dan Carrisa Putri sebagai Maria.
    Ketiga pemain itu dikursuskan bahasa arab secara privat untuk mendalami kehidupan Muslim di kairo. Mereka sangat antusias. Namun antusiasme itu harus berhadapan dengan kenyataan bahwa mereka juga punya kesibukan lainnya. Ryanti sebagai VJ di MTV dan Carrisa bermain sinetron. Ryanti yang bagiku sangat keteter ketika berperan sebagai Aisha. Asiha adalah sosok yang memiliki beban berat. Sementara Ryanti sebagai VJ MTV harus selalu tampak riang dan ringan. Sering sekali benturan itu membuat proses pendalaman karakter tidak sempurna. Aku frustasi sendiri. Tetapi aku ingat, bahwa di Film ini kesabaranku benar-benar di uji. Impianku mewujudkan keindahan dan kedalaman Islam terbentur oleh kenyataan sebaliknya: Ringan, Riang, Hedonistik dan Pop. Apalagi ketika producer tiba-tiba berubah pikiran melihat kenyataan penonton Film Indonesia banyak di dominasi anak-anak muda yang pop, ringan dan tidak menyukai hal-hal bersifat perenungan. Dia lantas ingin mengubah karakterr film AAC menjadi sangat pop seperti Kuch Kuch Hotahai … Tuhanku! Tuhanku! selamatkan film ini …
    Tidak jarang aku berperang mulut dengan producerku ketika meminta adegan Talaqi dibuang. Karena boring dan membuat penonton mengantuk. Lalu beberapa adegan yang bersifat perenungan, seperti pada saat Fahri dipenjara dan menemukan hakikat kesabaran dan keikhlasan dari seorang penghuni penjara yang absurd (dalam novel digambarkan sebagai seorang professor agama bernama Abdul Rauf), Tetapi di Film saya adaptasi sebagai sosok imajinatif, bergaya liar, bermuka buruk tetapi memiliki hati bersih dan suara yang sangat tajam melafatskan kebenaran. Semua adegan itu diminta untuk dibuang atau dikurangi dan lebih mementingkan adegan romans seperti AADC ataupun Kuch Kuch Hotahai …
    Sabar … Sabar … Ikhlas … ikhlas!!!
    begitulah yang aku dapatkan di film ini. Film ini tidak hanya mampu merobah pandanganku tentang Film. Film ini mampu dan sudah merobah pandangan hidupku: tentang agama, kesetiaan, kerjakeras, komitmen, dan … cinta. Berkali-kali aku berucap syukur yang besar kepada Tuhanku yang sudah memberikan aku jalan menuju kedewasaan. Berkali-kali aku berucap terima kasih kepada Kang Abik yang sudah secara tak langsung mempercayaiku menyutradarai film ini, dimana telah membuatku kembali merasa dekat dengan Islam yang indah, bersahaja dan penuh dengan toleransi. Dan terakhir, berkali-kali aku berucap syukur kepada Ibuku yang telah berpesan untuk membuat film tentang agama. Sekarang aku mengerti, kenapa Kau berpesan begitu Ibu. Tidak lain hanyalah untuk membuatku selalu dekat dengan Islam …
    La haula wa kuwwata illa billahi …

   

BHUMI

September 30th, 2007 by dearestmask



   
Lahir saat matahari terbit di hari ke 21 bulan Juni tahun 2001.
Disebuah Rumah Sakit di Malang, Jawa Timur. Lelaki kecil dengan mata
besar mewarisi mata cantik ibunya Barmastya Bhumi Brawijaya. Panah Api
dari bhumi Brawijaya begitu kira-kira artinya. Lahir atas naungan cinta
ayah dan ibunya. Cinta yang besar sekali sekalipun pada akhirnya ayah
dan ibunya harus berpisah. Bukan karena tidak saling cinta. Tidak! Kami
sangat mencintai satu sama lain. Tapi untuk membangun sebuah keluarga,
ternyata tidak hanya cinta saja yang dibutuhkan.
    Bhumi namamu.
Bukan sekedar kegagahan nama itu kuberikan. Ada doa turut menyertai.
Doa agar selalu kuat, sabar dan ikhlas. Ya, Bhumi adalah Tanah yang
dengan kuat, sabar dan ikhlas diinjak oleh apapun dan siapapun. Dan
lelaki kecil itu memang sekuat yang aku bayangkan. Umur 3 tahun sudah
menerima kenyataan ayah dan ibunya berpisah. Kuingat saat aku ucapkan
‘Selamat Tinggal. Bapak harus pergi.’ Mata bulat itu tajam menatap
mataku. Lalu ketika harus ditinggal ibunya di Malang bersama
kakek-neneknya, Bhumi tetap tegar meski tangis pilu tetap ada.
    3
tahun Bhumi ada di Malang. Bersama kakek dan neneknya. Aku tidak bisa
menceritakan saat awal bhumi di Malang. Saat yang membuatku selalu
mengutuk diriku sendiri. Umur 3 tahun harus dipaksa merasakan perihnya
perpisahan. Tangis itu! Tuhanku. Aku tidak kuat mendengarnya. ‘Bapak,
Ibu pergi lagi ke Jakarta. Bhumi ditinggal lagi.’ Allohu Akbar! Berikan
Tangan Kasihmu ya Alloh. Lindungilah perasaannya. Lalu aku ingat
Muhammad saw. Sejak seumuran Bhumi, sudah tidak punya ayah dan ibu.
Lalu aku minta kakeknya mendongengkan kisah Muhammad saw kepadanya.
Agar dia tenang. Agar dia kuat. Tapi toh, bhumi tetap seorang anak yang
mendambakan kehadiran ayah dan ibunya. Sering bhumi bangun tengah malam
dan bilang ‘Uti, akung … kenapa bhumi ditinggal? Bhumi kan tidak
nakal?’ atau kadang dia berkata ‘Akung dan uti kan udah tua, sebentar
lagi meninggal. Nanti bhumi sama siapa? bapak dan ibu tidak ada.’
Subhanalloh! Siapa guru yang mengajari anak seumur itu merangkai
kalimat seperti itu?
    Hati siapa yang tidak robek mendengar itu?
   
Tapi Bhumi bukan anak bodoh. Dia pintar. Sekalipun disaat belajar
membaca dia agak lambat mengingat huruf satu dengan yang lain. Bhumi
juga bukan anak penakut. Dengan orang asing, dia gampang adaptasi.
Kebanyakan anak takut sama dokter, Bhumi justru bisa berdialog soal
penyakitnya. Pernah disaat dokter menyuruh Bhumi buka mulut, biasanya
si anak selalu rewel, tapi Bhumi justru bertanya ‘Kenapa harus buka
mulut?’.
Soal pendidikan agama, di Malang Bhumi sangat dididik
islami. Berkat ketekunan kakeknya, Bhumi bisa menghafal doa-doa dan
surat-surat pendek. Bahkan Bhumi bisa menghafal ayat Kursi dan aqyat
terakhir surah Al Baqoroh. Pernah suatu ketika kakeknya yang ada di
Jogja sakit, lalu Bhumi menelphone dan mendoakan. Disaat Bhumi
membacakan doa, sang kakek menangis dan Bhumi tidak jadi melanjutkan
doanya malah bertanya. ‘Akung jogja kok nangis? Bhumi kan doain buat
akung.’
    Kadang aku membayangkan hal-hal menyedihkan soal Bhumi:
kesepian, murung, gelisah. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Bhumi
aktif, lincah, penyegar suasana. Terkadang dia melamun sendiri. Ketika
ditanya kenapa melamun, dia hanya tertawa. Bhumi pandai menyembunyikan
perasaannya. Dia juga pandai menjaga perasaan bapak-ibunya. Ketika aku
ke Malang tengok dia, Bhumi tidak pernah bertanya soal ibunya. Begitu
juga saat Ibunya pulang ke Malang, juga tidak pernah bertanya soal
bapaknya. Padahal kami berdua tidak saling membenci. Begitulah Bhumi.
Semua mencintai Bhumi: Kakek-Neneknya, saudara sepupu, teman-teman dan
guru sekolah di TK Al Ghoniyah Malang. Kamipun mencintai Bhumi.
Sekalipun Kami tidak bersatu dalam keluarga. Tapi kami berdua sudah
berjanji untuk selalu bersama, saling komunikasi, saling memberi dan
menerima meski tidak dalam rumah yang sama. Dan yang lebih penting kami
berdua tidak akan meninggalkan Bhumi.
Kini, Bhumi sudah di Jakarta.
3 tahun sudah lewat. Rumah kontrakan sekalipun kecil di daerah kelapa
ijo, Jakarta Selatan aku sewa buat Bhumi dan Ibunya. Kami tetap
keluarga, sekalipun memiliki rumah terpisah. Kadang aku sering ke sana.
Tidur sana. Saat aku harus pergi keluar negeri buat proses Film, tidak
lupa oleh-oleh buat Bhumi dan Ibunya. Tiap pagi, mobilku selalu
mengantar Bhumi sekolah di Al Azhar Kebagusan. Kondisi Jakarta sedikit
merubah sifat Bhumi menjadi pemalu dan sangat sensitive. Terhadap suara
keras, bhumi sangat takut. Karena itu dia tidak mau nonton bioskop.
Pernah suatu kali aku ajak nonton bioskop dengan iming-iming dibelikan
mainan, dia malah bilang ‘Dibeliin mainan aja tapi tidak nonton
bioskop.’
    Sampai saat ini aku melihat Bhumi tumbuh menjadi
lelaki dewasa dan bertanggung jawab. Kalau pagi Bhumi membantu ibunya
masak, membelikan bumbu penyedap dengan sepeda kesukaannya ke warung
sebelah. Jika kangen dengan bapaknya, sepulang sekolah dia sering ke
kantor atau ke lokasi shooting. Tapi lagi-lagi, Bhumi menjadi pemalu.
Mungkin orang-orang Jakarta lebih keras perangainya dibanding orang
Malang. Tidak apa. Aku percaya waktu yang akan turut membentuk karakter
Bhumi. Doa dan ikhtiarku selalu bersamanya.
Allohumaghfirlana ya ghoffar … ya ghoffar!!!

Bangkok, 30 September 2007
Ditulis saat aku sedang kangen sekali padanya.

CINTA

September 29th, 2007 by dearestmask



 
Waktu itu jam 7 malam ketika aku berangkat dari rumah dengan motor.
Tahun 1993 akhir, cuaca di Yogya tidak sepanas sekarang. Apalagi curah
hujan masih stabil. Malam itu benar-benar dingin. Dengan jaket jeans
belel favoritku, aku lindungi tubuhku dari angin malam, menuju rumah N
di Jl Kaliurang.
    ‘Aku tunggu jam 8 di rumah. Bapakku tidak
ada. Pengajian. Lebih dari jam itu kita bakal gak bebas ketemuan.’ kata
N siang itu sepulang sekolah.
    ‘Aku pengen lebih lama dari itu.’
    ‘Berarti kamu gak ngerti kondisiku.’
    ‘Yeah, I Know!’
    Ayah N seorang tokoh agama terpandang di Yogya. Buat ayah N, pacaran itu dosa.
    ‘Manusia gurun!’ Kataku dalam hati.
 
Tiba-tiba hujan deras datang memecah lamunanku. Awalnya aku bermaksud
berhenti. Tp kepalang tanggung karena sudah terlanjur basah. Malam yang
dingin menjadi semakin dingin sekarang. Aku rasakan bibirku mulai
bergetar. Stupid! pikirku. Hujan. Cewek. Backstreet. Cinta! Cinta! Shit!
    ‘kenapa kamu datang kalau hujan begini?’ kata N sambil menyeka kepalaku dengan handuk.
    ‘Aku janji mau datang. Apapun keadaannya.’
    ‘Kamu emang dramatis. Dasar Aktor.’
 
N terus menatapku. Senyumnya mengembang. Aku beranikan diri mencium
pipinya. Dia diam saja. Tapi kemudian setelah kurasakan, dia tidak
sekedar diam saja.
    Malam itu kami lepaskan semuanya. Bersama.

***

    ‘Aku senang bisa makan bakso di sini sama kamu setelah lulus.’ Kata D.
    ‘Aku juga.’ Jawabku.
    ‘Bohong!’
    ‘Sumpah. Aku selalu ngebayangin makan bakso disini sama kamu seperti dulu saat kita masih SMA.’
    ‘Gombal! dasar Aktor!’
    ‘Beneran. Swear!’
    ‘N masih sering telp?’
    ‘Gak pernah. Pas kita masih pacaran juga gak pernah. Dia selalu minta di telp.’
    ‘Tidak seperti aku ya. Selalu telp kamu. Malah datang ke tempatmu.’
    ‘Itu kelebihanmu dibanding dia.’
    ‘Kamu gak anggap kalau itu murahan?’
    ‘Sama sekali tidak! Aku justru hormat sama kamu.’
    ‘Masa sih. Aku ngerasa terlalu agresif.’
    ‘Kamu baik. Tulus. Jujur. Apa adanya. Tidak seperti N. Selalu menganggap dirinya harus dihargai.’
    ‘Tapi kamu cinta sama dia, kan?’
    ‘Dulu. Aku sekarang mengharap bisa pacaran sama cewek seperti kamu.’
    ‘Wah, telat!’
    ‘Kenapa sih kamu mau pacaran sama Z?’
    ‘karena kamu balik lagi sama N.’
    ‘Sekarang aku udah putus lagi sama N. Tapi kamu masih pacaran ama Z.’
    ‘Aku bisa putusin Z buat kamu?’
    ‘Jangan, Jangan. Z temen ku juga soalnya.’
    ‘Dia selalu cemburu kalau aku bicara soal kamu.’
    ‘Ngapain kamu bicara soal aku di depan dia.’
    ‘Biar dia bertingkah seperti kamu.’
    ‘Kamu gila.’
    ‘Kamu yang membuat aku gila.’
 
Entah kenapa tidak hanya sate kambing yang membuat gairahku bangkit.
Semula aku pikir dia bercanda ‘mengajak’ ku. Tapi ternyata sentuhan itu
begitu jujur. Dan sore itu kamarku kembali menjadi saksi.

***

 
Sepucuk surat aku terima. Awal 1995 yang bergairah. Setelah aku baca
alamat pengirim dari Melbourne, baru aku sadar surat ini dari siapa.
Aku buka segera dan kubaca:
    ‘Sungguh, aku terkejut mendengar
kabar bahwa kamu memutuskan untuk keluar dari Kuliahmu di teknik dan
lebih serius diteater. Menjadi seorang aktor, katamu. Aku pikir,
setelah aku memutuskan hubungan dengan Z, aku bisa meletakkan masa
depanku kepadamu. Bahkan sampai aku harus sekolah di luar negeri
semata-mata untuk masa depan kita. Maafkan aku. Aku keberatan. Aku
tidak ingin kamu menjadi seniman. Buatku, terlalu besar pertaruhannya
di masa depan. Mungkin aku terlalu egois. Tapi itu keputusanku.
Barangkali dengan berpisah, kita berdua justru saling menghargai.
Salam. D’

****

    ‘kok masih ada ya perempuan seperti
itu?’ Kata E yang saat itu telanjang di pelukanku. Sore itu hujan.
Cuaca di akhir tahun 1995 mulai tidak stabil.
    ‘Gak tau. Mungkin emang gak jodoh.’ Jawabku sekenanya sambil memainkan jariku disela-sela payudaranya.
    ‘Kalau aku bersikap begitu gimana?’
    ‘kamu pernah bilang ke aku kalau teater itu hidup kamu.’
    ‘Sebenarnya masih ragu juga sih.’
    ‘Seenggaknya kamu tidak menganggap seniman itu punya masa depan buruk. Seperti anggapan D.’
    ‘Aku pernah beranggapan begitu loh. Sering malah.’
    ‘Trus kenapa kamu mau pacaran sama aku?’
    ‘Gak tau ya. Kamu cute sih. Gak kayak anak-anak teater lainnya.’
    ‘Gombal! Cewek tidak ditakdirkan buat ngegombal!’
    ‘Terus ditakdirkan buat apa?’ E mengubah posisinya diatasku, menempelkan pahanya di selangkanganku dan menggesek-geseknya.
 
aku cuma tersenyum. Dia pandai membuat gairahku bangkit. Padahal itu
sudah putaran ketiga. Kami bercinta lagi. 3 jam kemudian aku sudah
berada di atas panggung, memainkan drama Rusia.   

***

    Tok! Tok! Tok!
    Pintu kamarku aku buka. Saat itu tidak bisa aku sembunyikan keterkejutanku melihat siapa yang datang.
    ‘D?’
    Dia tersenyum. 10 bulan tidak bertemu, sikapnya tidak berobah kecuali kenyataan bahwa dia bertambah cantik.
    ‘Boleh aku masuk?’
    Benar-benar seperti dulu. Lugu, jujur, apa adanya.
    ‘Maaf kalau aku bikin kaget kamu.’
    Aku diam saja. Tidak tahu harus berbuat apa.
    ‘Aku tahu kamu marah sama aku. Tapi aku gak peduli. Aku ngerti kok.’
    Sialan! Dia membuat aku benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa. luar biasa!
 
‘Aku mau minta maaf. Aku salah. Seharusnya aku tidak bicara begitu ke
kamu sekalipun lewat surat. Aku bodoh. Aku minta kamu bisa maafin aku.’
     Sampai sekitar 15 menit setelah dia mengakhiri bicaranya, aku tetap tidak bisa berbuat apa-apa.

***

    Kriiiing! Kriiiing! Kriiiiiiiiiiiiinggg!!!

   
‘Kenapa tidak kau angkat’ Tanya D sambil merobah posisi tidurnya
disampingku. Kulitnya masih seperti dulu. Kuning gading dengan
bulu-bulu tipis di bagian paha atas.
    ‘Males.’
    ‘Siapa tahu itu E.’
    ‘Dia udah dapat jatahnya semalem hehehe.’
    Terlihat D tersenyum pahit. Aku tiba-tiba sadar kalau itu bukan sekedar gurauan buat dia.
    ‘Maaf.’ Kucium keningnya dengan lembut.
    ‘Gak apa-apa. Aku ngerti kok. aku anggap ini sebagai hukumanku.’
    ‘Kamu gak salah kok.’
    ‘Aku salah. Seandainya aku tidak menulis surat itu, tentunya aku sudah bisa memiliki kamu seutuhnya.’
     Aku mengusap rambutnya yang wangi. Tuhanku! Bau itu! Yeah, Bau yang tidak dimiliki siapapun. Juga N. Juga E …
    ‘Lusa aku berangkat ke Melbourne lagi.’
    ‘Aku pengen kamu disini terus. Kalau kamu jauh, kamu pasti lupa sama aku.’
    ‘Tidak. Aku janji! Tapi percuma. Kamu pasti lupa sama aku karena kamu ada yang lain.’
    ‘Sekalipun ada yang lain, tapi kamu beda. Itu yang tak bisa aku lupa.’
    D tersenyum. Terbayang deru pesawat meninggalkan bandara Adisucipto, membawanya menembus langit dan tak akan kembali lagi.

***

   
Nafas itu kembali memburu. Sprei-sprei kembali basah oleh keringat.
Acak-acakan. Rintihan kecil. Tertahan. Lalu lenguhan. Saling tumpang
tindih. Seperempat jam kemudian keheningan tampak.
    ‘Terima kasih ya.’ Suara R keluar di sela-sela desah kecapaian. Tangannya mengusap dadaku perlahan.
    ‘Terima kasih Buat apa?’
    ‘Seenggaknya aku gak akan bunuh diri lagi.’
    Aku tercenung …..
   
Tiba-tiba teringat suara tangis itu. Tangis seorang anak kecil umur 4
tahun. Keras. Melengking. Lalu gedoran pintu yang keras. Karena tidak
dibuka pintu didobrak oleh dua orang lelaki. Mereka tetangga samping
rumah yang biasa dimintai tolong oleh R. Dibalik pintu yang sudah roboh
itu R tergeletak tak sadar. Bau Baygon menyengat. Aku semakin panik.
    ‘Suaminya dimana?’ Tanyaku
   
Dua orang itu menggeleng sambil membawa tubuh R keluar rumah. Setengah
jam kemudian, R sudah berada di atas brankar menuju UGD.
    R selamat ….

    ‘Kamu emang gila! Nekad! Dan konyol!’ Kataku kemudian.
    ‘Aku udah putus asa. Aku tidak bisa sendirian. Dia punya selingkuhan. Aku dibiarin aja. Tidak ada alasan buatku untuk hidup’
    ‘Anakmu gimana?’
    ‘yaa, pada awalnya cuma dia yang bisa bikin aku terus hidup. Tapi lama-lama aku menyerah. Tapi sekarang sudah ada kamu.’
    R membalikkan tubuhnya yang telanjang menghadapku. Sekali lagi dia mencium bibirku.
    ‘Sekarang apa bedanya kamu sama suamimu?’
    ‘Biarin aja! Aku juga manusia!’
   
Aku menatap langit-langit kamarnya. Putih dengan noda-noda hitam. Noda
itu menjadi memudar ketika aku menyipitkan mataku. Seolah warna putih
itu menjadi bersih. Aku tersenyum sendiri.
     ‘Makasih sekali lagi.’
***

    ‘N?’ Nyaris saja aku berteriak.
    ‘Kemana saja kamu?’
    Suaranya tidak berubah sejak lulus SMA. Begitu juga matanya. Selalu melihat kiri kanan. Seperti dulu takut terlihat ayahnya.
    ‘Aku … disini saja.’
    ‘Aku sering melihat mukamu di koran. Di poster-poster pentas. Tapi aku selalu tidak pernah bisa menonton.’
    ‘Kamu sama siapa?’
    ‘Sendirian. Pacarmu siapa?’
    ‘Pacar? Tidak ada.’
    ‘Mana mungkin laki-laki kayak kamu tidak punya pacar.’
    ‘Apa aku terlihat lelaki aneh jika tidak punya pacar?’
    ‘Iya.’
    ‘Berarti kamu tidak tahu aku.’
    ‘Oh ya?’
    ‘Pacarmu siapa?’
    ‘Sedang tidak sama aku.’
    ‘Akhirnya kamu bisa temukan laki-laki yang pas buat kamu. Juga buat ayahmu’
    ‘Begitu ya?’
    ‘Iya.’
    ‘Berarti kamu tidak tahu aku.’
   
Aku tercenung. Mataku dan matanya beradu. Ada serangkaian kata yang
terbaca di matanya. Bukan! Bukan hanya sekedar kata! Tapi seperti
pekikan. Ya! Dia memekik. Kencang sekali. Sore itu, aku tunda latihanku
dan pergi bersamanya ke suatu tempat. Ke Selatan.

***

    Aaaah!!!
    ‘Kenapa?’ Tanya E
    ‘Aku … Tidak apa-apa.’
    ‘Sudah tiga kali aku lihat kamu bangun tiba-tiba. Kenapa?’
    ‘Tidak apa-apa. Cuma mimpi’

***

    ‘Aku sayang kamu. Aku ingin kawin sama kamu.’ Kata D
    ‘Pulanglah. Tinggalkan Melbourne.’
    ‘Tidak bisa. Masih satu semester lagi.’
    ‘Sebentar saja. 3 hari. Aku yang bayar. Kemaren aku sempat main sinetron produksi Jakarta. Bayarannya lumayan.’
    ‘Tidak bisa, sayang.’

***

    Aahh!!!
    ‘Lagi, sayang!’ Desah R
    Aaaaaahhh!!!
    ‘Lag … gi!!!’
    Aaahh!!!
    ‘Makasih, sayang.’

***

    ‘Kenapa kamu tidak pernah menelponku?’ Tanya N
    ‘Kenapa tidak kamu yang menelponku?’
    ‘Kamu tahu kalau aku tidak bisa.’
    ‘kenapa? Karena ayahmu?’
    ‘Ya.’
    ‘Sampai sebegitunya ayahmu memperlakukan kamu?’
    ‘begitulah ayahku. Begitu juga aku.’

***

    ‘Kita bakal kawin?’ Tanya E tiba-tiba
    ‘Menurutmu perlu?’
    ‘Sepertinya perlu.’
    ‘Kenapa sepertinya?’
    ‘Karena budaya yang membuat seperti itu.’
    ‘Begitu ya?’

***
    ‘Aaaahhhh!!!!’
    ‘Aaaaaaaaahhhhh!!!!’

****

    ‘Sayang … sayang … bangun’
    ‘Sayang … kenapa kamu? Aku sudah disini. Dari Melbourne langsung kesini. Ketempatmu. Bangun.’
    ‘Sayang … aku gak peduli ayahku melarangku. Aku tetap mau kemari. Melihatmu. Bangun … Bangun sayang’
   
‘Kapan kita bisa latihan teater lagi? Lalu setelah itu kita
jalan-jalan. Tidur dikasur yang sama. Lalu ngobrol soal seni, politik,
dan cinta. Bangun … bangun, sayang.’
    ‘Sayangku, sayangku, jangan tinggalin aku. Suamiku sudah lama ninggalin aku. Aku tidak mau kamu tinggalin aku. Bangun …’

****
   
Desir udara. Gelap pekat. Hambar bau menyergap. Tak bermakna. Tak
berarti apa-apa. Aku melayang-layang disana. Tak ada sayap yang
menopang angin. Pun juga tali yang menarik. Tapi aku tetap melayang.
   
Cinta? Apa itu Cinta? Kudengar suara-suara itu sekarang. Sambil kurasa
tubuhku mulai membeku. Cinta yang orang sering sebutkan itu, menjadi
penjaraku sekarang. Membawaku berada dalam ruang penuh jeruji sekaligus
tembok tebal menghadang.
    Cinta? Apakah itu?
    Hanya suara
angin semilir yang ku dengar. Tidak merdu seperti dalam film-film
Amerika yang menggambarkan adegan orang lagi mabuk kepayang. Juga tidak
ada musik mengalun. Hanya angin … angin yang hambar.

Jakarta-Bangkok, 29 September 2007

NOVEL dan FILM

September 22nd, 2007 by dearestmask


    Ini bukan pertama kali aku membuat film dari Novel.
   
Sulit? Tentu saja. Bukan hal aneh ketika novel di filmkan pasti
mengecewakan atau ‘tidak sesuai ekspektasi pembaca’, sekalipun ada
juga film lebih bagus dari Novelnya. Bicara soal bagus mana antara
Novel dengan Film, saya tertarik dengan ungkapan Andrea Hirata (Penulis
Lasykar pelangi yang akan difilmkan oleh Riri Riza): ‘Jika Filmnya
nanti tidak sesuai dengan expectasi saya, maka yang saya pertanyakan
justru ekspektasi saya.’ Sering gambaran imajinasi kita saat membaca
novel menjadi sebuah tuntutan atas visual yang tampak di layar film.
Jika visual yang tampak tidak sesuai dengan gambaran imajinasi kita
saat baca novel, maka kita kecewa. Secara tidak langsung kita
membandingkan Novel dengan film. Padahal usaha membanding-bandingkan
Novel dengan Film adalah tindakan kurang tepat. Kenapa? Karena Novel
dan  Film adalah dua hal berbeda.
    Film adalah bahasa visual
sedangkan Novel adalah bahasa tulis (baca: teks). Teks mampu membimbing
imajinasi kita secara bebas, sedangkan visual memberikan bentuk
‘Nyata’. Teks juga mampu menggambarkan secara detil suasana hati, sudut
lokasi secara berurutan berikut kiasan-kiasannya, juga memaparkan latar
belakang persoalan secara berkelindan, meloncat ke masa silam atau
mendadak menjamah masa depan seolah tanpa ada beban. Tapi visual,
dengan sifatnya yang nyata, bukan berarti tidak mampu menggambarkan
detil persoalan, suasana hati dan latar belakang, akan tetapi memiliki
karakteristik yang berbeda. Kita bisa melihat teks yang dibuat Ayu
Utami dalam Saman. Lomptan bahasa antara orang pertama, kedua dan
ketiga dengan bebas Ayu mainkan yang mana belum tentu memiliki kekuatan
sama ketika itu di visualkan. Pendeknya, membaca Novel dengan menonton
Film adalah dua pengalaman yang berbeda.
    Dari pemahaman diatas,
saya memiliki kepercayaan diri untuk kembali menerima tantangan
memfilmkan sebuah Novel. Tepatnya, melakukan adaptasi (secara bebas)
sebuah novel ke dalam Film.
    Hal pertama yang saya lakukan ketika
membedah Novel Ayat-Ayat Cinta untuk dijadikan Film adalah memahami
bahwa menonton Film berbeda dengan membaca Novel. Ketika membaca Novel,
kita bisa melakukan interupsi, menghentikan sementara membaca novel dan
dilanjutkan kembali dilain waktu. Tapi di film, tidak ada interupsi
seperti itu. Ketika film diputar, penonton seperti penumpang sebuah
kapal yang terbawa arus emosi cerita selama kurang lebih 2 jam. Karena
itu hal terpenting ketika menuliskan scenario dari Novel adalah
menentukan ‘Benang merah plot’, sehingga bisa disusun struktur dramatik
film. Struktur dramatik menjadi ‘perahu’ bagi penonton. Jika dalam
struktur dramatik terlihat kendor, maka seperti kapal yang tersendat
lajunya. Oleh sebab itu susunan adegan dalam struktur dramatik menjadi
penting untuk menjaga intensitas penonton mengikuti cerita. Dengan
demikian Plot-plot yang tergambar di novel melalui bab-bab, tidak bisa
dijadikan patokan secara mutlak untuk filmnya nanti. Disini saya dan
Salman Aristo melakukan ‘seleksi’. Tidak semua adegan dalam novel
muncul di Film. Ini bukan pekerjaan mudah. Habiburrahman (Penulis Novel
Ayat-Ayat Cinta) secara teks cukup detil menggambarkan suasana hati,
lokasi dan latar belakang tokoh utama. Teks yang ditulis Habib meluncur
secara bebas. Sering saya menemukan deskripsi tentang kondisi kairo
ditengah paragraph yang berisi adegan romantis antara Fahri dengan
Maria. Atau tiba-tiba saja, muncul deskripsi latar belakang Fahri yang
anak penjual tape ditengah paragraph yang menggambarkan pernikahan.
   
Tentu saja scenario yang ditulis tidak semata-mata menuliskan seperti
apa yang tertulis di novel. Kita mengurai adegan-adegan tersebut,
kemudian kita kelompok-kelompokkan ke dalam sequence.  Setelah itu baru
dipilih adegan mana yang bisa masuk di film, dan adegan mana yang
tidak. Dalam merangkai scene-scene di scenario, tidak jarang saya dan
Aris melakukan improvisasi, disamping membuang dan menyingkatnya. Upaya
itu kami lakukan semata-mata untuk menutup ruang interupsi bagi
penonton. Sebab jika ada celah untuk interupsi, maka film menjadi
kendor irama dramatikanya.
    Tidak jarang scenario yang sudah
kita sepakati bersama, kita rombak lagi dan kita ulang dari awal. Oleh
sebab itu, mengadaptasi Novel ke Film lebih rumit daripada membuat film
itu sendiri. Mengadaptasi Novel ke Film merupakan karya tersendiri yang
terbebas dari karya novel itu sendiri. Sebab ketika teks dalam Novel
sudah muncul berbentuk gambar, itu merupakan bagian dari proses kreatif
penciptaan.

    Karena itu, masihkah kita membandingkan Novel dengan Film?

AYAT-AYAT CINTA

August 22nd, 2007 by dearestmask

TENTANG KARAKTER FAHRI
Piramid_senja

Ini Film ketujuh setelah ‘Get Married’ dan ‘ Ledhek’. Dua-duanya akan
rilis lebaran ini. Ayat-ayat Cinta di proyeksikan untuk Idul Adha,
Natal dan Tahun Baru. Bisa kebayang bukan siapa yang akan menonton film
ini.

Membaca
Novel Ayat-Ayat Cinta, membuat saya mengantuk hingga setengah buku.
Kantuk itu hilang pada saat bab mulai mengarah ke konflik. Yaitu ketika
Fahri difitnah, masuk penjara dengan vonis mati, lalu seorang gadis
kristen koptik bernama Maria datang menyelamatkan dengan ’syarat’ kalau
dia harus dinikahi dulu. Padahal Fahri saat itu sudah beristeri seorang
gadis Turki-Jerman, Kaya dan cantik bernama Aisha. Kenapa mendadak saya
tidak mengantuk? Buat saya disitulah letak religiusnya. Buat saya,
religius bukan semata-mata mulut berucap doa dan puja-puji kepada
Tuhan; religius juga bukan aktifitas menyeru tentang kebaikan di atas
mimbar, di TV, Radio atau majalah sambil berdendang asik dengan
ayat-ayat Quran dan Hadist.  Bagi saya, religius adalah ketika manusia
berada dalam kesadaran penuh atas ketidaksempurnaan. Ketidaksempurnaan
itu membuat manusia merasa dirinya tolol, merunduk, bersujud dan …
bertawaqal. Saya merasa pada saat itu Fahri menjadi tokoh yang sangat
saya cintai. Sebelumnya, Fahri adalah malaikat. Fahri adalah lelaki
sempurna, yang menurut saya, tidak ada di dunia ini. Sekalipun
Habiburrahman bilang sosok Fahri banyak kita temui di Cairo, saya tetap
tidak percaya. Saya memang melihat banyak Fahri disana. Seorang dengan
pengetahuan agama Islam tinggi. Seorang rendah hati, pejuang hidup,
sederhana dan pintar. Sekalipun saya meragukan kemampuan menguasai 4
bahasa (Inggris, Jerman, Arab dan Indonesia) sekaligus.  Keraguan saya
juga bertambah ketika dirinya  dicintai oleh 4 orang gadis cantik
dengan karakteristik berbeda-beda: Maria, seorang gadis cantik, pintar,
kritis, sekalipun seorang kristen tetapi sangat mengagumi Al quran.
Nurul, seorang gadis Indonesia, anak kyai besar di Jombang, seorang
ketua Widah (sebuah perkumpulan anak-anak Al Azhar di Cairo), cantik,
sederhana dan tentunya pintar. Lalu Noura, seorang gadis mesir yang
dianiyaya ayahnya, dipaksa dijual menjadi pelacur. Juga seorang gadis
cantik dan pintar. Terakhir, Aisha, seorang gadis keturunan
Jerman-Turki-Palsetina. Sebuah paduan sempurna yang saya tidak perlu
menjelaskan seperti apa bentuknya. Pastinya  Cuantiik nemen rek,
begitu kata orang jawa timur. Tidak hanya itu, dia juga kaya raya,
setia, pintar dan solehah. Bahkan Aisha juga seorang perempuan yang
merelakan suaminya untuk poligami. Duhai, lelaki mana yang tidak jatuh
hati sama perempuan macam Aisha? Dan Fahri, tokoh ciptaan kang Abik
yang mendapatkan hidayah itu. Bagi kang Abik, Aisha adalah bidadari
yang pantas buat Fahri yang ’sempurna’. Sungguh, saya tidak tahan
melihat sosok Fahri yang tanpa cacat itu.

Seorang kreator
adalah Tuhan bagi ciptaannya. Tidak hanya di film, dalam ranah sastra,
apalagi sastra modern, seorang penulis memiliki hak penuh (sebagaimana
Tuhan) untuk menciptakan karakter, set dan cerita. Tapi masalahnya
kreator bukan sepenuhnya Tuhan. Kreator punya tanggungjawab meyakinkan
penonton atau pembaca perihal karakternya. Ada logika ‘Ruang-Lingkup’
yang dihadirkan untuk mewujudkan kesinambungan dunia realitas karakter
dengan dunia realitas penonton ataupun pembaca. Dalam hal ini, Kang
Abik menciptakan tokoh Fahri yang jauh dari logika ‘Ruang-Lingkup’
tersebut, setidaknya cuma bab-bab awal sampai tengah. Selebihnya, Fahri
menjadi manusia biasa. Hal itu yang membuat saya tertarik.

Oleh
sebab itu pertama kali yang saya dan Salman Aristo lakukan sebelum
membuat film Ayat-Ayat Cinta, adalah membongkar tokoh Fahri. Itikad ini
saya lakukan bukan saya tidak respect dengan tokoh Fahri ciptaan kang
Abik. Melainkan justru saya ingin Fahri menjadi representasi lelaki
muslim. Representasi penonton.

Di dalam Novel digambarkan,
Fahri adalah seorang lelaki yang tidak hanya soleh. Tapi juga seorang
pemimpin Flat, panutan, kakak bagi yunior-yuniornya, seorang yang
optimistik dan percaya diri, ganteng dan pintar (menguasai 4 bahasa).
Apabila tokoh seperti ini dijabarkan lewat tulisan, akan dengan mudah
menarik simpatik pembaca. Tapi jika di visualkan? Mari kita lihat Ongky
Alexander di Catatan si Boy, atau Sakhru khan di film-film India.
Apakah saya akan membuat film yang meletakkan karakter dalam dunia
mimpi seperti sinetron-sinetron Indonesia? Tentu saja Tidak.

Fahri di Film Ayat-Ayat Cinta adalah sosok yang lugu, ragu dan tidak terlalu percaya diri. Lugu mencerminkan sifat sederhana dan apa adanya. Tidak neko-neko. Ragu
lebih kepada sikap yang selalu hati-hati. Karena itu Fahri selalu dekat
dengan Quran dan Hadist. Setiap menghadapi persoalan, Fahri bukan
seperti superman yang mendadak menjadi jagoan. Justru sebaliknya, Fahri
sangat hati-hati dan tidak show off. Hal ini tampak nanti pada saat
adegan di Metro. Di Novel, saya mendapatkan kesan Fahri seorang jagoan,
seorang Nabi yang sedang memberikan wejangan umatnya. Saya tidak bisa
membayangkan jika itu di filmkan.  Pasti jadinya akan seperti sinetron
religius yang berisi ceramah-ceramah secara verbal. Karena Film adalah
bahasa Visual, maka saya menghindari verbalitas. Di Film, Fahri menjadi
lelaki sederhana yang terlibat pertengkaran hanya karena membela
seorang perempuan. Quran dan Hadist menjelaskan itu yang memberikan
alasan Fahri bertindak. Tentu saja tidak menjadi pendekar Silat.
Melainkan sebagaimana dirinya yang sekolah di Azhar, Fahri mencoba
menjelaskan perihal adab seorang Muslim menghadapi Tamu (ahlul zimah)
yang senantiasa dilindungi kehormatannya. Tapi karena sikap Fahri yang
lugu menghadapi lelaki Arab besar yang emosional, Fahri justru
mendapatkan pukulan karena dianggap SOK TAHU dan SOK PINTAR. Bibir
Fahri sedikit berdarah akibat pukulan itu. Pada saat itulah Fahri
justru mendapatkan simpatik dari  Aisha-Alicia dan penumpang Metro.
Simpatik itu bukan karena Fahri bisa meredamkan emosi orang Arab
sebagaimana di Novel. melainkan karena keberanian fahri menghadapi
persoalan sekalipun kalah. Adegan itu juga meletakkan sosok Fahri
sebagai manusia yang tidak sempurna, bisa berdarah dan lemah. Buat
saya, ini lebih realistis.

Oleh sebab itu pemilihan Fedy Nuril
menjadi Fahri adalah hal yang menurut saya tepat. Dalam diri Fedy ada
keraguan dan kepolosan. Fedy bahkan tidak mengerti bagaimana meletakkan
kakinya pada saat tahiyat akhir. Tapi justru dengan begitu, Fedy
terlihat berusaha. Fedy yang tidak sempurna mencoba belajar menjadi
sempurna. Kebanyakan yang casting menjadi Fahri, salah menafsirkan
Fahri sebagai sosok religius. Mereka menampilkan diri mereka sangat
suci. bahkan ketika melantunkan satu ayat, terlalu over dramatic
sebagaimana ustadz-ustadz yang ada di TV dan Radio. Padahal tanpa
mereka berbuat begitupun, sesungguhnya ayat Quran sangat Indah dan
menyentuh hati.

Di Flatnya, dalam Novel ditulis kalau Fahri
seorang pemimpin sekligus abang bagi yunior-yuniornya. Terus terang
saya sangat risih dengan tingakatan Senior-Junior. Hal ini menampakkan
sisi feodalisme yang justru bukan ciri Islam. Padahal saya kerap
menemui itu di pesantren-pesantren. Di Film, saya menempatkan Fahri
tetap seorang pemimpin Flat yang bertanggungjawab atas kebersihan dan
kelangsungan aturan di Flat. Tapi bukan seorang Senior yang men jadi
panutan seperti seorang kyai menjadi panutran Santri. Sosok Saiful yang
di gambarkan kang Abik sebagai Yunior, justru saya tempatkan menjadi
sparing partner Fahri. Tingkat pendidikan Saiful sama dengan Fahri.
Keduanya sama-sama belajar agama. Bedanya, Fahri terlihat sebagai
karakter yang konservatif, Saiful justru lebih moderat. seperti Gus Dur
dan Gus Solah (solahudin Wahid). Gus Dur yang kadang nyeleneh dan
berani adalah Saiful, Gus Solah yang hati-hati dan cenderung lurus
adalah Fahri. Dengan demikian, Fahri tidak menjadi sosok paling benar
di Flatnya. Saiful menjadi teman tidak hanya dalam diskusi Islam,
tetapi teman curhat ketika Fahri mendapatkan masalah. Pada saat Syeh
Ustman menawari talaqi ke Fahri. Saiful yang diajak bicara. Begitu juga
saat Fahri di fitnah dan masuk penjara. Saiful menjadi sahabat setia.

Perobahan
karakter tersebut didasari atas berbagai pengamatan kami terhadap
penonton Indonesia. Sudah jarang kita temukan film-film sekarang yang
menempatkan sosok seperti si Boy dalam Catatan Si Boy. Film paling
laris Indonesia Ada Apa Dengan Cinta yang melahirkan idola Nikolas
Saputra, juga bukan seorang yang sempurna. Lelaki tanpa teman, sinis,
terkesan kasar sama perempuan, hanya punya seorang ayah yang hidup
dalam idealismenya, tetapi memiliki kelembutan dan cinta yang tulus.
Kesempurnaan di era paska reformasi justru menjadi pertanyaan. Bahkan
di negara berkembang sekalipun.

Saya mempunyai harapan film
ini tidak hanya sekedar film alternative di tengah bombardir Horor dan
roman cinta remaja. Film ini saya harapkan menjadi citra muslim di
Indonesia bahkan Internasional. Bahwa Islam adalah agama penuh cinta
kasih. Penuh perenungan atas ketidaksempurnaan manusia-manusia muslim
didalamnya. Bukan justru sebaliknya, radikal, terlalu meyakini atas
kebenaran, dan tidak toleran.

Wala tusho’ir khaddakallinas, wa la tansyi fil ardhi maroha, Innalloha la yuhibbu kulla mukhtalin fakhur’ (Lukman 18)


Dan janganlah kamu memalingkan wajahmu dari manusia, dan janganlah
berjalan di bumi dengan Angkuh. Sungguh Alloh tidak menyukai orang yang
sombong dan membanggakan diri …

WORKSHOP

March 12th, 2007 by dearestmask

Sebuah catatan kecil dari Workshop Penyutradaraan …

5 hari sudah lewat. 5 hari yang gak pernah bisa aku lupakan. Mereka datang dari jauh. Surabaya, Bogor, bahkan Bantul-Jogjakarta (juga korban gempa jogja 9 bulan silam). Mengharukan. Selama lima hari itu aku benar-benar disadarkan bahwa membuat film merupakan aktifitas melelahkan dan membosankan. Tampak dari wajah-wajah mereka yang semakin memucat ketika melakukan praktek shooting film pendek. Tapi tidak ada yang mengeluh. Mereka tetap semangat. Sampai lupa waktu makan. Sampai mbak Maya (koordinator Workshop) harus teriak-teriak menyuruh makan. Akhirnya, setelah beberapa hari yang melelahkan itu, kami bisa melihat hasilnya. Diluar dugaan! Mereka membuat film lebih baik dari aku saat semester dua di IKJ. Padahal tugas yang aku berikan sama dengan yang pernah aku dapat di semester 2. Yaitu membuat film pendek durasi 5 menit, dengan kamera handycam, tanpa suara, dengan edit di kamera. Semula mereka sulit memahami sebuah film yang dibuat tanpa suara dan diedit  di kamera. Tapi setelah mereka melakukan, mereka menjadi mengerti bahwa awal pertama kali film ditemukan belum ada teknik suara dan editing.

Bts15_93_8‘Mencoba memahami film dalam arti yang sebenarnya’ adalah motto yang sengaja aku berikan di Workshop.  Penting untuk dipahami bahwa Film bukan hanya yang diproduksi Hollywood, Sinemart, Miles, Rexinema, Star Vision atau Multivision. Film juga bukan hanya yang ada di gedung bioskop 21 yang apabila kita menonton harus bayar tiket. Tapi Film, adalah bahasa gambar (dan suara). Seperti kita menulis surat cinta. Jika kebiasaan kita menulis menggunakan kata-kata, maka di film, sutradara menulis dengan kamera, tata cahaya, aktor, props dan Suara. Tentunya mau tidak mau aku harus memulai workshop itu dengan sejarah film. Wuih! Hari pertama yang melelahkan dan membosankan, buatku. Bicara sejarah film dan teori film dalam waktu 5 jam. Materi yang pernah aku dapatkan selama 8 semester di IKJ, di kerutkan dalam 5 hari. Sangat ambisius! Tidak heran jika temen-temenku menilai workshopku ini sia-sia. Buang-buang waktu dan uang.  Tapi biarlah. Aku yakin mereka bukan anak bodoh. Mereka sadar bahwa workshop bukan jalan pintas menuju sukses. Gurumu adalah dirimu sendiri, begitulah Teguh Karya selalu bilang ke semua murid-muridnya. Termasuk bilang ke aku. Jadi dalam workshop, aku bukan guru, sekalipun aku menyampaikan materi. Ketika mereka sukses membuat film, bukan karena aku. Tapi karena mereka punya bakat dan ketekunan. Aku … hanya perangsang saja.

Aku bilang ini awal yang mengagumkan. Selanjutnya, aku berharap akan ada terus. Tentunya tergantung apakah workshop ini ada peminatnya. Sebab ada beberapa teman dan calon peserta mengeluh dan nyinyir kenapa harus membayar 1,5 juta. Yah, aku harus minta maaf dengan sangat. Ada yang bilang Uang bukanlah ukuran keberhasilan. Puluhan pengangguran di Indonesia bukan didominasi mereka yang tidak berpendidikan. Banyak juga yang sarjana. Artinya, ada pengorbanan materi untuk ‘Pendidikan’. Dalam Formal maupun non Formal. Bukan tidak pernah sama sekali aku mengajar tanpa di bayar. Pernah aku sampai Makasar maupun Banjarmasin untuk mengajar tanpa bayaran. Hanya transportasi, hotel dan makan saja yang ditanggung. Pernah juga aku membuka kelas gratis di Dapur Film Community. Ah, kita tidak akan pernah selesai secara bijak jika melihat sesuatu diukur dari besar kecilnya materi. Toh, uang 1,5 juta juga akan kembali ke peserta dalam bentuk sewa kamera, makan-minum dan kelas yang layak. Justru dengan membayar 1,5 juta, para peserta menjadi semangat. Karena pernah terjadi ketika aku buka kelas gratis di Dapur Film Community peserta menjadi tidak serius. Datang terlambat. Selalu beralasan jika tidak datang. Ah, sekali lagi, kita tidak akan pernah selesai dengan bijak jika mengukur segala sesuatu berdasarkan besar kecilnya materi.

5 hari sudah lewat bersama peserta. Sebentar lagi mereka akan mendapatkan sertifikat dan kesempatan magang di film-filmku. Mereka juga bisa belajar film di tempat lain atas rekomendasiku. Mereka bukan lagi orang baru di film dengan pemahaman Nol. Hal ini tentunya akan mempermudah produksiku maupun produksi yang lain dimana nantinya mereka akan magang. Jujur saja, kadang aku direbetkan sama anak-anak magang yang tidak tahu apa-apa tentang film. Oleh sebab itu workshop ini dibuat. Salah satunya sebagai pra kondisi bagi mereka yang akan magang. Usai workshop bukan berarti selesai Tanya-jawab. Selesai belajar. Bagi yang memilih tidak magang tapi langsung membuat film sendiri, aku akan dengan senang hati menjadi tempat bertanya. Bukankah esensi belajar itu justru di Tanya-Jawab itu sendiri? Menurutku, itulah makna sebenarnya sebuah Workshop.

INI BUKAN (sekedar) PENJIPLAKAN!!!

February 2nd, 2007 by dearestmask

    Hentikan perdebatan soal jiplak menjiplak sebuah karya.
Beberapa media telah mencatat pengembalian piala Citra di Taman Ismail marjuki,
awal tahun 2007, oleh Masyarakat Film Indonesia (MFI) sebagai sebuah bentuk
protes atas film terbaik Festival Film Indonesia (FFI) 2006, Eskul, yang dianggap menjiplak karya
film lain. Hasil pemberitaan tersebut membuat bias yang mengakibatkan
masyarakat menganggap protes tersebut sebagai tindakan kekanak-kanakan,
gegabah, tidak bersahaja dan mencorengkan citra perfilman Nasional yang sedang
bangkit ini.
     Perlu
digaris bawahi, bahwa protes tersebut bukan semata-mata penjiplakan.
Penjiplakan alias plagiatisme (plagiarism)
merupakan aktifitas menggunakan karya seseorang (using someone else’s work) tanpa mencantumkan nama pencipta
aslinya. Biasanya hal ini muncul dalam lingkup akademi. Suatu contoh, seorang
siswa menggunakan karya shakespeaer baik itu untuk karya tulis (sastra), film
maupun TV, tanpa mencantumkan nama Shakespeare didalamnya, sudah dianggap
tindakan plagiat. Sekalipun karya-karya Shakespeare termasuk karya yang sudah
menjadi milik public (public domain). Jadi
dalam hal ini pengertian penjiplakan tidak bisa dimaknai sebagai kemiripan.
Apalagi adaptasi. film Departed (2006) sutradara
Martin scorcese yang merupakan bentuk klarya adaptasi dari Mou Gaan Dou (Infernal Affairs-2002) sutradara Wai Keung Lau-Siu
Fai Mak tidak bisa dibilang penjiplakan alias plagiatisme. Juga
tayangan-tayangan sinetron yang memiliki ‘kemiripan’ dengan serial Hongkong, India ataupun Korea
tidak bisa dibilang menjiplak, karena produser membayar hak cipta tersebut.
Menuduh karya menjiplak, plagiat, membutuhkan kehati-hatian.
    Jika bukan penjiplakan, lantas apa? 
    Sejak saya
menyaksikan film Eskul jauh sebelum FFI 2006 diselenggarakan, saya sudah
menangkap adanya Pelanggaran hak cipta (Copyright
Infringement)
dalam film tersebut. Berbeda dengan plagiarism, dalam
pelanggaran hak cipta ditekankan soal karya yang sudah di patenkan (copyrighted). Karya-karya tersebut bisa
dalam betuk buku, novel, esai, web page, lagu, film maupun video yang secara
resmi sudah di berikan legalitas hak paten. Jadi ketika seseorang menggunakan
karya tersebut tanpa ijin dari pemegang hak paten, maka tindakan tersebut
merupakan sebuah pelanggaran hak cipta. Film Eskul produksi Indika Entertainment, menurut saya, telah mengambil music scorring beberapa film Hollywood
dan Korea yang sangat terkenal. Diantaranya adalah Gladiator (Universal Pictures), Born
Supremacy (Universal Pictures), Taeguki (Kang Je-Kyu Film). Beberapa film
tersebut beredar di bioskop 21 dan sudah tersedia dalam bentuk DVD dan VCDnya.
Kira-kira dua minggu setelah tuntutan MFI dibacakan, pihak Universal Music
sudah melayangkan surat somasi kepada PT Indika yang berarti sudah adanya
kejelasan soal pelanggaran hak cipta tertsebut. Jadi ini bukan sekedar penjiplakan, apalagi mirip, sama persis
ataupun adaptasi.
    Penggunaan scoring music dari film lain, oleh
beberapa film editor memang menjadi
bagian dari proses kreatif suatu
produksi film. ketika editor melakukan off
line
editing biasanya memakai music
scoring
film lain seperti Gladiator,
Narnia, Taeguki, Born Supremacy, Black Hawk Down
dan sebagainya, sebagai guidance. Musik tersebut disamping turut
andil dalam menentukan ritme film, juga sebagai reference bagi penata musik (music director) dalam melakukan
kerjanya. Setelah sutradara dan producer menetapkan final edit, music tersebut dicabut dan diganti dengan komposisi
dari penata musik yang sudah ditunjuk. Keterlibatan penata musik tidak sekedar
mencontoh music reference tetapi
membangun suasana (mood ) dan
memberikan value pada setiap scene
lewat kemampuannya memilih instrument yang pas. Tan Dun cukup menggunakan satu
instrument Cello saja untuk memberi value
pada adegan penculikan putri Jen Yu (Yiyi Zhang) dalam film Crouching Tiger
Hidden Dragon (Ang Lee). Toru Takemitsu hanya
menampilkan suara seruling panjang pada adegan cukup menegangkan saat tiga
bersaudara Saburo (Daijuke Ryu), Jiro
(Jinpachi Nezu), dan Taro (Akira Terao)
saling berperang dalam film RAN
(Akira Kurosawa). Bahkan dalam film-film Frederico Fellini (Italia) sering
ditemui musik-musik aneh, seperti gamelan Bali dalam film bernuansa Romawi kuno berjudul Satricon.
Hal itu memberi gambaran penata musik sebuah film secara professional memiliki
andil besar menentukan eksistensi film tersebut. Oleh sebab itu wajar jika di
sebuah ajang festival film posisi penata musik mendapatkan penghargaan
tersendiri. Termasuk Festival Film Indonesia itu sendiri.
    Akan tetapi,
Jika perhelatan akbar dan bergengsi seperti FFI menganugerahi gelar terbaik
terhadap sebuah karya yang didalamnya terdapat unsur pelanggaran hak cipta: ‘Mencomot’
dan ‘tidak mencipta secara kreatif’; maka sama saja FFI tidak memberikan
penghargaan kepada profesionalisme. Jika begitu, tidak perlu lagi ‘kreatifitas’
dalam membuat film, karena ‘mencomot‘ dianggap yang terbaik bagi negeri ini
(mengingat FFI mencantumkan nama ‘Indonesia’ untuk menekankan eksistensi
Festival Filmnya).
    Tentunya hal ini tidak bisa dibiarkan begitu
saja. FFI bukan Festival yang exist
dalam 2 tahun ini, melainkan sudah
menjadi bagian dari sejarah perfilman Nasional. Terlepas dari segala
kekurangannya, FFI dicatat pernah melahirkan sineas besar seperi Usmar Ismail,
Syumanjaya, Teguh Karya, Slamet Raharjo, Idris Sardi, Christine Hakim, Yenny
Rachman, Alex Komang, Garin Nugroho, dan
sederet nama besar sineas Indonesia lainnya. Karena itu FFI seharusnya menjadi
tolak ukur bagi masyarakat dalam mengapresiasi film Nasional. Bukan justru
sebaliknya. Apapun dalihnya, penganugerahan gelar Film Terbaik kepada Eskul, telah mencorengkan
profesionalisme yang telah dibangun sejak era Usmar Ismail hingga sekarang.
    Oleh sebab
itu di salah satu clousure pernyataan
sikap MFI, menuntut kepada penyelenggara FFI 2006 untuk mencabut gelar tersebut.
Tuntutan pencabutan itu sangat penting, pertama,
mendudukkan kembali citra FFI menjadi sebuah event yang benar-benar menghargai kreatifitas dan profesionalisme
film Indonesia, sekaligus
menjadi tolak ukur apresiasi film bagi masyarakat Indonesia. Kedua, memberikan wacana kepada masyarakat (dan juga sineas) bahwa
kreatifitas dan profesionalisme merupakan pijakan yang harus dijunjung tinggi
dalam memproduksi sebuah film. Karena film adalah sebuah produk budaya yang di
dalamnya tidak hanya estetika yang diolah, tetapi juga wacana membangun
pendidikan multikultur, menanamkan demokratisasi dalam berfikir, berbicara dan
bertindak. Karena itu sebuah pelanggaran hak cipta dalam proses kreatif sebuah
film menjadi sebuah Noda. Sekali lagi, Ini bukan sekedar penjiplakan. Ini
sebuah pelanggaran hak cipta! Cabut gelar itu. Lindungi profesionalisme dan
kreatifitas!